Sukabumi (ANTARA News) - Kasus gagal ginjal di Indonesia setiap tahunnya masih terbilang tinggi, pasalnya masih banyak masyarakat Indonesia tidak menjaga pola makannya dan kesehatan tubuhnya. "Meski belum dilakukan survei secara nasional, tetapi berdasarkan perbandingan data dengan negara lain kasus gagal ginjal di Indonesia tinggi. Di negara Amerika Serikat saja perbandingannya untuk klasifikasi orang dewasa dari sebanyak sepuluh orang satu diantaranya terkena gagal ginjal," kata Konsultan Ginjal dan Hipertensi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, (Unair) Surabaya dan RSU Dr Sutomo, Dr Djoko Santoso Sp PD-KGH, PhD pada Seminar Kesehatan di Kota Sukabumi, Kamis. Menurut dia, kondisi di Indonesia akan lebih banyak, apalagi banyak orang Indonesia yang tidak bisa menjaga pola makan dan menjaga kesehatannya. Ia mengatakan, tingginya kasus gagal ginjal berpotensi pada tingginya kasus kematian, pasalnya dalam satu tahun cuci darah saja hanya terdapat 70 pasien yang masih bertahan dari total seratus penderita yang berobat ke satu dokter. "Penyebab kematian biasanya karena gagal ginjalnya tidak dapat ditanggulangi dan ditambah dengan serangan jantung, stroke dan sesak napas," jelas Djoko. Djoko menyebutkan, penanganan terhadap pasien gagal ginjal saat ini terkendala dengan tingginya biaya pengobatan, karena biaya pengobtan bagi penderita gagal ginjal mencapai Rp3 juta/bulan. Ini menjadi dilema tersendiri bagi petugas kesehatan dan pemerintah dan keluarga pasien untuk membantu biaya pengobatan," ujarnya. Selain itu, masih sedikitnya ahli penyakit gagal ginjal menjadi tantangan dalam menangani pasien gagal ginjal di Indonesia, karena saat ini dokter spesialis ahli gagal ginjal baru mencapai di bawah 80 orang. "Ironisnya, kebanyakan dokter tersebut hanya tersebar di kota-kota besar saja yang terdapat Fakultas Kedokterannya. Jika tidak ada FK nya, maka tidak ada ahli gagal ginjalnya sehingga harus dirujuk ke rumah sakit daerah lain," papar Djoko seraya mengatakan kebanyakan penderita gagal ginjal berasal dari golongan ekonomi lemah. Ia menambahkan untuk mengantisipasi meningkatnya penderita gagal ginjal perlu adanya sosialisasi pencegahan gagal ginjal, karena ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan harus mengeluarkan biaya yang rekatif besar untuk mengobati penyakit gagal ginjal. "Sosialisasi ini tidak hanya dari tim medis saja, tapi pemerintah juga ikut berperan dalam menanggulangi penyakit gagal ginjal," katanya.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2008