Cianjur, 6/9 (ANTARA) - Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Supardan, Minggu, menyatakan 41 orang masih tertimbun bebatuan raksasa yang mengubur kampung-kampung di Desa Cikangkareng, Cibinong, menyusul gempa bumi pada 2 September 2009 yang melanda sebagian besar pesisir selatan Jawa Barat.

"Jam 10 Minggu pagi, tim penyelamat berhasil menemukan seorang korban lagi sehingga korban tewas yang sudah diidentifikasi menjadi 29 orang," katanya kepada ANTARA sore hari tadi.

Korban dikenali sebagai Nuryani, perempuan berusia 35 tahun, warga Kampung Babakan Caringin, dan diketahui baru saja pulang dari Timur Tengah sehabis menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Supardan mengungkapkan, tim penyelamat pimpinannya akan terus mencari korban dan menggali tanah sampai seminggu setelah bencana, kendati proses pengungkitan batu nyaris mustahil dilakukan, meskipun alat-alat berat dikerahkan ke sana.

"Meski begitu, para inohong (tokoh masyarakat) Desa Cikangkareng telah mengatakan pada kami bahwa mereka bisa menerima keputusan jika tak perlu ada tambahan waktu penggalian setelah waktu seminggu itu," katanya.

Supardan mengungkapkan, hampir tidak mungkin tim penyelamat menemukan korban tertimbun karena batu-batu raksasa yang memenuhi lahan sekitar lima hektare yang dulunya kawasan mukim penduduk, terlalu sulit dipindahkan dan digeser dari tempatnya.

Kendati tim penyelamat tampak merasa sangat sulit memindahkan batu-batu raksasa yang dimuntahkan dari sebuah tebing batu cadas bertinggi sekitar 200 meter, bantuan dari masyarakat terus mengalir, bahkan hingga menjelang malam hari.

Satkorlak setempat mengungkapkan, sekitar 600 orang kini terdaftar di BPBD Cianjur sebagai pengungsi bencana, dan mereka tetap membutuhkan bantuan sampai waktu yang belum ditentukan tim penanggulangan bencana.

"Saya mohon masyarakat yang hendak menyalurkan bantuan, mengirimkan juga sayuran karena mereka menginginkannya. Mie instan, beras, lauk pauk, dan pakaian saat ini berlimpah," kata Supardan.

Dia memastikan bahwa semua bantuan yang masuk dalam pengaturannya telah disalurkan dengan benar dan sesuai dengan prosedur standard penanganan bencana.

Sementara itu, sejumlah pengungsi yang jauh dari situs kampung-kampung tertimbun batu cadas, namun turut menjadi korban gempa mengeluh tidak memperoleh bantuan dari tim yang dikoordinasikan pemerintah, melainkan dari kelompok-kelompok independen yang menyalurkan sendiri bantuannya.

"Saya belum memperoleh bantuan dari pemerintah, hanya dari kelompok-kelompok yang lewat saja," aku Imah Tarbiyati, warga kampung Cijaringao, Cikangkareng.

Rumah Imah rusak berat diguncang gempa sampai tidak bisa ditinggalinya lagi sehingga dia terpaksa membuka tenda di dekat rumah rusaknya itu.

Mengenai para korban seperti Imah ini, Supardan mengatakan sepanjang ada referensi laporan dari aparat lokal, bantuan yang dikoordinasikan badan yang dia pimpin itu tidak memasalahkannya dan akan segera menyalurkan bantuan.

Dia berkilah, Satkorlak dan BPBD Cianjur tak bisa sembarangan menyalurkan bantuan karena harus tertib administrasi guna menghindari tuduhan penyelewengan bantuan, kendati secara pribadi dia mengaku ingin bersegera menyalurkan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009