Presiden Sri Lanka Pecat Sejumlah Perwira Senior
Senin, 1 Februari 2010 23:27 WIB | 1400 Views
Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse. (ANTARA/REUTERS/Andrew Caballero-Reynolds)
Berita Terkait
Kolombo (ANTARA News/AFP) - Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse hari
Senin memecat sekelompok perwira militer senior yang menurut
kementerian pertahanan menjadi "ancaman bagi keamanan nasional" setelah
pemilihan presiden pekan lalu.
Rajapakse menuduh oposisi yang
kalah berencana membunuhnya setelah ia menang atas mantan jendral
angkatan darat Sarath Fonseka dalam pemilihan 26 Januari.
Pasukan keamanan mengepung tempat Fonseka ketika hasil pemilihan itu
diumumkan Rabu, dan 15 pensiunan perwira yang bekerja untuk kantor
calon presiden itu kemudian ditangkap oleh polisi.
Satu sumber militer yang menolak disebutkan namanya mengatakan kepada
AFP, 12 perwira utama dipecat untuk mencegah usaha kudeta yang mungkin
dilakukan para pendukung Fonseka di dalam lingkungan militer.
Kementerian pertahanan mengatakan dalam sebuah pernyataan, sejumlah
orang dipensiunkan karena mereka dianggap sebagai "ancaman langsung
bagi keamanan nasional".
Rajapakse dan Fonseka adalah sekutu dekat dalam ofensif militer yang
akhirnya berhasil menumpas pemberontak Macan Tamil pada Mei lalu, namun
mereka berselisih setelah kemenangan itu dan bersaing dalam pemilihan
presiden.
Ketika mengundurkan diri dari militer pada November, Fonseka menuduh
Rajapakse berbohong dengan menuduhnya merencanakan kudeta.
Pemerintah Sri Lanka pada 18 Mei mengumumkan berakhirnya konflik
puluhan tahun dengan Macan Tamil setelah pasukan menumpas sisa-sisa
kekuatan pemberontak tersebut dan membunuh pemimpin mereka, Velupillai
Prabhakaran.
Pernyataan Kolombo itu menandai berakhirnya salah satu konflik etnik
paling lama dan brutal di Asia yang menewaskan puluhan ribu orang dalam
berbagai pertempuran, serangan bunuh diri, pemboman dan pembunuhan.
Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) juga telah mengakui bahwa
Velupillai Prabhakaran tewas dalam serangan pasukan pemerintah Sri
Lanka.
Juga dinyatakan tewas dalam operasi final militer adalah dua deputi
Prabhakaran -- pemimpin Macan Laut Kolonel Soosai dan kepala intelijen
LTTE Pottu Amman.
Tokoh penting lain Macan Tamil yang juga tewas adalah putra Prabhakaran
dan calon penggantinya, Charles Anthony (24), pemimpin sayap politik B.
Nadesan dan pemimpin Sekretariat Perdamaian LTTE yang sudah tidak
berfungsi lagi, S. Pulideevan.
Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse telah beberapa kali mendesak
pemberontak Macan Tamil menyerah untuk menghindari pembasmian total.
Rajapakse, yang juga panglima tertinggi angkatan bersenjata, juga
menolak seruan-seruan bagi gencatan senjata dan menekankan bahwa Macan
Tamil harus meletakkan senjata dan mengizinkan warga sipil keluar dari
daerah-daerah yang masih mereka kuasai.
Sebelum dikalahkan total, gerilyawan Tamil dikepung selama
berbulan-bulan di sebuah daerah hutan kecil oleh pasukan yang hampir
mengakhiri perang separatis mereka.
Macan Tamil mengakui telah kehilangan sejumlah wilayah dalam
pertempuran dengan pasukan pemerintah dan menuduh Kolombo membunuhi
warga sipil.
Militer membantah hal itu dan mengatakan, warga sipil yang melarikan
diri ditembaki oleh pemberontak yang ingin menahan penduduk desa
sebagai tameng manusia.
Pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak LTTE meningkat
sejak pemerintah secara resmi menarik diri dari gencatan senjata enam
tahun pada Januari 2008.
Pembuktian independen mengenai klaim-klaim jumlah korban mustahil
dilakukan karena pemerintah Kolombo melarang wartawan pergi ke
zona-zona pertempuran.
Sekitar 15.000 pemberontak Tamil memerangi pemerintah Sri Lanka dalam
konflik etnik itu dalam upaya mendirikan sebuah negara Tamil merdeka.
Masyarakat Tamil mencapai sekitar 18 persen dari penduduk Sri Lanka
yang berjumlah 19,2 juta orang dan mereka terpusat di provinsi-provinsi
utara dan timur yang dikuasai pemberontak.(M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com