Kamis, 31 Juli 2014

Dua Matahari Untuk Warga Muhammadiyah

Jumat, 11 Juli 2008 07:07 WIB | 988 Views
Jakarta, (ANTARA News) - Partai Amanat Nasional (PAN) yang dideklarasikan di Jakarta pada 23 Agustus 1988 tidak leluasa lagi menggunakan simbol-simbol maupun mengklaim diri sebagai partai politiknya warga Muhammadiyah, yang disebut sebagai ormas Islam terbesar kedua di Indonesia.

Setidaknya, kini bukan hanya PAN yang memberikan "matahari" kepada warga Muhammadiyah, karena ada Partai Matahari Bangsa (PMB) yang justru memakai "matahari" sebagai bagian namanya.

Bendera dua partai itu hampir mirip, bendera PAN bergambar matahari dengan warna biru dan PMB bergambar matahari dengan warna merah.

Sejak pembentukkannya yang dimotori Amien Rais, PAN selalu identikkan sebagai partainya Muhammadiyah, walau pun PP Muhammadiyah tidak pernah menyatakan dukungannya secara terbuka.

Kenyataan juga memperlihatkan, PAN mendapat sumbangan suara sangat banyak tiap-tiap Pemilu dari basis Muhammadiyah, seperti di sejumlah kota di Sumatera.

Tapi, sambutan dan dukungan PP Muhammadiyah terhadap PMB, secara kasat mata, lebih terang-terangan dan terbuka.

Setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Senin (7/7) malam menetapkan Partai Matahari Bangsa (PMB) sebagai salah satu dari 34 partai politik peserta Pemilu 2009, PMB langsung menegaskan diri sebagai partai alternatif warga Muhammadiyah.

Bertempat di Gedung Pusat Dakwah Muhammdiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (9/7), Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan dukungan penuhnya kepada PMB tatkala menerima rombongan pimpinan pusat PMB yang dipimpin Ketua Umum Imam Addaruqutni dan Sekjen Ahmad Rofiq.

Kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, walau tidak punya hubungan organisatoris tetapi PMB punya hubungan sosiologis, historis, dan kedekatan hati dengan warga Muhammadiyah.

"Sapalah warga Muhammadiyah dengan santun, jangan pernah berkhianat. Setiap parpol yang berkhianat kepada Muhammadiyah akan dijauhi warga Muhammadiyah," kata Din Syamsuddin.

Namun, Din tidak secara tegas menyebut parpol yang pernah berkhianat terhadap Muhammadiyah tersebut.

Ketika ditanya wartawan, apakah yang dimaksud itu adalah Partai Amanat Nasional (PAN), Din mengatakan, dirinya tidak bicara soal PAN, tetapi untuk semua partai yang pernah mengklaim dekat dengan Muhammadiyah.

Dulu, kata Din, banyak parpol yang mengklaim dekat dengan Muhammadiyah, tetapi pada kenyataannya tidak membela kepentingan Muhammadiyah dan tidak seluruhnya menampilkan nilai-nilai Muhammadiyah.

Menurut Din, nilai-nilai Muhammadiyah itu seperti nilai anti korupsi, anti suap menyuap, dan anti politik uang.

Pernyataan Din itu didukung Ketua PP Muhammadiyah KH Muhammad Muqaddas yang menegaskan bahwa PP Muhammadiyah setuju, mendukung dan akan memilih PMB pada Pemilu 2009.

"Dengan izin Allah SWT, kita berharap PMB akan menjadi partai yang besar," katanya.

Meskipun tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan Muhammadiyah, tetapi PP Muhammadiyah memperbolehkan warganya menjadikan PMB sebagai sarana perjuangan politiknya.

Sejak awal, posisi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah sudah jelas yakni tidak berafiliasi dengan partai politik manapun secara formal.

Garis politik Muhammadiyah tetap pada Khittah Muhammadiyah di Makassar, Sulsel, 1971, dan Khittah di Denpasar, Bali, 2002, yaitu tidak akan terjun ke politik praktis dan tetap sebagai organisasi kemasyarakatan yang memfokuskan diri di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Namun, kata dia, warga Muhammadiyah diperbolehkan masuk dan terlibat aktif dalam partai politik manapun sepanjang mengikuti ketentuan, yakni tidak boleh rangkap jabatan sebagai pengurus persyarikatan Muhammadiyah.

Berdirinya PMB bermula dari kekecewaan sejumlah kader dan tokoh Muhammadiyah terhadap proses pencalonan anggota legislatif pada Pemilu 2004 di PAN, yang salah satu pendirinya adalah tokoh Muhammadiyah HM Amien Rais.

Mereka menilai, proses pencalonan itu tidak aspiratif menampung kader Muhammdiyah.

Anak-anak muda Muhammadiyah yang tergabung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) kemudian mendeklarasikan berdirinya Perhimpunan Amanat Muhammadiyah (PAM) pada 9 Maret 2005 di Jakarta, yang menjadi cikal bakal berdirinya PMB.

