Jakarta (ANTARA News) - Jumlah warga Inggris yang masuk Islam mencapai rekor baru yaitu lebih dari 100 ribu orang. Daily Mail melaporkan bahwa perempuan kulit putih adalah yang paling banyak masuk Islam.

Sepuluh tahun lalu jumlah warga Inggris yang masuk Islam 50 ribu orang. Studi mengenai hal itu muncul dalam laporan Faith Matters, organisasi multi-keyakinan.

Laporan itu mengemukakan para pemeluk baru Islam itu menilai keyakinan mereka cocok dengan kehidupan di Inggris.

"Para mualaf umumnya tak menilai warga Inggris memusuhi Islam," tulis laporan tersebut.

Menurut laporan tersebut, sekitar 5.200 orang jadi mualaf dalam setahun terakhir dan 1.400 orang di antaranya tinggal di London.

Hampir 2/3 mualaf adalah perempuan, 70 persen di antaranya adalah kulit putih dan rata-rata berusia 27 tahun.

Tahun 2001 diperkirakan jumlah muslim di Inggris sekitar 60 ribu orang. Menurut laporan tersebut hanya segelintir kecil dari mereka yang masuk ke dalam ekstrimisme.

Survei itu dilakukan oleh Kevin Brice, akademisi di Seansea University. Dia menanyai para mualaf tentang aspek negatif budaya di Inggris.

Para mualaf menjawab bahwa dalam pandangan mereka aspek negatif itu adalah alkohol dan minum-minum, "kurangnya moralitas dan permisif dalam hal seksual" serta "konsumerisme yang tanpa kendali".

Banyak dari para mualaf khawatir prilaku immoral menjadi hal yang normal, seiring masyarakat yang makin tak religius.

Sembilan dari sepuluh perempuan mualaf mengatakan agama mereka kini menuntun mereka berbusana lebih konservatif. Lebih dari setengahnya mulai mengenakan kerudung dan lima persen mengatakan telah mengenakan burqa.

Lebih dari setengah juga mengaku mengalami kesulitan setelah memeluk Islam karena sikap negatif dari keluarga.

Fiyaz Mughal, direkut Faith Matters mengemukakan "Memeluk Islam selama ini di-stigma oleh media dan secara keliru diasosiasikan dengan ideologi-ideologi ekstremis serta praktik-praktik diskriminatif."

Salah seorang yang kini memeluk Islam adalah Lynne Ali, (31), bekas Disc Jockey.

Pada usia 19, dia menjadi mualaf dan mengaku bahagia bisa menemukan "jalan untuk keluar" dari kehidupan sebelumnya.

"Aku datang ke pesta ulang tahun ke-21 teman lamaku. Saat saya masuk bar, saya mengenakan jilbab sedangkan semua orang berpakaian minim. Mereka mabuk, berkata asal dan menari yang provokatif."

"Untuk pertama kalinya, dengan sudut pandang orang lain, saya dapat melihat kehidupan saya dulu. Saya tahu pasti saya tak akan kembali ke hal seperti itu."

"Saya sangat bahagia menemukan jalan untuk keluar kabur. Inilah saya yang sebenarnya -- saya bahagia bisa salat lima waktu dan belajar di masjid. Aku kini bukan budak dari masyarakat yang kacau balau."
(A038/A038/BRT)

Penerjemah: Aditia Maruli Radja
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011