Separatis ETA Dituduh Bunuh Polisi Prancis
Kamis, 18 Maret 2010 00:26 WIB | 1285 Views
Paris (ANTARA News/AFP) - Separatis Basque ETA hari Rabu dituduh
membunuh seorang polisi dalam tembak-menembak di dekat Paris, serangan
mematikan pertama oleh kelompok bersenjata itu terhadap seorang aparat
Prancis dalam operasi gerilya mereka yang telah berlangsung lebih dari
40 tahun.
Perdana Menteri Francois Fillon mengumumkan bahwa
polisi itu telah menjadi korban "pembunuhan berdarah dingin oleh sebuah
kelompok teroris", dan ia berjanji memburu orang-orang yang bertanggung
jawab atas serangan tersebut.
Polisi anti-terorisme Prancis telah menangkap seorang pria berusia 27
tahun yang mengaku sebagai anggota ETA dan kini memburu lima orang
lain, termasuk seorang wanita, setelah pembunuhan Selasa malam itu,
kata seorang pejabat pengadilan.
Jean Serge Nerin (52) tewas setelah terluka di dada, dalam penembakan
yang menembus rompi anti-pelurunya, selama kontak tembak yang meletus
setelah pemeriksaan rutin polisi di dekat Dammarie-Les-Lys, sebelah
tenggara Paris, kata pejabat itu.
Presiden Nicolas Sarkozy berbicara melalui telefon dengan Perdana
Menteri Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero dan setuju
"melipatgandakan" upaya untuk menumpas ETA.
"Saya merasa pembunuhan polisi ini seolah-olah seperti anggota pasukan
keamanan kami sendiri karena saya tahu seberapa besar mereka bekerja
bersama kami dan mengabdi demi kebebasan dan untuk mengakhiri ETA,"
kata Zapatero di Madrid.
"Kali ini Prancis membayar mahal karena kerja samanya dengan kami dalam
upaya penumpasan ETA yang juga penting bagi kebebasan dan keamanan
kami," katanya.
Spanyol dan Perancis bekerja erat untuk menumpas ETA, yang bertanggung
jawab atas kematian ratusan orang dalam perang gerilya 41 tahun mereka
untuk mendirikan negara merdeka Basque di wilayah-wilayah Spanyol utara
dan Perancis baratdaya.
ETA, yang beberapa waktu lalu memperingati setengah abad kelahiran
mereka, dibentuk pada 31 Juli 1959 oleh sebuah kelompok nasionalis
mahasiswa sayap kiri yang menentang kediktatoran sayap kanan Jendral
Francisco Franco, yang menindas bahas Basque.
Pasukan keamanan memperkirakan bahwa kelompok separatis itu, yang
melemah akibat penangkapan para pemimpin tinggi mereka dan telah lama
relatif tidak aktif, berusaha melakukan unjuk kekuatan untuk
membuktikan bahwa mereka masih bisa melancarkan serangan terhadap
pemerintah Spanyol dan menjaga semangat para pendukungnya.
Meski sebagian besar penduduk Basque tampaknya mendukung kemerdekaan
bagi wilayah pegunungan itu, yang sudah memiliki otonomi besar,
dukungan bagi kekerasan menurun dalam beberapa tahun terakhir ini.
Serangan fatal yang dituduhkan pada ETA terjadi pada Juni 2009, ketika
sebuah bom mobil menewaskan seorang polisi anti-teroris di kota Bilbao,
Basque.
ETA dituduh bertanggung jawab atas kematian lebih dari 800 orang dalam
operasi kekerasan mereka selama puluhan tahun untuk kemerdekaan Basque.
Para analis mengatakan, ETA kehilangan dukungan bagi perjuangan mereka
melalui kekerasan, namun pengumpulan pendapat umum menunjukkan
mayoritas penduduk Basque mungkin masih menginginkan kemerdekaan
wilayah itu dari Spanyol.
Pada April, polisi menangkap tersangka komandan utama ETA Jurdan
Martitegi, sehingga jumlah komandan mereka yang ditangkap menjadi empat
orang dalam waktu kurang dari setahun.
Pemerintah Sosialis Perdana Menteri Jose Luis Rodriguez Zapatero
menghentikan perundingan perdamaian dengan ETA setelah pemberontak
tersebut membunuh dua orang dalam serangan bom mobil di bandara Madrid
pada Desember 2006. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com