Minggu, 21 September 2014

Wagub: Pemadaman Listrik Bergilir Ganggu Perekonomian Sumbar

Rabu, 2 Juli 2008 20:40 WIB | 731 Views
Padang (ANTARA News) - Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Marlis Rahman, mengatakan, pemadaman listrik bergilir di daerah ini telah mengganggu perekonomian daerah dan kehidupan masyarakat serta dipastikan menimbulkan kerugian materi. "Akibat pemadaman bergilir ini, pasti merugikan dan berdampak pada perekonomian Sumbar", kata Marlis di Padang, Rabu. Mengenai nilai kerugian materi, menurut dia, belum bisa disebutkan jumlahnya dan Asisten II Pemprov Sumbar sedang menghitung-hitungnya. "Tapi pasti merugikan dan berdampak terhadap perekonomian Sumbar," tegasnya lagi. Ia menyebutkan contoh bidang usaha konveksi yang banyak di Sumbar, akibat seringnya listrik mati produksinya pasti menurun. "Apapun usaha sekarang ini pasti kena dampak. Penjual es saja kena dampak, karena listrik mati esnya mencair," kata Marlis. Ia menambahkan, kerugian juga dari rusaknya alat-alat elektronik akibat listrik mati mendadak yang tidak sesuai jadwal yang diumumkan PT PLN. Kalau di negara maju kerusakan akibat pemadaman listrik itu bisa dikomplain, tegasnya. Karena itu, jangan listrik langsung dimatikan, karena akan merusak alat-alat elektronik yang sangat sensitif, apalagi di Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, banyak alat-alat elektronik yang sangat sensitif dan harganya miliaran rupiah," katanya. Terkait kondisi PLN sendiri, Marlis Rahman mengatakan, "Mau bagaimana lagi, PLN itu kondisinya sudah begitu,". Kemampuan pembangkit PLN dan cadangan air yang ada juga terbatas, jadi tidak ada pilihan lain, karena kita sangat tergantung dengan itu (PLN, red), tambahnya. Ia menyebutkan, Pemprov Sumbar juga tidak bisa membantu PLN dalam hal ini. "Mau dibantu dengan apa, ini kan (PT PLN, red) perusahaan negara," katanya. Meski demikian, Marlis mengharapkan, ke depan Indonesia agar meniru negara maju agar kasus-kasus seperti ini bisa diantisipasi. "Tapi dengan kondisi ini membuat kita mengerti kalau sekarang ekonomi Indonesia sangat mengkhawatirkan," tambah Marlis Rahman.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2008

Komentar Pembaca
Baca Juga