Ahmadinejad: Serang Iran Sama Dengan Hancurkan Israel
Senin, 6 September 2010 00:53 WIB | 3660 Views
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. (ANTARA/REUTERS/Shannon Stapleton)
Berita Terkait
Doha (ANTARA News/AFP) - Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengesampingkan
kemungkinan serangan terhadap Iran terkait dengan program nuklirnya,
selama kunjungan ke Qatar, Minggu, karena aksi semacam itu akan mengarah
pada kehancuran Israel.
"Serangan terhadap Iran akan mengarah pada kehancuran kesatuan
wilayah Zionis," katanya pada jumpa pers di Doha bersama Emir Qatar
Syeikh Hamad bin Khalifa al-Thani setelah perundingan mereka.
Israel, satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki
senjata nuklir namun tidak diumumkan, tidak mengesampingkan serangan
militer untuk mencegah Iran memiliki kemampuan senjata atom, sebuah
ambisi yang ditentang keras oleh musuh-musuh Teheran.
"Kesatuan Zionis dan pemerintah AS akan menyerang negara di
kawasan itu kapan pun mereka bisa melakukannya, dan mereka tidak akan
menunggu untuk memperoleh izin. Namun (untuk saat ini) mereka belum bisa
melakukannya," katanya.
"Iran memiliki kemampuan untuk membalas, kuat dan keras," tambah
Ahmadinejad memperingatkan.
Presiden garis keras Iran itu menyatakan, pembicaraan mengenai
perang terhadap Iran utuk menghentikan program nuklirnya bertujuan
memberikan tekanan psikologis terhadap Teheran.
"Tidak akan ada perang terhadap Iran. Apa yang mungkin terjadi
adalah perang psikologis," katanya.
Presiden Iran itu juga mengecam lagi peluncuran perundingan
langsung antara Palestina dan Israel.
Iran menjadi sorotan dunia karena program nuklirnya yang
kontroversial. Negara itu sudah dikenai tiga paket sanksi PBB karena
penolakannya untuk menghentikan pengayaan uranium, salah satu dari
sejumlah langkah penting untuk membuat energi nuklir bagi
kepentingan-kepentingan sipil ataupun militer.
Ketegangan menyangkut program nuklir Iran memuncak setelah mereka
menolak perjanjian nuklir yang ditengahi badan atom PBB itu dan juga
mengumumkan rencana untuk membangun pabrik pengayaan uranium baru.
AS, Israel dan sejumlah negara Barat menuduh Iran menggunakan
program nuklirnya sebagai selubung untuk membuat senjata atom, namun
Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk kepentingan sipil
damai.
Selain program nuklir, negara-negara Barat juga menyuarakan
keprihatinan yang meningkat atas kerusuhan pasca pemilihan presiden
tahun lalu, yang telah mengguncang pilar-pilar pemerintahan Islam dan
meningkatkan kekhawatiran mengenai masa depan negara muslim Syiah itu,
produsen minyak terbesar keempat dunia.
Iran dilanda pergolakan besar setelah pemilihan umum Juni 2009
yang disengketakan itu.
Ratusan reformis ditahan dan diadili dalam penumpasan terhadap
oposisi pro-reformasi setelah pemilihan umum presiden itu, yang disusul
dengan kerusuhan terbesar dalam kurun waktu 31 tahun.
Dua calon presiden yang kalah, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi
Karroubi, mantan ketua parlemen yang berhaluan reformis, bersikeras
bahwa pemilihan Juni itu dicurangi untuk mendudukkan lagi Mahmoud
Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan.
Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang telah membawa Iran ke arah
benturan dengan Barat selama masa empat tahun pertama kekuasaannya
dengan slogan-slogan anti-Israel dan sikap pembangkangan menyangkut
program nuklir negaranya, dinyatakan sebagai pemenang dengan memperoleh
63 persen suara dalam pemilihan tersebut.
Para pemimpin Iran mengecam "campur tangan" negara-negara Barat,
khususnya AS serta Inggris, dan menuduh media asing, yang sudah
menghadapi pembatasan ketat atas pekerjaan mereka, telah mengobarkan
kerusuhan di Iran.
Sejumlah pejabat Iran mengatakan bahwa 36 orang tewas selama
kerusuhan itu, namun sumber-sumber oposisi menyebutkan jumlah kematian
72. Delapan orang lagi tewas selama protes anti-pemerintah pada 27
Desember, menurut data resmi. (M014/K004)Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com