10 Orang Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri di Afghanistan
Senin, 22 Maret 2010 01:17 WIB | 1176 Views
Kandahar, Afghanistan (ANTARA News/AFP) - Sedikitnya 10 orang yang
sedang berwisata di pinggir sebuah sungai di wilayah selatan untuk
merayakan tahun baru Afghanistan tewas dalam serangan bom bunuh diri,
Minggu, kata polisi dan pejabat.
Pelaku bom bunuh diri yang
naik motor roda tiga tampaknya berusaha menyerang konvoi militer
Afghanistan, namun sasarannya meleset, kata seorang jurubicara
pemerintah provinsi Helmand.
"Penyerang bom bunuh diri meledakkan sepeda motor ketika kendaraan
Tentara Nasional Afghanistan (ANA) lewat," kata Daud Ahmadi kepada AFP.
"Ledakan itu menewaskan 10 warga sipil dan melukai tujuh orang lain,"
katanya, dengan menambahkan bahwa pemboman itu terjadi sekitar pukul
13.45 (pukul 16.15 WIB) di distrik Gereshk, Helmand, yang merupakan
ajang kegiatan gerilyawan Taliban.
Ledakan itu menghancurkan sebuah jembatan di jalan raya utama antara
ibukota Afghanistan, Kabul, dan Herat, kota kedua Afghanistan, katanya.
Di bawah jembatan itu, massa berkumpul di pinggir sebuah sungai untuk
merayakan Nowruz, tahun baru Zoroastrian yang jatuh pada 21 Maret.
Direktur kesehatan masyarakat provinsi Helmand, Anayatullah Ghafari,
mengatakan, dua anak termasuk diantara korban cedera yang dibawa ke
sebuah rumah sakit setempat.
Presiden Hamid Karzai mengutuk serangan "teroris" itu, yang disebutnya
"bertentangan dengan semua prinsip Islam dan kemanusiaan... yang
membuat 17 orang tak berdosa bersimbah darah."
Gereshk adalah sasaran operasi militer pada pertengahan 2009 yang
bertujuan melenyapkan gerilyawan Taliban yang menguasai wilayah itu,
bersama kartel-kartel narkoba lokal.
Para pemimpin militer Afghanistan dan NATO belum lama ini memuji
distrik itu sebagai model keberhasilan dalam membasmi Taliban dan
mengganti sistem keadilan keras mereka dengan pelayanan keamanan dan
sipil pemerintah.
Operasi militer sedang berlangsung di Marjah, sekitar 70 kilometer
sebelah selatan Gereshk, sebagai bagian dari strategi
kontra-pemberontakan yang bertujuan melenyapkan Taliban dari Helmand.
Marinir AS saat ini memimpin 15.000 prajurit AS, NATO dan Afghanistan
dalam Operasi Mushtarak yang bertujuan menumpas militan, yang
diluncurkan menjelang fajar Sabtu (13/2) untuk membuka jalan agar
pemerintah Afghanistan bisa mengendalikan lagi daerah Helmand penghasil
opium.
Ofensif itu dikabarkan mendapat perlawanan sengit dari Taliban, yang
melancarkan serangan-serangan dari balik tameng manusia dan memasang
bom pada jalan, bangunan dan pohon.
Presiden Hamid Karzai memperingatkan bahwa pasukan harus melakukan
semua langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil.
Saat ini terdapat lebih dari 120.000 prajurit internasional, terutama
dari AS, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah
Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa
Taliban.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan
pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh
invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin
Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan
di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11
September 2001.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO berkekuatan
lebih dari 84.000 prajurit yang berasal dari 43 negara, yang bertujuan
memulihkan demokrasi, keamanan dan membangun kembali Afghanistan, namun
kini masih berusaha memadamkan pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Kekerasan di Afghanistan mencapai tingkat tertinggi dalam perang lebih
dari delapan tahun dengan gerilyawan Taliban, yang memperluas
pemberontakan dari wilayah selatan dan timur negara itu ke ibukota dan
daerah-daerah yang sebelumnya damai.
Delapan tahun setelah penggulingan Taliban dari kekuasaan di
Afghanistan, lebih dari 40 negara bersiap-siap menambah jumlah prajurit
di Afghanistan hingga mencapai sekitar 150.000 orang dalam kurun waktu
18 bulan, dalam upaya baru memerangi gerilyawan.
Sekitar 520 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun
itu sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak
invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap
perang itu merosot.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan
dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan
pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi)
mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di
Afghanistan, menurut militer. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com