23 Orang Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri di Irak
Rabu, 3 Februari 2010 23:17 WIB | 1029 Views
Karbala, Irak (ANTARA News/AFP) - Penyerang bunuh diri menabrakkan
mobil yang berisi bom ke rombongan orang Syiah di Irak tengah, Rabu,
menewaskan 23 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Pemboman
itu, serangan mematikan kedua pada pekan ini, dilakukan terhadap
peziarah yang berjalan kaki di daerah pinggiran kota suci Karbala,
sebelah selatan Baghdad, dimana kaum Syiah berkumpul untuk melakukan
ritual Arbaeen. Sebanyak 147 orang juga cedera dalam pemboman tersebut.
Ritual Arbaeen dilakukan 40 hari setelah Asyura yang memperingati
pembunuhan tokoh paling keramat Syiah, Imam Hussein, oleh pasukan
kalifah Sunni Yazid pada 680 Masehi.
Seorang pejabat kesehatan senior di Karbala yang memberikan angka
kematian itu mengatakan, sedikitnya satu wanita dan tiga anak termasuk
diantara mereka yang tewas. Korban-korban yang cedera dirawat di dua
rumah sakit di kota itu.
Seorang pejabat kementerian dalam negeri yang mengkonfirmasi angka
korban itu mengatakan, penyerang meledakkan bis yang membawa bom.
Namun, walikota Karbala mengatakan, penyerang menggunakan mobil dalam pemboman tersebut.
Korban-korban itu sedang melakukan perjalanan dari Hilla di provinsi
Babil dan termasuk diantara puluhan ribu orang Syiah, banyak
diantaranya dari negara tetangga, Iran, yang sedang menuju kompleks
masjid Imam Hussein di Karbala, salah satu tempat suci Syiah.
Peziarah Syiah terus memadati kota itu Rabu meski terjadi serangan,
menurut wartawan AFP di kota itu, dimana puluhan ribu polisi dan
prajurit ditempatkan untuk mengamankan acara tersebut.
Dua hari sebelumnya, Senin, seorang wanita pembom bunuh diri
melancarkan serangan di tengah massa peziarah yang sedang menuju
Karbala untuk melakukan ritual tersebut, menewaskan sedikitnya 41 orang
dan mencederai lebih dari 100 lain.
Kantor Perdana Menteri Nuri al-Maliki menuduh serangan Senin itu
dilakukan oleh pengikut partai Baath kubu almarhum Saddam Hussein.
Rangkaian serangan dan pemboman sejak pasukan AS ditarik dari kota-kota
di Irak pada akhir Juni telah menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan
pasukan keamanan Irak untuk melindungi penduduk dari serangan-serangan
gerilya seperti kelompok militan Sunni Al-Qaeda.
Pemboman di Baghdad dan di dekat kota bergolak Mosul tampaknya
bertujuan mengobarkan lagi kekerasan sektarian mematikan antara
orang-orang Sunni dan Syiah yang membawa Irak ke ambang perang saudara.
Meski ada penurunan tingkat kekerasan secara keseluruhan,
serangan-serangan terhadap pasukan keamanan dan warga sipil hingga kini
masih terjadi di Kirkuk, Mosul dan Baghdad.
Banyak orang Irak juga khawatir serangan-serangan terhadap orang Syiah
akan menyulut lagi kekerasan sektarian mematikan antara Sunni dan Syiah
yang baru mereda dalam 18 bulan ini. Puluhan ribu orang tewas dalam
kekerasan sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.
Jumlah korban tewas akibat kekerasan di Irak turun hingga sepertiga
menjadi 275 pada Juli, bulan pertama pasukan Irak bertanggung jawab
atas keamanan di daerah-daerah perkotaan sejak invasi pimpinan AS pada
2003.
Kekerasan menurun secara berarti di Irak dalam beberapa bulan ini,
namun serangan-serangan meningkat menjelang penarikan militer AS, dan
437 orang Irak tewas pada Juni -- jumlah kematian tertinggi dalam kurun
waktu 11 bulan.
Perdana Menteri Nuri al-Maliki memperingatkan pada Juni bahwa
gerilyawan dan milisi mungkin meningkatkan serangan mereka dalam upaya
merongrong kepercayaan masyarakat pada pasukan keamanan Irak.(M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com