Kuala Lumpur (ANTARA News) - Mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad mengakui Indonesia bisa menjadi negara besar ke-7 di dunia tergantung pendekatan pemerintah terhadap rakyatnya.

"Itu karena Indonesia telah ditopang dengan kekayaan sumber alam, jumlah rakyat yang besar dan berpendidikan. Tinggal bagaimana pendekatan pemerintah terhadap rakyatnya," katanya di Kuala Lumpur, Kamis.

Ia mengatakan hal itu menanggapi pernyataan dosen Universitas Nasional Singapura Nasir Tamara bahwa Indonesia suatu saat akan menjadi negara besar ke-7 di dunia, apalagi saat ini sudah masuk negara-negara G20.

Dalam acara "Leader Talk: Sustainability of Thinking Paradigm Towards National Perception Development" yang diadakan oleh PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Malaysia bersama KBRI, ia mencontohkan Jepang yang tidak punya sumber daya alam tapi menjadi negara makmur karena pendekatan pemerintah terhadap rakyatnya tepat.

Menurut Mahathir, yang paling penting pemimpin harus mencintai bangsa dan negaranya.

"Bukan membangun rumah besar dan kekayaan menumpuk yang sudah tentu akan menyingkirkan kepentingan rakyatnya," kata mantan pemimpin Malaysia selama 22 tahun itu.

Lain halnya dengan Nasir Tamara. Ia menilai Indonesia bisa menjadi negara besar ke-7 di dunia asalkan mempertahankan demokrasi saat ini, tidak ada kudeta atau pergantian kepemimpinan harus melalui pemilu, kebijakan publik yang tepat, dan pergaulan internasional yang bagus.

"Kami telah melakukan riset dan hasilnya Indonesia telah bangkit dan akan menjadi negara besar ke-7 asalkan tidak ada perang saudara dan kudeta. Demokrasi saat ini telah menempatkan Indonesia berada di jalur yang tepat (on the track) menuju tahap kemamkmuran dan kemajuan ekonomi, tapi perlu waktu," katanya.

Dalam acara itu hadir pembicara mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad, Dubes RI Da`i Bachtiar, dosen Universitas Nasional Singapura Dr Nasir Tamara, dan dekan Universitas Waseda Jepang Prof Ken Kawan Soetanto.

Ada sekitar 300 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malaysia hadir, termasuk perwakilan mahasiswa Indonesia di Jakarta, Amerika, dan Belanda.
(T.A029/B/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010