Pontianak (ANTARA News) - Harga karet di Kalimantan Barat kualitas ekspor kembali turun dari 1,75 dolar AS menjadi 1,57 dolar AS per kilogram meskipun nilai tukar rupiah melemah sampai Rp12 ribu terhadap dolar AS.

Turunnya harga karet ini, menurut Kepala Dinas Perkebunan Kalbar Idwar Hanis, dipicu melemahnya permintaan dari industri otomotif selaku konsumen terbesar produk karet dunia termasuk dari Kalbar.

"Ada tiga industri besar otomotif di Amerika Serikat yang mengalami kesulitan ekonomi. Mereka juga kesulitan produksi karena tidak didukung oleh Kongres," kata Idwar Hanis.

Indonesia, Malaysia dan Thailand selaku penghasil karet terbesar di dunia sudah mengambil langkah untuk mengharmonisasikan persediaan karet dengan permintaan atau antara anggaran produksi, permintaan dan suplai.

Indonesia sendiri sudah menempuh salah satu langkahnaya dengan mengurangi produksi skala nasional hingga 30 persen, namun untuk skala kecil, petani diminta tetap berproduksi dan mengendalikan penjualan atau stok sampai harga karet membaik.

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Tanjungpura Dian Patria SE MA menilai, fluktuasi harga yang amat cepat menjadi momentum bagi Kalbar untuk memberi  insentif kepada industri yang mau mengolah karet setengah jadi menjadi produk turunan  yang bernilai tambah tinggi.

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar mempunyai 13 anggota dengan total produksi 185 ribu ton karet, sementara seluruh produksi petani karet Kalbar mencapai 250 ribu ton. Selisih produk dan ekspor diduga diselundukan ke Malaysia dalam bentuk bahan olah karet. (*)