Kamis, 21 Agustus 2014

Pesantren Sunan Drajat Dikenal Pemimpin Hindu Hingga Politisi

Rabu, 30 April 2008 16:51 WIB | 6.577 Views
Menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden 2009, Pondok Pesantren Sunan Drajat di Paciran, Lamongan, Jawa Timur semakin ramai dikunjungi para politisi.

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu, juga melakukan safari politik di Pesantren yang dipimpin KH Abdul Ghofur itu.

Prabowo Subianto, yang belakangan sering tampil lewat iklan layanan masyarakat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), bahkan tidak hanya sekali berkunjung ke pesantren yang memiliki 8.000 santri itu.

"Ponpes kami terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang dari mana asal parpolnya," kata Pimpinan Ponpes KH Abdul Ghofur kepada ANTARA News seusai menerima mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Selasa (29/4).

Sama halnya dengan Megawati Soekarnoputri, kunjungan Sutiyoso didahului dengan berdialog dengan para petani dan nelayan di wilayah Paciran dan sekitarnya.

Di Ponpes Sunan Drajat, Sutiyoso berkeliling asrama yang berdiri di atas tanah seluas 14 ha, melihat sumur peninggalan Sunan Drajat, yang berada di dalam Masjid, berziarah ke makam Sunan Drajat, hingga melihat tumbal Cakra yang ditanam di Masjid Induk Pesantren Sunan Drajat.

Tumbal cakra ditanam persis ditengah-tengah Masjid Induk dengan tanda warna hijau berdiameter sekitar 15 cm, menancap di keramik masjid.

Sejarah penanaman tumbal Cakra ini, sebagaimana diungkapkan Abdul Ghofur, atas inisiatif seorang pemimpin spiritual asal India yang beragama Hindu bernama, Parabhattaraka Shri Ananganandha Padha Theertha pada tahun 1999.

Berdasarkan versi pemimpin Hindu tersebut, konon sekitar 500 tahun yang lalu telah diadakan perjanjian antara tokoh Islam Syeh Subakir dengan pemimpin umat Hindu di India.

Perjanjian tersebut diantaranya berisi, "tanah Jawa yang semula masyarakatnya beragama Hindu diserahkan kepada tokoh Islam Syeh Subakir".

"Bangunan masjid juga harus berdampingan dengan arsitektur umat Hindu yaitu menara, agar tanah Jawa bisa aman," katanya.

Karena itu, setelah 500 tahun perjanjian itu harus diperbaharui dan pilihan lokasi pemasangan tumbal diletakkan di tempat peninggalan para wali yang masih tersisa.

"Kata pemimpin Hindu itu kalau tumbal tidak dipasang, akan terjadi bencana dan korbannya delapan juta orang di tanah Jawa akan meninggal," katanya.

Meski sedang sakit, Parbhattaraka Shri Ananganandha Padha Theertha datang ke Pesantren untuk memasang tumbal Cakra. Dan peresmian tumbal Cakra, kata Abdul Ghofur, dilakukan langsung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasa menjabat sebagai Presiden RI.

Abdul Ghofur mengaku tidak tahu pasti tentang kebenaran tumbal Cakra itu. Karena kenyataannya di Indonesia secara beruntun telah terjadi berbagai bencana mulai gempa di Jawa Tengah, tsunami di Aceh, hingga lumpur Lapindo.

Masih berkaitan dengan bencana, ternyata dua tahun yang lalu utusan pemimpin Hindu di India tersebut melalui utusannya, Pidaharan datang ke pesantren. Pesannya, Abdul Ghofur diminta datang ke India, untuk meminta doa kepada seseorang yang doanya dianggap paling mujarab sedunia.

"Tujuannya agar tanah Jawa yang dulu masyarakatnya beragama Hindu bisa aman," katanya. Abdul Ghofur yang setengah tidak percaya melapor kepada Sekkab Jawa TImur, Soekarwo, dan akhirnya ia berangkat ke India.

Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan di tengah hutan di perbatasan Pakistan, Abdul Ghofur dengan diantar pemimpin Hindu tersebut bertemu dengan seorang laki-laki berambut putih berbaju putih.

Melalui pemimpin Hindu tersebut, disampaikan permintaan doa keamanan di tanah Jawa. "Orang itu berulang kali hanya menjawab Ya Allah Ya Shomad yang artinya semua itu dari Allah," kata Abdul Ghofur menirukan ucapan orang tua itu.

Pondok pesantran Sunan Drajat merupakan satu-satunya pesantren peninggalan wali di tanah Jawa yang masih tersisa. Sedangkan delapan wali lainnya, hanya menyisakan makam.

Dianggap satu-satunya peninggalan wali, karena hingga sekarang ini Ponpes Sunan Drajat, masih dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan belajar mengajar Agama Islam.

Mulai TK hingga Universitas dengan jumlah siswa dan mahasiswa sekitar 8.000 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia.

"Dulu di sinilah Sunan Drajat mengajar para santrinya," kata Abdul Ghofur kepada Sutiyoso yang diajak melihat masjid Sunan Ampel.

Abdul Ghofur mengungkapkan pesantren Sunan Drajat didirikan Sunan Drajat pada 1460.

Kini pesantren Sunan Drajat telah berubah menjadi pesantren megah, yang pembangunannya menghabiskan dana Rp150 miliar, termasuk di dalamnya pemancar radio FM.

Di samping membangun gedung sekolahan, gedung asrama para santri termasuk membangun Masjid Induk yang arsitekturnya mirip Taj Mahal. Para guru yang mengajar di pesantren itu juga mendapatkan fasilitas perumahan.

Prasarana dan sarana pendidikan di Pesantren Sunan Drajat, lanjut Abdul Ghofur, dibangun dari berbagi usaha yang dikembangkan pesantren, seperti usaha sirup Mengkudu, yang pemasarannya hingga ke Jepang, peternakan sapi, hingga pembuatan pupuk organik.

"Tidak ada sepeserpun yang menarik iuran dari wali murid," ujarnya.

Abdul Ghofur juga sedang mengembangkan tanaman kemiri Sunan. Kemiri Sunan, katanya, bisa dimanfaatkan untuk BBM, lebih bagus dibandingkan dengan tanaman jarak.

"Kalau ini berhasil, Indonesia tidak harus mengambil migas dari dalam perut bumi, tetapi memproses dari kemiri Sunan yang usianya bisa ratusan tahun, " katanya. (*)

Editor: Bambang

COPYRIGHT © 2008

Komentar Pembaca