Jakarta (ANTARA News) - Penasihat khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim George Soros mengatakan, peran Indonesia untuk mendorong mengatasi pemanasan global sangat besar.

Hal tersebut disampaikan Soros dalam keterangan pers di Kantor Presiden Jakarta Senin, usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Saya ditugaskan oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk pantau langkah pencegahan global warming. Indonesia salah satu yang memimpin dan Presiden pegang peranan penting dengan menawarkan 26 persen kurangi emisi dan lebih dari itu bila ada asistensi," katanya.

Ia menjelaskan kunjungannya ke Indonesia dan sejumlah negara menunjukkan dukungan yang besar tindaklanjut langkah pengurangan pemanasan global dan ia optimistis akan ada langkah subtansial mengenai hal tersebut.

Mengenai keinginan adanya bantuan bagi Indonesia dari dunia internasional agar bisa mengurangi emisi hingga 41 persen, Soros mengatakan itu adalah hal yang baik dan perlu diperhatikan.

"Melindungi hutan dan sekitarnya, Indonesia harus mengeluarkan sejumlah dana untuk itu. Itu akan memberikan kontribusi yang besar dengan pengurangan emisi dan memerlukan bantuan internasional. Bisa melalui pinjaman namun lebih baik melalui hibah," katanya.

Sementara itu Staf khusus Presiden bidang luar negeri Dino Pati Djalal mengatakan pembicaraan keduanya mengenai proses setelah Kopenhagen.

"Dan presiden berharap di Meksiko nanti dihasilkan konsensus global baru Indonesia akan tetap aktor yang kontruktif," katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima investor keuangan global George Soros sebagai penasihat khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim.

Soros diterima Presiden di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin, pada pukul 14.30 WIB.

Presiden didampingi, antara lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta serta Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Dalam pengantarnya, Presiden menyampaikan harapan kepada Soros agar negara-negara di dunia dapat berbuat lebih untuk meningkatkan hasil dari konferensi di Copenhagen, Denmark, pada Desember 2009, agar dapat dirumuskan pengganti Protokol Kyoto yang akan berakhir pada 2012.

Kepada Soros, Presiden juga menyampaikan agenda prioritas Indonesia untuk terus memerangi pembalakan hutan dan mengurangi laju pembabatan hutan.

Kepala Negara menyampaikan harapan agar Soros sebagai penasihat khusus PBB di bidang perubahan iklim dapat bekerjasama lebih erat dengan Indonesia.

Sejak Februari 2010, Soros ditunjuk sebagai penasehat khusus Sekjen PBB untuk perubahan iklim, guna memobilisasi pembiayaan untuk mengatasi perubahan iklim.

(T.P008*D013/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010