Pemimpin Lokal Al-Qaeda Tewas Dalam Serangan di Yaman
Senin, 15 Maret 2010 23:47 WIB | 1329 Views
Sanaa (ANTARA News/AFP) - Seorang pemimpin lokal Al-Qaeda di provinsi
Abyan, Yaman selatan, tewas dalam serangan tengah malam, kata seorang
pejabat keamanan, Senin, sementara serangan udara terus berlangsung
pada hari kedua.
Jamil Nasser Abdullah al-Ambari (25), yang
termasuk dalam daftar militan yang diburu, adalah salah seorang dari
dua pemimpin Al-Qaeda yang tewas dalam serangan pada Minggu larut
malam, kata pejabat itu kepada AFP.
Pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu tidak mengungkapkan nama korban tewas yang satunya.
Situs berita kementerian pertahanan 26sep.net melaporkan sebelumnya,
serangan udara Minggu malam terhadap sebuah "sel teroris" di distrik
Moudia, provinsi Abyan, menewaskan dua anggota senior Al-Qaeda.
"Angkatan udara kami melancarkan serangan terhadap unsur-unsur teroris
yang merencanakan serangan terhadap instalasi vital (dan) dua pemimpin
Al-Qaeda tewas," kata sebuah pernyataan di situs kementerian tersebut.
Angkatan udara melanjutkan serangan Senin dengan sasaran tempat yang
diduga sebuah kamp pelatihan Al-Qaeda di daerah yang sama, kata
kementerian pertahanan.
Kementerian itu tidak menyebutkan apakah ada yang tewas atau cedera dalam serangan terakhir itu.
Pasukan Yaman meningkatkan operasi serangan terhadap cabang Al-Qaeda di
Yaman, yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan gagal pada akhir
Desember untuk meledakkan sebuah pesawat penumpang AS.
Sebelumnya bulan ini, seorang pejabat keamanan mengatakan, 11 orang
ditangkap di Sanaa, ibukota Yaman, atas tuduhan merencanakan
serangan-serangan untuk kepentingan Al-Qaeda.
Pada Februari, pasukan keamanan menangkap tiga tersangka anggota
Al-Qaeda dan membunuh tujuh pemimpinnya, termasuk komandan penting
kelompok itu di Yaman, Qassem al-Rimi, dan Abdullah Mehdar, seorang
pemimpin Al-Qaeda di provinsi Shabwa.
Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu
akan gagal dan Al-Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk
memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya
menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.
Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al-Qaeda AQAP
menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS
pada Hari Natal.
AQAP menyatakan pada akhir Desember, mereka memberi tersangka warga
Nigeria "alat yang secara teknis canggih" dan mengatakan kepada
orang-orang AS bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan.
Para analis khawatir bahwa Yaman akan runtuh akibat pemberontakan Syiah
di wilayah utara, gerakan separatis di wilayah selatan dan
serangan-serangan Al-Qaeda. Negara miskin itu berbatasan dengan Arab
Saudi, negara pengekspor minyak terbesar dunia.
Sanaa menyatakan, pasukan Yaman membunuh puluhan anggota Al-Qaeda dalam dua serangan pada Desember.
Kedutaan Besar Inggris di Sanaa juga menjadi sasaran rencana serangan
bunuh diri Al-Qaeda yang digagalkan aparat keamanan Yaman pada
pertengahan Desember.
Sebuah sel Al-Qaeda yang dihancurkan di Arhab, 35 kilometer sebelah
utara ibukota Yaman tersebut, "bertujuan menyusup dan meledakkan
sasaran-sasaran yang mencakup Kedutaan Besar Inggris, kepentingan asing
dan bangunan pemerintah", menurut sebuah pernyataan yang dipasang di
situs 26Sep.net surat kabar kementerian pertahanan.
Selain pemberontakan, Yaman juga dilanda penculikan warga asing dalam beberapa tahun ini.
Orang-orang suku di kawasan miskin Yaman seringkali melakukan
penyanderaan untuk menekan pemerintah agar memberikan bantuan,
pekerjaan, atau membebaskan orang-orang suku rekan mereka yang ditahan.
Lebih dari 200 warga asing diculik di Yaman dalam 15 tahun terakhir.
Hampir semua orang yang diculik itu dibebaskan tanpa cedera setelah penengahan yang melibatkan pemimpin-pemimpin suku.
Namun, pada 2000, seorang diplomat Norwegia tewas terperangkap dalam
tembak-menembak, dan pada 1998 empat orang Barat tewas tertembak ketika
militer berusaha membebaskan mereka dari kelompok muslim garis keras
yang menyandera 16 wisatawan. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com