Jakarta (ANTARA News) - Indonesia menjadi negara percontohan dalam uji kompetensi kemampuan "dies finishing" untuk otomotif di ASEAN karena merupakan negara pertama yang memiliki tempat uji ketrampilan tersebut di kawasan Asia Tenggara, dan kedua di Asia setelah Jepang.

Siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin, menyebutkan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) ditunjuk oleh Badan Nasional Sertifikasi dan Profesi (BNSP) menjadi tempat uji kompetensi (TUK) penyelenggaraan sertifikasi "die finishing" tingkat 2 dan 3 di Indonesia. Sebelum Indonesia memiliki TUK "die finishing", sertifikasi hanya dapat dilakukan di Jepang.

"Kami sangat senang dan bangga telah dipercaya untuk berkontribusi pada aktivitas ini. Kami percaya pada masa mendatang dengan sertifikasi nasional ini, Indonesia dapat meraih dan memperbaiki kualitas dari sumber daya," kata Direktur TMMIN Edward Otto Kanter.

TMMIN menyelenggarakan uji kompetensi "dies finishing" pada tanggal 6-8 Pebruari 2012. Uji kompetensi itu diikuti oleh 29 insinyur dari berbagai perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Mold & Dies Industry Association (IMDIA).

Sertifikasi "die finishing" tingkat 2 dan 3 ini juga dihadiri oleh perwakilan dari enam negara Asia, yakni Thailand, India, Malaysia, Filipina, Kamboja, dan Vietnam. Kehadiran perwakilan enam negara tersebut dalam rangka studi banding dan "benchmarking" untuk bidang dies.

Kegiatan uji kompetensi dan sertifikasi di bidang dies tersebut merupakan hasil kerja sama pemerintah Indoesia melalui BNSP dan pemerintah Jepang melalui Japan Vocational Ability Development Association (JAVADA).

Dirjen JAVADA Mitsunobu Kawakami mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara pertama yang menjadi tempat uji kompetensi dies di ASEAN karena Indonesia memiliki pasar otomotif yang besar. Selain itu, industri otomotif di Indonesia telah menjadi pendorong perkembangan ekonomi nasional.

"Saat ini diperlukan begitu banyak sumber daya manusia berkualitas, namun sayang sekali pemenuhan kebutuhan tersebut sangat terbatas. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem pengembangan sumber daya manusia sesegera mungkin untuk mendukung perkembangan ekonomi, salah satunya melalui kegiatan sertifikasi ini," kata Kawakami.

Di TMMIN sendiri, menurut Edward Otto Kanter, seluruh karyawan yang berada di divisi Dies and Jigs Design and Fabrication (DJDF) telah memiliki sertifikasi. Hasil fabrikasi dies TMMIN memiliki standar global yang diaku oleh dunia.

Pada tahun 1987, TMMIN melakukan ekspor perdana dies ke Taiwan. Kini ekspor dies TMMIN merambah ke 10 negara lainnya, yakni Afrika Selatan, Turki, India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Taiwan, Filipina, Australia, dan Jepang. Volume ekspor dies TMMIN rata-rata per tahun mencapai angka 120.000 unit.
(Tz.R016/D007)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar