Kupang (ANTARA News) - Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdi Tanoni atas nama kelompok masyarakat Timor Barat di NTT, Minggu, menyerukan kepada bangsa Australia agar tidak menciptakan Laut Timor sebagai laboratoriumnya negeri Kanguru.

Seruan Tanoni yang juga penulis buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta" itu disampaikan dalam surat elektroniknya kepada bangsa Australia melalui Perdana Menteri Kevin Rudd, berkaitan dengan ulang tahun ke-109 Bangsa Australia pada 26 Januari 2010 .

Menurut dia, Australia telah menjadikan Laut Timor sebagai laboratorium raksasa untuk melakukan berbagai macam uji coba dengan mengorbankan masyarakat Indonesia di Timor Barat dan pulau-pulau sekitarnya yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Uji coba tersebut, antara lain terhadap para nelayan tradisional Indonesia secara tidak manusiawi sampai pada kasus pencemaran Laut Timor yang hingga kini Australia tidak mau bertanggung jawab, katanya.

"Kami hanya berharap, Laut Timor hendaknya menjadi sumber kesejahteraan bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia di Timor Barat, Timor Leste dan Australia dengan mengembangkan suatu bentuk kerja sama yang saling melengkapi dan menguntungkan," kata mantan agen imigrasi Australia itu.

Tanoni mengatakan, seruan itu disampaikan untuk mengenang kembali pengorbanan dan kesetiaan masyarakat Indonesia di Timor Barat terhadap bangsa Australia pada 1942 ketika melawan pasukan Jepang yang hendak menduduki Australia dari arah utara.

Saat itu, tambahnya, dengan sukarela, tulus dan ikhlas ribuan orang Timor Barat, NTT, baik pria maupun wanita, tua dan muda, rela menjadikan Kupang sebagai daerah penyangga bagi bangsa Australia.

"Tidak hanya itu...Nyawa mereka pun dikorbankan demi kesetiaan terhadap sebuah rasa solidaritas hubungan persaudaraan antara Indonesia-Australia. Tak seorang pun juga dapat menyangkal akan hal ini, karena sejarah Australia telah mencatatnya dengan sempurna dan tersimpan rapi di Museum Nasional Australia," katanya.

Dalam hubungan dengan itu, Tanoni yang juga pemerhati masalah Laut Timor ini mengharapkan Australia dapat menggunakan hati nuraninya dalam menyelesaikan masalah pencemaran minyak mentah di Laut Timor akibat meledaknya ladang minyak Montara pada 21 Agustus 2009 lalu.

"Bangsa Australia harus jujur mengakui bahwa pencemaran tersebut sebagai akibat dari kelalaian pemerintah federal Australia dan bersedia membela ribuan masyarakat Indonesia di Timor Barat, NTT yang terkena dampaknya," ujarnya.

Menurut Tanoni, Australia harus mendesak operator ladang minyak dan gas Montara untuk segera memberikan kompensasi terhadap masyarakat dan juga bertanggung jawab penuh untuk segera memulihkan kembali lingkungan Laut Timor yang telah tercemar seperti sediakala.

Ia menambahkan, penyelesaian masalah pencemaran Laut Timor ini harus diperluas dengan pembahasan dan penyelesaian seluruh permasalahan batas wilayah perairan di Laut Timor antara Indonesia-Timor Leste dan Australia.

Hal ini dilakukan dengan meninjau kembali seluruh perjanjian antara Indonesia-Australia yang dibuat sejak 1971 hingga 1997, karena tidak sesuai dengan fakta-fakta geologi dan prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku, katanya.(*)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2010

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar