Permintaan Tekstil Domestik Turun 27 Persen

Selasa, 3 Juni 2008 19:29 WIB | 560 Views

Jakarta (ANTARA News) - Permintaan tekstil dan produk tekstil (TPT) di dalam negeri turun sekitar 27 persen pada triwulan I 2007 akibat menurunnya daya beli masyarakat menyusul inflasi yang meningkat.

"Penjualan dometik terutama garmen (pakaian jadi) turun karena konsumsi yang melemah," kata Direktur Eksekutif Indotextile Redma Gita Wirawasta, di Jakarta, Selasa.

Pada Januari-Maret 2008 penjualan TPT nasional mencapai sekitar 2,88 miliar dolar AS, dengan kontribusi terbesar berasal dari ekspor terutama ke Amerika Serikat (AS) dengan kontribusi sebesar 40 persen.

Penjualan TPT ke pasar ekspor terbesar lainnya adalah Uni Eropa (16 persen), Jepang (lima persen), dan kawasan ASEAN (tujuh persen).

Sedangkan kontribusi penjualan domestik hanya sekitar enam persen mencapai sekitar 0,16 miliar dolar AS. Jumlah tersebut turun 27 persen dibandingkan Januari-Maret 2007 yang mencapai sekitar 0,22 miliar dolar AS.

Redma memperkirakan pasar TPT nasional belum akan membaik sampai akhir tahun, menyusul adanya proyeksi Bank Indonesia (BI) mengenai inflasi di dalam negeri yang menyentuh dua digit.

Kendati demikian, ia mengatakan masih ada peluang peningkatan penyerapan TPT oleh pasar dalam negeri menyusul akan banyaknya kampanye yang dilakukan partai politik pada triwulan III tahun ini.

"Pasar domestik masih berpeluang menyerap TPT terutama untuk pakaian seragam dan batik, serta kaos berlabel distro. Selain itu di akhir tahun dan awal 2009 pasar akan diramaikan pembuatan atribut partai peserta pemilu," katanya.

Biasanya, lanjut Redma, permintaan kaos, bendera, dan rompi partai serta atribut lainnya untuk mendukung kampanye partai politik menjelang pemilihan umum (pemilu) legislatif 2009 akan mendongkrak peningkatan permintaan yang cukup signifikan.

Namun, ia juga mewaspadai masih adanya ancaman produk TPT impor terutama dari China yang murah, meskipun produk China mulai melemah daya saingnya menyusul naiknya biaya produksi di negara tersebut akibat kebijakan nilai tukar mata uang negara itu yang terbuka dan biaya buruh yang meningkat.

Lebih jauh, ia mengatakan peluang peningkatan pasar ekspor TPT Indonesia semakin terbuka, menyusul menguatnya nilai mata uang Euro terhadap dolar AS yang mendorong pembeli asing (buyers) di kawasan Uni Eropa (UE) meningkatkan pembelian ke negara yang menggunakan transaksi dolar, seperti Indonesia, Vietnam, dan India.

Selain itu, kata dia, Vietnam yang pertumbuhan ekspor TPT terutama garmen sangat tinggi mencapai sekitar 30 persen tahun 2007 membutuhkan sejumlah bahan baku, seperti kain dan benang dari Indonesia yang memiliki basis industri TPT yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Pada triwulan I 2008 ekspor TPT Indonesia tumbuh 5,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dari 2,45 miliar dolar AS menjadi 2,58 miliar dolar AS.

"Peluang ekspor TPT nasional semakin terbuka lebar untuk pasar UE dan Jepang, menyusul perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia - Jepang (IJEPA) maupun ASEAN-Jepang," kata Redma.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2008

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

BNI boyong perajin mitra binaan ke Inacraft 2014

BNI boyong perajin mitra binaan ke Inacraft 2014PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.  memboyong 29 perajin yang menjadi mitra binaannya dari kelompok usaha ...

Penghitungan suara pemilu pengaruhi bursa saham

Penghitungan suara pemilu pengaruhi bursa sahamKepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Semarang Stephanus Cahyanto Kristiadi mengatakan penghitungan suara ...