20 Taliban Tewas Dalam Pertempuran di Afghanistan
Selasa, 13 Oktober 2009 01:23 WIB | 1521 Views
Kabul (ANTARA News/AFP) - Duapuluh gerilyawan Taliban tewas dan
beberapa orang ditangkap dalam operasi-operasi terpisah yang melibatkan
pasukan asing dan militer Afghanistan, kata sejumlah komandan dan
pemerintah, Senin.
Komandan kepolisian perbatasan di
Afghanistan selatan Jendral Saifullah Hakim mengatakan, 14 Taliban
tewas dalam bentrokan ketika lebih dari 60 gerilyawan menyerang pasukan
perbatasan di distrik Shorabak, provinsi Kandahar, Minggu sekitar pukul
22.00 waktu setempat (Senin pukul 00.30 WIB).
"Empatbelas musuh tewas. Tiga mayat tertinggal di lokasi kejadian dan
yang lain mereka bawa pergi. Sembilan (Taliban) cedera," katanya kepada
AFP.
Menurut polisi, militan-militan itu datang dari Pakistan dan mundur
lagi ke seberang perbatasan setelah serangan tersebut.
Dalam insiden kedua, komandan senior Tentara Nasional Afghanistan (ANA)
Jendral Shir Mohammad mengatakan, tiga Taliban tewas dan dua orang
ditangkap dalam operasi gabungan di desa Qala-e-Gal di Sangin, provinsi
Helmand, pada Minggu.
Tiga militan juga tewas dalam operasi serupa Minggu di desa Omar Khil
di provinsi Zabul, Afghanistan selatan, kata kementerian pertahanan di
Kabul dalam sebuah pernyataan.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) mengatakan, sebuah granat
roket, sabuk amunisi dan peralatan komunikasi ditemukan di lokasi
kejadian dan dihancurkan.
ISAF juga menyatakan, seorang tersangka komandan Taliban dan beberapa
militan yang terkait dengan industri narkoba di distrik Nahri Sarraj,
Helmand, ditangkap pada Minggu.
Empatpuluh granat roket, dua rompi amunisi, ribuan peluru senapan
mesin, peralatan untuk membuat bom pinggir jalan, tiga senapan serang
AK-47 dan 20 mortir dihancurkan di lokasi kejadian, katanya.
ISAF menambahkan, tidak ada prajuritnya yang tewas dalam operasi itu,
namun kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan bahwa tiga prajurit
ANA tewas ketika kendaraan mereka terkena bom pinggir jalan di distrik
Gardaseri di provinsi Pakyta, Afghanistan selatan.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta
pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa
pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20
Agustus.
Terdapat lebih dari 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS,
Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu
pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang
dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Lebih dari 300 prajurit asing tewas sejak Januari, yang menjadikan 2009
sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi
pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang
itu merosot.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan
pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh
invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin
Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan
di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11
September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan
dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan
pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut
menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara
Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000
tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi)
mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di
Afghanistan, menurut militer.
Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional bergabung dengan pasukan
militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di
Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20
Agustus, kata aliansi itu.
Pemilu yang menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang
sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan
demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan
ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.
Sekitar 300.000 prajurit Afghanistan dan asing mengambil bagian dalam pengamanan pemilu tersebut.(*)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2009
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com