3 Separatis Yaman Selatan Tewas Dalam Kerusuhan Demonstrasi
Jumat, 12 Maret 2010 00:43 WIB | 1186 Views
Sanaa (ANTARA News/AFP) - Tiga aktivis kemerdekaan Yaman selatan tewas
dan lima lain terluka Kamis ketika demonstrasi di kota-kota selatan
menyulut bentrokan dengan polisi dan pawai simpati di wilayah utara
yang menentang tindakan keras aparat.
Dua pengikut Gerakan
Selatan tewas dan dua lain cedera dalam tembak-menembak selama protes
di kota Daleh, kata seorang tokoh oposisi utama yang tidak bersedia
disebutkan namanya.
Seorang aktivis lagi tewas dan tiga lain cedera dalam bentrokan serupa
ketika polisi berusaha menguasai lagi sebuah bangunan pemerintah yang
diduduki oleh para aktivis separatis di kota Tur al-Bahah di provinsi
Lahij, kata satu sumber lain.
Demonstran mengacungkan bendera eks-Yaman Selatan dan meneriakkan
slogan-slogan separatis seperti "Revolusi Selatan", kata beberapa saksi
mata.
Protes pro-kemerdekaan meningkat di wilayah selatan di tengah memburuknya ekonomi di Yaman.
Yaman Selatan independen sejak 1967 sampai negara itu bersatu dengan
Yaman Utara pada 1990. Upaya pemisahan diri lagi pada 1994 menyulut
perang saudara singkat yag berakhir ketika wilayah selatan dikuasai
oleh pasukan utara.
Senin, Presiden Ali Abdullah Saleh memperingatkan separatis agar tidak
melawan pasukan keamanan, namun ia juga menawarkan dialog mengenai
tuntutan mereka.
"Bendera-bendera separatis akan dibakar dalam beberapa hari dan pekan
mendatang... Jika ada tuntutan politik, itu disambut baik. Datang untuk
berdialog," katanya.
Di Yaman bagian utara, partai-partai oposisi mengorganisasi demonstrasi
untuk menentang apa yang mereka anggap pendekatan keras pemerintah di
wilayah selatan.
Ribuan orang mengambil bagian dalam pawai itu untuk memprotes
militerisasi wilayah selatan dan menunjukkan solidaritas mereka pada
tuntutan Gerakan Selatan.
Kekerasan di Yaman bagian selatan meningkat dalam beberapa pekan ini
ketika separatis yang memprotes pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh
bentrok dengan pasukan keamanan yang menewaskan tiga polisi dan lima
pemrotes.
Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik
Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi
tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara
menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan
mendiskriminasi mereka.
Mantan pemimpin selatan mengatakan bahwa penyatuan wilayah utara dan
selatan Yaman telah gagal, dan ia menuduh pemerintah menggunakan
kekerasan yang menyulut gerakan pemisahan di selatan.
"Yang diperlukan sekarang adalah hubungan itu diurai lagi karena
penyatuan yang kita perjuangkan telah gagal sepenuhnya," kata mantan
Presiden Ali Salem al-Beidh kepada Radio Sawa yang didanai AS, seperti
disiarkan situs berita stasiun tersebut belum lama ini.
Ketegangan meningkat di Yaman selatan setelah seorang pemrotes tewas
ditembak polisi pada 13 Februari. Insiden itu menyulut kerusuhan dimana
separatis membakar pertokoan milik orang utara dan berusaha memblokade
sebuah jalan utama.
Pihak berwenang melakukan operasi keamanan dan menangkap sekitar 180 orang di provinsi-provinsi selatan.
Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh telah mendesak rakyat Yaman tidak
mendengarkan seruan-seruan pemisahan diri, yang katanya sama dengan
pengkhianatan.
Selain menghadapi gerakan separatis di wilayah selatan, Yaman, negara
termiskin di dunia Arab, juga memerangi pemberontakan Syiah di wilayah
utara dan kelompok Al-Qaeda.
Pemberontak utara dan pemerintah telah menyetujui gencatan senjata
untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut. Sejumlah gencatan senjata
sebelumnya tidak berhasil ditegakkan.
Gencatan senjata yang mulai berlaku Jumat (12/2) itu merupakan upaya
terakhir pemerintah untuk mengakhiri pemberontakan di wilayah utara
yang telah menewaskan ribuan orang dan mengakibatkan 250.000 orang
mengungsi.
Kelompok pemberontak Zaidi atau Huthi, nama almarhum pemimpin mereka,
berpangkalan di daerah pegunungan di perbatasan Arab Saudi, dimana
mereka terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Yaman dan Saudi.
Pasukan pemerintah terlibat dalam pertempuran sporadis dengan kelompok Syiah itu sejak 2004.
Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu
akan gagal dan Al-Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk
memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya
menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.
Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al-Qaeda AQAP
menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS
pada Hari Natal.
AQAP menyatakan pada akhir Desember, mereka memberi tersangka warga
Nigeria "alat yang secara teknis canggih" dan mengatakan kepada
orang-orang AS bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan.
Selain pemberontakan, Yaman juga dilanda penculikan warga asing dalam beberapa tahun ini. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com