Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, salah satu himpunan di bawah naungan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Hendra Lesmana mengemukakan bahwa Jepang berpotensial untuk menanamkan investasi perikanan di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara (Malut).

"Dengan potensi sumberdaya kelautan berupa ikan yang berlimpah, maka negara seperti Jepang yang masyarakatnya gemar ikan sangat mungkin untuk menanamkan investasi di Morotai," katanya di Jakarta, Rabu sore.

Saat menerima kunjungan Pejabat Bupati Pulau Morotai Sukemi Sahab dan tim pendamping dari "Malut Crisis Center" (MCC) dalam rangka safari mengusulkan Morotai menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK), ia mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya membangun kawasan industri di Bekasi, perusahaan dari Jepang seperti Marubeni sangat mungkin tertarik untuk berinvestasi di Morotai.

"Nama Morotai sudah dikenal dunia, dan bila potensi sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya bisa dipaparkan dengan dukungan data yang baik, tidak mustahil Jepang dan negara lain bisa menanamkan usaha di Morotai," katanya didampingi Wakil Ketua Umum I HKI Sanny Iskandar.

Pejabat Bupati Morotai Sukemi Sahab saat bertemu HKI Indonesia yang mendapat tugas Kadin menerima kunjungan itu didampingi pimpinan MCC Ir Muhammad Banapon, MSi, disertai ahli dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB) yakni Dr Ir Sugeng Hari Wisudo, MSi dan Ir Andy Afandy.

Ia memberikan pemaparan selama selama satu jam di depan pimpinan HKI, dengan menyampaikan sejumlah potensi Morotai yang layak segera ditetapkan menjadi KEK.

Visi yang disampaikan Sukemi Sahab adalah "KEK Morotai Berbasis Geostrategis: Memanfaatkan Potensi Kelautan (Tuna), Pariwisata, Alur Laut Kepulauan Indonesia (AKLI) dan Industri Maritim", yakni memanfaatkan potensi sumberdaya alam dan potensi geostrategis negara di sekitar Pasifik, karena posisi Morotai yang berada di bibir Pasifik.

Dikemukakannya bahwa berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan Laut (1983) potensi sumberdaya ikan (standing stock) yang terdapat di perairan Kepulauan Morotai cukup besar, terdiri atas 160 jenis ikan yang bernilai ekonomis penting dan 31 jenis komersial, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 148.473,8 ton/tahun.

Sedangkan jumlah potensi lestari yang dapat dimanfaatkan (maximum suistainable yield/MSY) sebesar 81.660,6 ton/tahun dengan rincian untuk ikan pelagis sebesar 48.996,4 ton/tahun dna ikan demersal 32.664,2 ton/tahun.

Menurut dia, jumlah produksi ikan hasil perikanan di wilayah Kepulauan Morotai hingga 2002 tercatat mencapai 5.023,9 ton dan meningkat pada 2003 sebesar 5.207,5 ton, dengan jumlah armada penangkapan ikan tersebar.

Luasnya kawasan pesisir dan laut dengan kualitas perairan tenang, katanya, memungkinkan untuk pengembangan budidaya laut, terutama ikan kerapu, lobster, rumput laut dan mutiara.

Untuk potensi perikanan budidaya di wilayah ini terdiri atas jenis ikan seperti kerapu, kakap, baronang, moluska (kerang-kerangan), dan beberapa jenis rumput laut.

Sementara itu, pakar kelautan IPB Sugeng Hari Wisudo --yang pernah melakukan penelitian di Morotai--menambahkan bahwa strategi pengembangan KEK bisa dilakukan melalui dua sektor unggulan, yakni perikanan dan pariwisata sebagai penggerak sistem keterkaitan hulu-hilir.

"Juga bisa mengembangkan industri kelautan dan pelahuban dengan memanfaatkan AKLI," katanya.

Sedangkan pengembangan perikanan tuna --dengan potensi lestari yang ada--bisa dilakukan dengan orientasi ekspor ke Jepang, dengan menggunakan fasilitas bandar udara (Bandara) yang ada, karena di Morotai terdapat Bandara dengan tujuh "run way" peninggalan perang dunia (PD) II.(A035/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010