ETA Siap Tempuh Jalur Perubahan Politik
Senin, 22 Maret 2010 00:01 WIB | 1050 Views
Madrid (ANTARA News/AFP) - Kelompok separatis bersenjata Basque ETA
hari Minggu menyatakan siap melangkah maju di jalur perubahan politik,
namun tidak menyebutkan kesediaan meninggalkan kekerasan seperti yang
dituntut oleh pemerintah Spanyol.
"ETA... siap mengambil
langkah-langkah penting di jalur perubahan politik," kata kelompok itu
dalam pernyataan yang diterbitkan di harian Gara yang diterjemahkan
dari bahasa Basque ke dalam bahasa Spanyol.
Pada Februari, sejumlah separatis terkenal yang dekat dengan partai
terlarang Batasuna meminta masalah Basque diselesaikan dengan cara
demokratis dan tanpa kekerasan, namun mereka tidak secara tegas
mengecam ETA.
Mantan jurubicara Batasuna, sayap politik ETA, Arnaldo Otegi,
mengatakan sebelumnya bulan ini, kelompok itu harus segera meninggalkan
kekerasan atau dikalahkan. Namun, pernyataan Minggu itu tidak
menyebutkan secara jelas masalah peletakan senjata,
ETA mengungkapkan "kesiapannya mengatasi konflik" namun juga
mengukuhkan lagi "keterkaitannya dengan negara Basque" dan tekadnya
untuk "berjuang gigih bagi negara Basque".
"Kami tidak akan berhenti sebelum mencapai kemerdekaan," kata pernyataan itu.
ETA, yang dianggap sebagai organisasi teroris baik oleh Uni Eropa
maupun AS, ingin mendirikan sebuah negara Basque yang wilayahnya
mencakup Spanyol utara dan Prancis baratdaya.
Kelompok separatis itu hari Rabu (17/3) dituduh membunuh seorang polisi
dalam tembak-menembak di dekat Paris, serangan mematikan pertama oleh
kelompok bersenjata itu terhadap seorang aparat Prancis dalam operasi
gerilya mereka yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun. ETA belum
mengklaim tanggung jawab atas pembunuhan itu.
Perdana Menteri Francois Fillon mengumumkan bahwa polisi itu telah
menjadi korban "pembunuhan berdarah dingin oleh sebuah kelompok
teroris", dan ia berjanji memburu orang-orang yang bertanggung jawab
atas serangan tersebut.
Spanyol dan Prancis bekerja erat untuk menumpas ETA, yang bertanggung
jawab atas kematian ratusan orang dalam perang gerilya 41 tahun mereka
untuk mendirikan negara merdeka Basque di wilayah-wilayah Spanyol utara
dan Perancis baratdaya.
ETA, yang beberapa waktu lalu memperingati setengah abad kelahiran
mereka, dibentuk pada 31 Juli 1959 oleh sebuah kelompok nasionalis
mahasiswa sayap kiri yang menentang kediktatoran sayap kanan Jendral
Francisco Franco, yang menindas bahas Basque.
Pasukan keamanan memperkirakan bahwa kelompok separatis itu, yang
melemah akibat penangkapan para pemimpin tinggi mereka dan telah lama
relatif tidak aktif, berusaha melakukan unjuk kekuatan untuk
membuktikan bahwa mereka masih bisa melancarkan serangan terhadap
pemerintah Spanyol dan menjaga semangat para pendukungnya.
Meski sebagian besar penduduk Basque tampaknya mendukung kemerdekaan
bagi wilayah pegunungan itu, yang sudah memiliki otonomi besar,
dukungan bagi kekerasan menurun dalam beberapa tahun terakhir ini.
Serangan fatal yang dituduhkan pada ETA terjadi pada Juni 2009, ketika
sebuah bom mobil menewaskan seorang polisi anti-teroris di kota Bilbao,
Basque.
ETA dituduh bertanggung jawab atas kematian lebih dari 800 orang dalam
operasi kekerasan mereka selama puluhan tahun untuk kemerdekaan Basque.
Para analis mengatakan, ETA kehilangan dukungan bagi perjuangan mereka
melalui kekerasan, namun pengumpulan pendapat umum menunjukkan
mayoritas penduduk Basque mungkin masih menginginkan kemerdekaan
wilayah itu dari Spanyol.
Pada April, polisi menangkap tersangka komandan utama ETA Jurdan
Martitegi, sehingga jumlah komandan mereka yang ditangkap menjadi empat
orang dalam waktu kurang dari setahun.
Pemerintah Sosialis Perdana Menteri Jose Luis Rodriguez Zapatero
menghentikan perundingan perdamaian dengan ETA setelah pemberontak
tersebut membunuh dua orang dalam serangan bom mobil di bandara Madrid
pada Desember 2006. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com