Kiprah Wanita Diplomat Indonesia di Ajang Internasional

Rabu, 13 Agustus 2008 09:50 WIB | 4144 Views

London (ANTARA News) - Kemerdekaan yang berusia 63 tahun memberikan peluang bagi wanita Indonesia untuk menunjukkan kiprahnya dalam percaturan diplomasi di luar negeri, khususnya di wilayah Eropa.

Selama ini citra diplomat identik dengan pekerjaan pria dalam melakukan diplomasi sebagai wakil negara dan mempromosikan serta menjalin kerjasama, bahkan ikut dalam berbagai pertemuan dan sidang baik bilateral maupun multilateral.

Kini jenjang karir yang diraih diplomat wanita semakin tinggi, bahkan menjabat sebagai dutabesar seperti Linggawaty Hakim, Dubes untuk Swedia merangkap Latvia, dan Retno P.L. Marsudi, Dubes untuk Denmark yang kini menjabat Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Deplu.

Berkarir di dunia diplomasi menjadi salah satu pilihan wanita Indonesia yang menjanjikan dan penuh tantangan dan bahkan sedikit glamour karena banyak berjumpa orang penting sampai pada pesta diplomat yang digelar berbagai kedutaan.

Ikut dalam sidang PBB di Jenewa seperti Dinar Henrika Sinurat, sekretaris I PTRI Jenewa yang menjadi koordinator untuk pembangunan dan perdagangan internasional serta isu isu yang berkaitan dengan lingkungan, telekomunikasi dan milenium proyek.

Menjadi selebriti dadakan dan mendapat sorotan lampu kuli tinta saat mendampingi Dubes Mangasi Sihombing "turun tangga" KBRI Budapes menghadiri acara peluncuran buku cerita rakyat peserta Dharmasiswa dialami Arena Sri Victoria, Pensosbud KBRI Budapest.

Citra diplomat wanita Indonesia semakin besar dan sayangnya di kehidupan sehari hari dalam menjalankan kodratnya sebagai wanita sering kali mengalami hambatan dan bahkan memilih dan menunda pernikahan demi mengejar karir.

"Memang tidak mudah bagi diplomat wanita memainkan peranannya, terutama dalam keluarga, tidak jarang di antaranya memilih tetap melajang. 'Sudah menjadi pilihan'," ujar Head of Chancery/Deputy Chief of Mission KBRI Brussel Prianti Gagarin Djatmiko Singgih.

Belum lagi peraturan yang membuat karir diplomat wanita terhambat karena menikah. Namun sejak 2004 Deplu membolehkan diplomat wanita tetap berkarir jika menikah dengan sesama diplomat, ujar "Bu Gagarin", demikian rekannya sering menyapa Prianti.

Namun seorang diplomat yang ditempatkan di luar negeri untuk posisi sebagai Dubes atau Konjen, maka pasangannya yang juga diplomat harus ikut dengan syarat mengambil cuti di luar tanggungan negara, ujar Gagarin, yang kini menjabat sebagai kepala kantor merangkap wakil dubes di Brussel.

Wanita kelahiran Jakarta tahun 1961 itu mengakui peraturan yang bermaksud menyatukan keluarga yang terpisah yang diterapkan Deplu rasanya perlu ditinjau kembali, karena pada kenyataannya hidup keluarga yang bersatu bukan lagi jaminan untuk keutuhan keluarga.

Apalagi latar belakang budaya yang menganggap lelaki menjadi kepala keluarga tentunya memberatkan pasangan, ujar Gagarin yang mengalami nasib, sang suami harus cuti di luar tanggungan karena harus mendampinginya.

Untuk itu, sarjana lulusan sastra China itu berharap pasangan diplomat muda yang sedang meniti karir harus menyiapkan mental agar tidak terkejut ketika harus menghadapi situasi seperti yang dihadapinya.


Pengakuan Profesional

Wanita yang malang melintang di dunia diplomasi itu mengatakan mensyukuri kenyataan dari segi pengakuan profesionalisme wanita sebagai diplomat yang kini meningkat, jika dilihat dari jumlah wanita yang diterima sebagai calon diplomat Deplu mencapai 50 persen.

Pada angkatannya dulu hanya 10 persen perempuan yang direkrut, itupun masih berkurang lagi karena ada yang mengundurkan diri atas alasan keluarga.

Namun kendala yang dihadapi wanita diplomat tidaklah mengalami perubahan yang berarti, ujar Gagarin yang pernah menjadi interpreter Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden RI

Gagarin yang pernah ditempatkan di New York dan Jenewa mengakui sampai saat ini diplomat banyak yang sulit mendapatkan jodoh yang mengerti profesi diplomat wanita, dimana kedudukan suami hanya sebagai pendamping istri bila ditempatkan di luar.

Membina karir dan berumah tangga adalah pilihan yang pasti lebih sulit bagi diplomat wanita daripada pria karena latar belakang budaya yang menganggap pria lah menjadi kepala rumah tangga, tegas Gagarin, yang pernah menjadi anggota delegasi berbagai pertemuan penting.