Berdirinya sebuah partai baru sebagai partai alternatif bagi warga Muhammdiyah itu sudah mendapat restu dari PP Muhammadiyah, tatkala Sidang Tanwir Muhammadiyah di Mataram, NTB, akhir 2004, yang merekomendasikan kepada AMM untuk melakukan pengkajian mendalam mengenai kemungkinan pembentukan partai politik.

Hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah itu antara lain mengeluarkan panduan berpolitik dan mengintensifkan pendidikan politik bagi warga persyarikatan disertai dengan peningkatan peran dan fungsi lembaga Hikmah Muhammadiyah.

"Tanwir berpandangan bahwa gagasan membentuk partai politik baru hendaknya dipertimbangkan secara lebih matang dan tidak terburu-buru karena pendirian partai baru harus didasarkan pada pemikiran yang mendalam dan bukan karena alasan kekecewaan atau sekadar keinginan untuk memperebutkan kursi kekuasaan politik," ujar Ahmad Syafi`i Ma`arif yang ketika itu masih menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah.


Target suara

PMB yang berasaskan Islam dan didirikan pada 26 November 2006 itu menargetkan meraih sebanyak 15 juta suara nasional khususnya dari warga Muhammadiyah.

"Massa solidnya dari Jambi dan Sumbar akan kami targetkan 15 juta suara seperti jumlah warga Muhammadiyah," kata Ketua Umum Imam Addaruqutni yang juga mantan Ketua Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).

Namun ketika ditanya kemungkinan PMB menjadi ancaman serius dan pesaing PAN, Imam secara diplomatis membantah hal tersebut.

"PAN tidak menjadi kompetitor, semua partai adalah kompetitor. Justru suara PAN tidak signifikan. PMB ingin merebut suara dari Partai Golkar dan PDIP," kanya.

Oleh karena itu, PMB akan mengoptimalkan seluruh jajarannya di daerah untuk menghidupkan mesin organisasi sebelum Pemilu 2009.

Sedangkan Sekjen PMB Ahmad Rofiq mengatakan, salah satu hal yang sudah dilakukan PMB adalah mengirimkan surat kepada pimpinan wilayah dan cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia agar memberikan sumbangsih berupa kesediaan kadernya menjadi calon anggota legislatif dari PMB.

"Apabila ada yang memberi kesediaan pasti, ini merupakan dukungan besar untuk meraih kemenangan pada Pemilu 2009. Ini juga bukti komitmen kami pada persyarikatan Muhammadiyah," kata Rofiq yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) itu.

Sementara itu, Partai Amanat Nasional (PAN) menyatakan tidak khawatir dengan dukungan yang diberikan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terhadap Partai Matahari Bangsa (PMB) yang diprakarsai kalangan aktivis muda ormas Islam terbesar kedua di Indonesia itu.

"PP Muhammadiyah memang bukan hanya mendukung sebuah partai, tetapi ke semua partai," kata salah satu fungsionaris DPP PAN Dedy Djamaluddin Malik.

Dedy mengatakan kader Muhammadiyah ada di mana-mana sehingga dukungan PP Muhammadiyah bisa diberikan ke partai mana saja.

"Saya tidak khawatir tentang seolah-olah hanya ada satu partai yang didukung Muhammadiyah, dan saya yakin dukungan PP Muhammadiyah juga tetap terhadap PAN," katanya.

Namun ia juga berpendapat, Muhammadiyah selaku institusi yang besar pasti akan mengambil jarak dengan semua partai karena sejak awal Muhammadiyah berkomitmen untuk tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik, dalam arti menjadi alat salah satu partai.

Tatkala PMB hendak didirikan, pengamat politik Fachry Ali pernah menilai bahwa peran politik yang dimainkan Muhammadiyah masih bergantung pada figur kharismatik Amien Rais yang masih memiliki pengaruh.

Sehingga siapapun yang akan menjadi Ketua Umum PAN, katanya, pasti akan menjaga hubungan baik dengan Amien Rais.

Ia mengatakan, PAN tanpa Muhammadiyah dan Amien Rais tidak akan bisa berkembang dengan baik, bahkan menjadi partai yang tidak memiliki akar di masyarakat karena PAN sudah terlanjur dikenal publik sebagai partai dari Muhammadiyah.

Oleh karena itu, katanya, partai tandingan lainnya yang dibangun warga Muhammadiyah tetapi tidak dinyatakan oleh Amien Rais sebagai partainya orang Muhammdiyah maka akan susah untuk hidup.

Penilaian tersebut nampaknya kini mendekati kenyataan, karena para tokoh PMB di berbagai daerah saat ini gencar melakukan pendekatan terhadap Amien Rais agar mau beralih mendukung partai baru tersebut.

Karena itu, apakah PMB atau PAN yang bakal mendapat banyak dukungan dan simpati masyarakat pada Pemilu 2009 mendatang, akan sangat tergantung pada kesolidan mesin politik kedua partai untuk menarik simpati dan memengaruhi masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah.(*)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2008

Komentar Pembaca