Itu duit rakyat
Rabu, 22 Februari 2012 11:48 WIB | 3271 Views
A.A. Ariwibowo
uang rakyat (FOTO ANTARA/Noveradika)
Lagi-lagi rakyat, lagi-lagi rakyat kena batunya...apakah rakyat senantiasa menjadi tumbal dari kalkulasi pencarian nikmat.
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Obral ngobrol soal berbohong berbalut dusta, perhatian masyarakat diseret-seret kepada sosok politikus Partai Demokrat Angelina Sondakh. Imbaun cepat-cepat diluncurkan dari mereka pemegang saldo kebenaran di lapangan kebebasan, "Mbak Angie, jujur dong."
Ini jelas-jelas bukan awal dari wacana yang dipungut dari percakapan romantis sarat cinta berbalut duka dalam telenovela. Ini drama, ini drama Angie yang berkait dengan duit rakyat. Drama duit rakyat.
Angie membantah seluruh isi percakapan Blackberry Messenger (BBM) antara dirinya dengan Direktur PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang, dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (15/2). Dia "lupa" dan "tidak pernah" menerima gelontoran duit rakyat dari proyek Wisma Atlet.
Di mana duit rakyat? Dalam percakapan itu, Angie meminta Rosa menyiapkan "apel malang" (uang rupiah) dan "apel washington" (dolar Amerika Serikat) untuk disajikan kepada ketua besar di pinggan kebesaran hati rakyat. Bukankah itu duit rakyat?
Plesetannya, apel malang dan apel washington nyatanya ada lho. Dua-duanya enak dikonsumsi dan berguna bagi kesehatan tubuh. Rakyat sehat bergizi oleh duit rakyat.
Ibaratnya, apakah memang buah "apel malang" dan buah "apel washington" dapat tumbuh dari pohon kebohongan seputar duit rakyat? Bohong itu bohong, kata anak baru gede (ABG) yang ingat dengan pernyataan para guru di sekolahnya. Kontan, telinga para ABG terngiang-ngiang dengan bunyi dentuman mistar kayu yang dipukulkan di atas meja sang guru.
Kalau dalam hal kecil-kecil saja doyan membohongi rekan sepergaulannya, maka dalam hal-hal besar patut mendulang tanda tanya besar, apakah berbohong memang membawa nikmat (pleasure) dan membebaskan diri dari rasa tidak enak (freedom from pain), misalnya janji kencan bagi dua insan yang disulut bara kasmaran.
Contohnya, nona XYZ di kawasan Grgl, mengirim pesan singkat, "nanti kita kongkow di situ tuh", tapi kenyataannya sang bidadari ingkar janji tanpa kata-kata. Kencan keduanya yang membawa nikmat tentunya tidak membawa-bawa duit rakyat. Nikmat "yes", duit rakyat "no".
Apa yang dirasakan dua insan itu dapat disebut sebagai utilitarisme (utilis dalam bahasa Latin berarti berguna).
Utilitarisme berangkat dari situasi ketika seseorang berhadapan dengan pelbagai kemungkinan bertindak dan tidak tahu alternatif mana yang harus dipilih.
Dari teropong paham itu, bila seseorang berbohong maka ia berhadapan dengan beragam kemungkinan, antara berbohong atau berkata sebenar-benarnya. Dengan melakukan kebohongan, orang itu cepat-cepat memberangus alternatif bertindak. Ia seakan berkata, saya telah berbohong, mana saya ada.
Contohnya, kalau seorang sekretaris berkata kepada para buruh bahwa, "Bapak direktur sedang rapat, dia tidak dapat ditemui," maka benar-benar sang sekretaris memahami betul makna tindakan, makna perbuatan, dan makna perkataan.
Contohnya, kalau seorang manajer di sebuah kantor swasta berkata kepada anak buahnya bahwa, "para manajer menggelar rapat kerja di luar kota untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berdayaguna," maka sang manajer itu telah lebih dulu tahu apa itu nikmat, apa itu rasa tidak enak.
Soalnya sekarang, itu duit rakyat. Soal duit rakyat bersama rasa nikmat dan rasa tidak enak, publik perlu mencermati bahwa penyaluran kredit usaha rakyat sampai Januari mencapai Rp1,9 trilyun lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu Rp1,8 trilyun.
Soal duit rakyat, tahun ini pemerintah menyediakan dana Rp1,8 triliun untuk 1,5 juta keluarga miskin. Besaran uang yang ditebar sejumlah Rp1,3 juta hingga Rp2,2 juta per keluarga. Ini jelas duit untuk rakyat, untuk rakyat.
Sekretaris Eksekutif Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Bambang Widianto menyatakan program itu berbeda dengan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah. Pemberian bantuan itu kriterianya, apakah dalam keluarga itu ada anak balita atau ibu hamil dan menyusui, apakah ada anak yang sudah bersekolah di tingkat SD atau SMP.
Lantaran iming-iming nikmat seputar menikmati duit rakyat, ada bentangan judul di sebuah harian nasional "APBD Dikorupsi hingga tingkat kelurahan".
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Taufiqurrahman bicara penggunaan dan pemanfaatan duit rakyat. "Ini fakta yang saya temukan di Kelurahan Bungur, Jakarta Selatan, warga juga dimintai biaya kerja bakti. Lucunya kelurahan sudah menyediakan dana sebesar RP99 juta untuk kerja bakti. Ini baru dua kelurahan," katanya.
Soal duit rakyat pula, jumlah kecelakaan angkutan laut di Indonesia - menurut Kementrian Perhubungan - hingga Oktober 2011 mencapai 139 kejadian dengan didominasi kapal tenggelam sebanyak 45 kejadian.
Korban tewas akibat kecelakaan angkutan laut hingga Oktober 2011 mencapai 150 orang, melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan 2010 sebanyak 65 orang. Yang jadi korban, rakyat.
Lagi-lagi rakyat, lagi-lagi rakyat kena batunya. Dengan lugas budayawan YB Mangunwijaya (alm) pernah mengajukan pertanyaan getir ketika merespons Orde Baru, apakah rakyat senantiasa menjadi tumbal dari kalkulasi pencarian nikmat.
Padahal, hukum besi utilitarisme, menurut staf pengajar STF Driyarkara, Frans Magnis-Suseno SJ, "bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat tindakanmu paling menguntungkan bagi semua yang bersangkutan."
Dan filsuf John Stuart Mill menegaskan, lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada hewan yang puas; lebih baik menjadi Sokrates yang tidak puas daripada seorang tolol yang puas.
Pilih mana, hewan yang puas, atau Sokrates, atau seorang tolol yang puas? Pilihlah, seorang rakyat yang menghardik, itu duit rakyat!
(A024)
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com