Banyak wanita diplomat yang terpaksa mengesampingkan kebutuhannya untuk berumah tangga demi berkarir dan juga sebaliknya sebagai wanita, profesi diplomat secara umum dicitrakan sebagai ladangnya pekerja pria.

Gagarin yang pernah menjadi ketua komite pada berbagai konferensi internasional mengakui pilihan untuk tidak menikah bukanlah sesuatu yang baru lagi di dunia profesi diplomat wanita.

Sebaliknya berumah tangga juga tetap merupakan pilihan wanita yang harus dihormati dalam profesi yang menuntut banyak pengorbanan untuk keluarga bagi wanita yang memilihnya. "kehidupan diplomat wanita Indonesia yang penuh tantangan," ujarnya.

Sementara itu Ance Maylany (28), sekretaris III, Pensosbud KBRI Beograd sejak Juli 2007, mendapat penugasan dari Biro Kepegawaian Deplu dengan penempatan pertama di KBRI Beograd. "Bagi saya, penempatan pertama merupakan suatu hal yang masih sulit dibayangkan," ujar Ance.

Terlebih, negara yang ditinggali untuk tiga tahun ke depan merupakan negara bekas pecahan Yugoslavia yang mengalami banyak perubahan pada kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya akibat perpecahan negara-negara tetangganya.

Citra sebagai "negara perang" masih disandang negara ini dari kacamata sebagian besar masyarakat di Indonesia, bahkan pada beberapa teman di Deplu sekalipun, ujar sarjana ilmu politik Universitas Katolik Parahyangan itu.

Ance sudah tiga tahun bekerja di Deplu pada unit kerja Direktorat Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup dan dua tahun dirotasi ke Direktorat Politik Keamanan ASEAN.

Ia mengakui selama tiga tahun itu, banyak suka dan duka yang dialaminya.


Protokoler dan substantif

Mulai dari mempersiapkan bahan sidang sampai tengah malam dan harus berangkat ke bandara pada subuh untuk mengejar pesawat hingga menghadapi berbagai persoalan yang timbul pada persiapan teknis dan substantif dalam sidang internasional.

Wanita yang mengikuti sekolah dinas luar negeri angkatan 29 itu mengakui banyak hal protokoler dan substantif yang menjadi permasalahan, namun praktis hal tersebut yang mewarnai berbagai situasi kerjanya.

Ance yang pernah magang di KJRI Frankfurt mempunyai kiat dalam menjalani tugas, yaitu ketika ia harus menjadi delegasi pada sidang, ia senang berkomunikasi dengan sesama rekan dari negara lain mengenai situasi kerja di negaranya.

Menurut Ance, banyak teman sesama wanita diplomat mempunyai pengalaman unik yang serupa, namun pada umumnya pendapatnya sama, "diplomacy is about negotiation, and women actually can do better in that, man just won't except it."

Ance mempunyai pengalaman unik yang terus dikenangnya, yaitu suatu saat mengikuti Sidang Komite ke-2 Majelis Umum PBB dan duduk di kursi ketua delegasi Indonesia, bertepatan dengan hari Raya Lebaran.

Dikatakannya karena tidak merayakan Lebaran, Ance hadir tetapi beberapa diplomat dari negara-negara Islam lainnya tidak ada di ruang sidang.

Ketua delegasi Iran yang duduk di sebelahnya menanyakan para diplomat Indonesia lain yang saat itu tidak ada. Ance mengatakan perwakilan Indonesia merayakan Lebaran yang jatuh pada hari sebelum jadwal libur sidang yang ditetapkan PBB.

Diplomat Iran menyatakan mereka juga merayakan Lebaran, namun mengikuti tanggal di negara yang mereka tinggali, bukan mengacu pada negara asal, sehingga baru merayakan Idul Fitri pada esok harinya.

Pada hari itu, saya menjadi satu-satunya diplomat paling muda yang duduk di kursi ketua delegasi, sementara saya melihat negara-negara lain diwakili oleh diplomat-diplomat seniornya, kenang Ance.

Wanita muda yang tengah meniti karir diplomat itu mengakui wanita diplomat bisa dibilang mempunyai tantangan yang unik yang kadang orang luar sulit memahaminya, seperti yang diungkapkan Arena Sri Victoria yang masih tetap melajang,

Sebagai diplomat wanita pencapaian kepentingan bangsa melalui kerangka kerjasama yang ada, baik regional, multilateral maupun bilateral, membutuhkan ketrampilan negosiasi yang mapan.

Ance merasa bangga dengan kesempatan untuk melakukan tugas negosiasi yang tidak kalah dengan pria diplomat. Suka duka dalam mengerjakan tugas-tugas di perwakilan lebih dilatarbelakangi kondisi negara akreditasi, demikian Ance Maylany. (*)

COPYRIGHT © 2008

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Parni Hadi luncurkan buku Jurnalisme Profetik

Parni Hadi luncurkan buku Jurnalisme ProfetikParni Hadi meluncurkan buku berjudul Jurnalisme Profetik yang merupakan hasil pemikiran dan perenungannya sejak ...