Petani Masih Anggap Asam Dan Kemiri Tanaman Liar

Selasa, 11 November 2008 06:11 WIB | 967 Views

Kendari (ANTARA News) - Petani di sejumlah kabupaten di Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga kini masih menganggap pohon asam dan kemiri sebagai tanaman perkebunan sampingan atau tanaman liar, padahal asam dan kemiri itu juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Data dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra di Kendari, Selasa, areal tanaman perkebunan asam dan kemiri mencapai ribuan hektare, namun hampir seluruhnya tidak peranh diurus oleh pemiliknya.

Kadis Perkebunan dan Hortikultura, Propvinsi Sultra, H Ahmad Chaedir Nurdin, mengatakan, petani di Sultra masih menjadikan tanaman asam dan kemiri itu hanya sekedar sebagai tanaman sampingan yang ditanam sebagai tanama pembatas pagar perkebunan mereka.

Padahal, daerah lain seperti di pulau Jawa dan Sumatera bahkan daerah provinisi terdekat di Sulawesi Selatan, telah menjadikan tanaman perkebunan itu sebagai tanaman primadona yang bernilai ekonomi tinggi.

Keunggulan tanama asam dan kemiri adalah tidak perlu perawatan khusus, berbeda dengan jenis tanaman perkebunan lainnya seperti kakao, mete, lada dan kelapa yang membutuhkan perawatan khusus setelah ditanam.

Di samping itu, tanaman asam dan kemiri juga sangat tahan terhadap berbagai serangan hama dan tidak mengenal adanya musim (kemarau maupun penghujan) serta bisa dikembangkan pada semua wilayah gersang.

Ia mentatakan, areal tanaman asam dan kemiri terluas milik masyarakat di enam kabupaten di Sultra adalah di Kabupaten Kolaka, Bombana, Konawe, Muna, Kolut dan Buton yang kalau dihitung keseluruhannya di atas puluhan ribu ha.

"Memang dari segi produktivitas masih tergolong sangat rendah dibanding beberapa sentra penghasil asam dan kemiri di tanah air yang sudah mencapai rata-rata 2-3 ton per hektare per tahun," kata Chaedir Nurdin.

Upaya untuk meningkatkan produktivitas buah asam dan kemiri milik petani belum terlambat asalkan petani setempat tetap mengikuti petunjuk, arahan serta bimbingan dari instansi, katanya.

Dinas Perkebunan Sultra tetap berupaya memberi bantuan terutama bibit tanaman untuk dikembangkan serta memperbanyak penyuluhan bagi petani dalam hal cara pemeliharaan hingga proses panen dan pemasarannya.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2008

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Perbanas: biaya penutupan Bank Century lebih mahal

Perbanas: biaya penutupan Bank Century lebih mahalKetua Umum Perbanas Sigit Pramono mengatakan biaya penutupan Bank Century ketika terjadi krisis pada 2008, bisa lebih ...

Pembangunan industri aluminium Bintan terkendala status lahan

Pembangunan industri aluminium Bintan terkendala status lahanPembangunan dan pengembangan industri aluminium di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau yang merupakan proyek kemitraan PT ...

Rupiah Rabu sore menguat tipis empat poin

Rupiah Rabu sore menguat tipis empat poinNilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore menguat tipis sebesar empat poin menjadi ...