
Erwin aksa (ANTARA/Udin)
"(ACFTA) perlu diwaspadai dan pemerintah perlu ambil langkah cepat. Oleh karena itu, kita harus mencari industri yang tidak bisa disaingi oleh China, seperti Industri yang berbasis sumber daya alam, karena China tidak memiliki sumber daya alam sehebat kita," Kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Erwin Aksa, di Jakarta, Kamis.
"Kita jangan lagi berbicara bagaimana industri kita bisa bersaing dengan China, namun fokus pada industri andalan karena kalau tidak pertumbuhan indsutri kita akan ketinggalan," ujarnya.
Erwin juga menambahkan saat ini produk China sudah mendominasi 50 persen pasar Indonesia. Dengan adanya ACFTA, perkiraan tersebut akan terus tumbuh, sehingga harga produk China menjadi sulit disaingi.
Apalagi, jalur distribusi perdagangan antara China-Indonesia semakin membaik.
"Jadi industri strategis untuk kilang minyak, kimia, dan pabrik pupuk yang harus dibangun dengan cepat, kemudian menyusul pabrik berbasis perkebunan, seperti kelapa sawit (CPO). Dari situ, produk-produk yang diolah dari CPO harus dibangun dan ini butuh dukungan semua pihak termasuk perbankan," ujarnya.
Menurut dia, karena investasi yang dibutuhkan sangat besar, maka dibutuhkan langkah-langkah terobosan, seperti perbankan jangan melihat ini suatu resiko besar namun merupakan proyek nasional yang harus dibangun karena dampak yang dapat dihasilkan.
"JIka misalkan membangun kilang minyak, maka pabrik lain di sekitar situ akan tumbuh, seperti botol dan bijih plastik," ujarnya.
Untuk itu, kata Erwin, dalam memproduksi suatu produk dibutuhkan bahan baku yang selama ini masih menjadi kendala karena kebanyakan diimpor.
"Persoalan kita dalam membangun industri adalah selama bahan baku masih diimpor, maka kita tidak bisa kompetitif. Bahan baku yang paling krusial adalah bahan baku yang bisa diolah dari produk minyak mentah," ujarnya.
Karena itu, Indonesia harus mempercepat pembangunan kilang minyak karena selama ini masih diimpor, katanya.(*)






















