Pangkalpinang (ANTARA News) - Transaksi lada pada tingkat pedagang pengumpul di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali sepi, karena pasokan komoditas dari petani terbatas.

Ellan, pedagang pengumpul lada di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Minggu, mengatakan, menjelang Natal, transaksi lada kembali sepi karena petani lada belum berminat untuk menjual ladanya, meskipun harga lada saat ini masih bertahan tinggi yaitu Rp40.000 perkilogram.

"Transaksi lada juga dipengaruhi oleh harga karet yang kembali naik mencapai Rp6.000 perkilogram, sehingga petani masih menyimpan ladanya sambil menunggu harga lada lebih tinggi," ujarnya.

Transaksi lada hanya bisa terkumpul 50 kilogram hingga 100 kilogram selama satu minggu, padahal sebelumnya bisa mencapai 350 kilogram perminggu.

Ia mengatakan, petani lada belum tertarik untuk menjual hasil panen ladanya, karena belum ada kebutuhan yang mendesak setelah Lebaran.

"Sebagian besar petani lada juga memiliki kebun karet, makanya saat harga karet mahal petani belum mau menjual ladanya, karena lebih baik disimpan dan dijual saat harga lebih tinggi," ujarnya.

Ia menjelaskan, harga lada masih bertahan tinggi karena permintaan lada oleh pasar nasional dan internasional terus meningkat.

"Sementara itu, pasokan lada dari Pulau Bangka terus merosot, karena masyarakat banyak yang kurang berminat untuk menanam lada, karena tingginya biaya untuk memproduksi lada," ujarnya.

Menurut dia, diperkirakan transaksi lada akan kembali meningkat setelah menyambut Tahun 2010, karena masyarakat butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah merayakan tahun baru baru.

"Demikian juga harga lada diperkirakan akan kembali naik, karena permintaan lada baik pasar nasional dan internasional terus meningkat," ujarnya.

Hardi, pedagang pengumpul lainnya, mengatakan, transaksi lada menjelang natal kembali sepi, jika dibandingkan transaksi menjelang tahun baru Islam pada Jumat (18/12) transaksi cukup ramai.

"Transaksi lada saat ini hanya bagi petani lada yang tidak memiliki lahan karet ataupun pekerjaan lainnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka harus menjual ladanya," ujarnya.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2009

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar