Surabaya, (ANTARA News) - Microsoft meluncurkan kampanye global "Fair Play" untuk melawan peredaran perangkat lunak palsu (counterfeiting). "Survei Microsoft Indonesia di mal-mal menunjukkan bahwa 40 persen penjual software menawarkan atau menjual software palsu," kata Anti Suryaman, Licence Compliance Manajer PT Microsoft Indonesia di Surabaya, Rabu. Anti mengemukakan hal tersebut di sela peluncuran Kampanye Fair Play di Indonesia. Peluncuran tersebut dilaksanakan di Hi-Tech Mall Surabaya dan dihadiri David Finn, pejabat dari Microsoft yang menangani urusan anti-pembajakan dan anti-pemalsuan. Menurut Anti, perangkat lunak tidak asli kini dibuat semirip mungkin dengan yang asli sehingga mengecohkan para pembeli. "Harga yang ditawarkan ke pembeli juga cukup tinggi untuk sebuah perangkat lunak palsu," kata Anti. Secara global, sepertiga dari PC yang dijual memuat software yang tidak memiliki lisensi, bajakan atau palsu. Studi Fifth Annual BSA and IDC Global Software Piracy yang dirilis pada bulan Mai 2008 (http://global.bsa.org/idcglobalstudy2007) menyebutkan bahwa pada tahun 2007 kerugian ekonomi secara global akibat pembajakan software mencapai hampir 50 miliar dolar AS. Fair Play digelar secara stimultan di 49 negara di seluruh dunia dengan "3 E" yaitu "education, enforcement, engineering". Edukasi dilakukan dengan menginformasikan masyarakat tentang perlunya perangkat lunak asli demi kepentingan pengguna. "Enforcement" dilakukan dengan mendukung penegakan hukum dalam menghadapi pembajakan dan pemalsuan. Perusahaan terbesar perangkat lunak itu juga melakukan "engineering" agar perangkat lunak makin sulit dipalsukan atau dibajak. Di wilayah Asia Pasifik, program ini diluncurkan di Singapura, Indonesia dan Thailand dan Malaysia. Setelah Surabaya, program tersebut akan dilanjutkan di Jakarta, Bandung, Medan, Makassar dan Batam. Program ini akan dijalankan selama 3 bulan yaitu mulai bulan Oktober hingga akhir Desember 2008. Sementara itu, David Finn, associate general counsel untuk "Worldwide Anti-Piracy and Anti-Counterfeiting" Microsoft mengemukakan, "Saat ini kami sedang mengidentifikasi jaringan pemalsuan software dan software bajakan internasional untuk menghentikan tindakan mereka dan melindungi konsumen kami serta bisnis yang jujur dari perdagangan illegal ini.” Microsoft memilih Hi-Tech Mall sebagai tempat peluncuran Fair Play di Indonesia karena menurut mereka mal tersebut punya kesungguhan dalam mengimbau para "tenant" untuk hanya menjual perangkat lunak asli. "Hi-Tech Mall kami pertimbangkan untuk menjadi 'the clean' mall di Indonesia," Kata Anti. Sementara itu pengelola Hi-Tech Mall mengemukakan pihaknya selama ini mengajak "tenant" agar hanya menjual perangkat lunak asli dan menjalin kerjasama dengan Microsoft sehingga ada program penjualan yang memberi manfaat lebih untuk para penjual. “Kami sudah menjalankan program pelarangan penjualan software bajakan di tempat kami sejak awal kami bekerja sama dengan PT Microsoft Indonesia dan secara konsisten kami mengimplementasikan kebijakan tersebut secara menyeluruh dan tanpa kecuali," kata Rudy Sukamto, SH, General Manager PT Sasana Boga, pengelola HiTech Mall. Microsoft Indonesia dalam kesempatan itu juga memberikan total 10 komputer kepada beberapa LSM. Komputer-komputer itu sebelumnya digunakan Microsoft untuk mencari para penjual perangkat lunak palsu.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008