53 Tewas, 197 Cedera Dalam Serangan Bom di Pakistan
Sabtu, 4 September 2010 00:30 WIB | 1333 Views
Quetta, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Sedikitnya 53 orang tewas dan 197
cedera Jumat dalam serangan bom bunuh diri yang ditujukan pada pawai
muslim Syiah di kota Quetta, Pakistan baratdaya, kata polisi.
Penyerang termasuk diantara massa yang berjumlah sekitar 450
orang dan meledakkan bom ketika mencapai lapangan utama di kota itu,
kata polisi.
Ledakan itu mengakibatkan suasana kacau, dimana massa yang marah
mulai melakukan pembakaran dan melepaskan tembakan ke udara dan yang
lain lari atau telungkup di tanah agar tidak terkena tembakan.
"Menurut laporan yang diterima dari rumah-rumah sakit, 53 orang
tewas dan 197 cedera," kata Sardar Khan, kepala bagian pengawasan
kepolisian Quetta, kepada AFP melalui telefon.
Pemboman itu merupakan yang terakhir dari serangkaian serangan
yang tampaknya sektarian, setelah tiga serangan bom bunuh diri
menewaskan 31 orang dan mencederai ratusan lain Rabu pada saat acara
perkabungan Syiah di kota Lahore, Pakistan timur.
Pawai Jumat itu dilakukan untuk memperingati hari Al-Quds,
peristiwa internasional yang diadakan setiap tahun oleh masyarakat Syiah
untuk menentang cengkeraman Israel atas Yerusalem dan menunjukkan
solidaritas pada muslim Palestina.
Muslim Syiah merupakan minoritas di Pakistan, sekitar seperlima
dari penduduk negara itu yang berjumlah 160 juta orang yang didominasi
orang Sunni.
Malik Iqbal, kepala kepolisian provinsi Baluchistan, mengatakan,
penyelenggara pawai itu telah diperingatkan agar menggunakan rute-rute
berbeda untuk menghindari serangan teror yang mungkin dilakukan.
Polisi terpaksa memadamkan kerusuhan yang terjadi setelah
pemboman bunuh diri itu, kata Khan.
"Massa yang marah berusaha membakar sebuah bangunan swasta dan
kendaraan. Beberapa peserta pawai bersenjata dan mereka melepaskan
tembakan ke udara. Mereka juga membakar sejumlah sepeda dan
sepeda-motor," kata Khan.
Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani mengutuk keras
pemboman itu dan mendesak penyelidikan segera atas insiden tersebut.
Kedutaan Besar AS juga mengutuk serangan itu.
Serangan-serangan bom yang berkaitan dengan Taliban dan Al-Qaeda
di Pakistan menewaskan lebih dari 3.660 orang dalam tiga tahun ini sejak
pasukan pemerintah mengepung kelompok garis keras di sebuah masjid di
ibu kota negara itu, Islamabad, pada Juli 2007.
Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar
menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah
meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan
internasional di Afghanistan.
Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak
ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu
setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah
Taliban di Afghanistan.
Pasukan Pakistan meluncurkan ofensif udara dan darat ke kawasan
suku Waziristan Selatan pada 17 Oktober 2009, dengan mengerahkan 30.000
prajurit yang dibantu jet tempur dan helikopter meriam.
Meski terjadi perlawanan di Waziristan Selatan, banyak pejabat
dan analis yakin bahwa sebagian besar gerilyawan Taliban telah melarikan
diri ke daerah-daerah berdekatan Orakzai dan Waziristan Utara.
Waziristan Utara adalah benteng Taliban, militan yang terkait
dengan Al-Qaeda dan jaringan Haqqani, yang terkenal karena menyerang
pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, dan AS menjadikan daerah itu
sebagai sasaran serangan rudal pesawat tak berawak.
Beberapa analis juga telah memperingatkan bahwa Taliban dan
sekutu mereka akan meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan di
Bajaur dan kawasan suku lain lagi untuk mengalihkan fokus perhatian dari
Waziristan Selatan.
Pasukan keamanan melakukan operasi besar-besaran terhadap militan
muslim di Mohmand dan Bajaur pada Agustus 2008. Pada Februari 2009,
militer menyatakan bahwa Bajaur bersih setelah pertempuran sengit
berbulan-bulan, namun kerusuhan terus berlangsung.
Menurut militer, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka
melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus 2008, termasuk komandan
operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang
berkebangsaan Mesir.
Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai
Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.
Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan
kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan
kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di
Afghanistan. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com