Jakarta (ANTARA News/Aljazeera) - Alqaeda menyatakan bertanggungjawab atas serangan bom bunuh diri terhadap Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Nayef, deputi menteri dalam negeri dan orang yang mengepalai unit pemburu teroris di Kerajaan Arab Saudi.

Alqaeda wilayah Semenanjung Arabi, salah satu cabang Alqaeda, Sabtu WIB, mengklaim bertanggungjawab, dalam satu pesannya yang disampaikannya di internet yang dimonitor oleh Site Intelligence Group.

Mohammed bin Nayef tengah berbuka puasa bersama di Jeddah saat pebom bunuh diri meledakan dirinya, demikian juru bicara kementerian dalam negeri Saudi.

Sudah umum bagi para anggota senior kerajaan mengadakan pertemuan terbuka selama bulan ramadan untuk berbuka puasa bersama masyarakat.

Pangerang yang merupakan putera dari Pangeran Nayef bin Abdul Aziz, pria yang diperkirakan akan menjadi putera mahkota Saudi berikutnya, hanya cedera ringan akibat serangan itu.

Hussein Shobokshi, kolumnis pada koran Arab Asharq Al-Awsat yang berbasis di London, mengatakan bahwa percobaan pembunuhan itu akan mengubah sikap Saudi secara drastis.

"Serangan itu juga membuat timbulnya simpati kepada pemerintah, sementara pemerintah akan bersikap keras, tegas dan didukung rakyat banyak," katanya.

Pelaku pembom bunuh diri dilaporkan berpura-pura hendak menyerahkan diri kepada pihak berwenang, lapor kantor berit Saudi Press Agency.

Serangan bom bunuh diri adalah upaya pembunuhan anggota kerajaan pertama dalam beberapa dekade terakhir dan serangan besar pertama terhadap Kerajaan sejak tahun 2006.

TV Al-Arabiya memperlihatkan Mohammed bin Nayef, yang terluka ringan, mengadakan pertemuan dengan Raja Abdullah, setelah serangan itu.

"Serangan itu mengindikasikan bahwa ancaman di luar sana sedang menunggu terjati, kadang-kadang terjadi pada jarak yang lebih dekat dari perkiraan anda," lapor Reuters mengutip seorang diplomat Barat di Saudi yang tak disebutkan namanya.

"Keluarga Kerajaan memiliki banyak alasan untuk khawatir karena di negeri ini senjata bisa dengan mudah masuk dari perbatasan-perbatasan gawatnya di utara dari Irak atau selatan dari Yaman."

Para aktivis Alqaeda, termasuk mereka yang baru pulang dari Afghanistan dan Iraq, aman bersembunyi di Yaman, khususnya tiga provinsi yang berbatasan dengan Saudi Arabia.

Saudi Arabia telah meningkatkan kampanye anti Alqaeda di negerinya dengan membunuh dan menangkap sebagian besar para pemimpinya setelah serangkaian serangan yang dimulai dari 2003.

Belum lama bulan ini, pihak berwenang Saudi mengumumkan telah menangkap 44 orang yang diduga berkaitan dengan Alqaeda sekaligus menyita bahan-bahna eksplosif, detonator dan senjata api. Kampanye ini dikritik Human Rights Watch karena mengambaikan HAM. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009