Wapres : Ketidakadilan Penyebab Paling Mendasar Konflik

Rabu, 7 Mei 2008 11:49 WIB | 1409 Views

Berita Terkait
Jakarta (ANTARA news) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan penyebab terjadinya berbagai konflik di Indonesia yang paling mendasar adalah perasaan ketidakadilan.

"Penyebab konflik bisa karena alasan politik, ekonomi, ras dan sebagainya. Tetapi ada sesuatu yang mendasar yaitu adanya perasaan ketidakadilan," kata Wapres Kalla saat menjadi pembicara utama dalam seminar Peace Processes in Indonesia" di Jakarta, Rabu.

Seminar yang diselenggarakan oleh Institute Perdamaian Indonesia (IPI) juga dihadiri oleh oleh mantan Presiden Finlandia, Marti Ahtisaari, mantan PM GAM Tengku Malik Mahmud, dr Abdullah Zaini dan tokoh-tokoh perdamaian lainnya.

Wapres menjelaskan akar masalah konflik di Poso akibat perebutan posisi kepala daerah, yakni dalam pilkada bupati 1998.

"Awalnya adalah politik. Karena perebutan wakil bupati," kata Wapres

Menurut Wapres, sebelum adanya pilkada, selalu diatur harmonisasi antara kedua kekuatan, yakni jika bupatinya dari Islam, maka wakilnya dari Kristen, dan sebaliknya.

"Nah dengan demokratisasi, pilkada langsung, maka the winner take all. Sehingga yang menang ambil semua. Kepada dinasnya Islam dan sebagainya," kata Wapres.

Dalam pilkada saat itu, yang memenangi suara mayoritas adalah pasangan bupati dan wakil yang sama-sama berasal dari kubu Islam. Padahal dalam sejarahnya wilayah Poso mayoritas Kristen. Dan karena perkembangan, maka menjadi seimbang.

"Dengan keadaan seperti itu masyarakat Kristen merasa termarjinalkan( terpinggirkan, red). Ada merasakan ketidakadilan," kata Wapres.

Dan pada saat yang sama juga terjadi kemerosotan ekonomi. Dalam sejarahnya Poso mengalami masa kejayaan ekonomi sebagai penghasil cengkeh. Namun setelah cengkeh dimonopoli oleh Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) akhirnya mengalami kemerosotan. Padahal, tambah Wapres, hampir 70 persen di wilayah komunitas Kristen.

"Jadi ini hasil demokrasi yang terlalu bebas. Ini ekses dari perubahan demokrasi yang terlalu cepat. Secara tiba-tiba, sehingga orang tidak bisa menerima kenyataan," kata Wapres.

Hal yang sama juga terjadi di Ambon maupun Aceh. Menurut Wapres, perasaan ketidakadilan ekonomi menjadi persoalan utama.

Wapres juga menjelaskan keterlibatannya dalam penyelesaian konflik terjadi secara tidak sengaja. Pada waktu terjadi kerusuhan Poso dan Ambon, Wapres mengaku saat itu menjabat sebagai Menko Kesra. Karena itu, tambahnya ,ia bertanggung jawab dalam penanganan pengungsi.

"Saat ini ada 1,5 juta orang pengungsi di dalam negeri. 300 ribu di Poso, 500 ribu di Ambon dan di NTT maupun Kalimantan," kata Wapres.

Semua pengungsi itu akibat konflik, dan jika konflik tidak diselesaikan, maka pengungsi akan terus bertambah. Karena itulah, tambah Wapres, ia mulai mencari jalan keluar untuk menyelesaikan konflik. (*)

COPYRIGHT © 2008

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Komisi IV bahas perkebunan

Komisi IV bahas perkebunanKomisi IV DPR RI akan memberikan kewenangan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mengelola industri perkebunan ...

Wamendagri Arab Saudi kunjungi lokasi bantuan

Wamendagri Arab Saudi kunjungi lokasi bantuanWakil Menteri Dalam Negeri Arab Saudi Abdulrahman Ar Robiian berkunjung ke Provinsi Aceh untuk melihat langsung ...

Kapolda Jambi: tidak ada pungutan dalam penerimaan polisi

Kapolda Jambi: tidak ada pungutan dalam penerimaan polisiKapolda Jambi Brigjen Pol Satriya Hari Prasetya menegaskan tidak ada pungutan alias gratis dalam proses penerimaan ...