Berita Terkait
New Delhi (ANTARA News) - Geliat perekonomian India yang tumbuh secara fantastis dalam beberapa tahun terakhir nampak telah membawa banyak perubahan di negara tersebut.

Mobil sedan anyar banyak berseliweran di jalan-jalan kota besar India semacam New Delhi dan Bangalore, sudah menjadi pemandangan biasa.

Berbagai model mobil baru, baik impor maupun produk lokal tersebut ikut memadati lalu lintas di India yang semrawut dan selalu bising oleh bunyi klakson kendaraan bermotor. Baliho besar iklan mobil baru juga marak di pinggiran jalan lengkap dengan harganya.

Gedung-gedung bertingkat untuk perkantoran, bisnis maupun sarana publik terus dibangun di seantero negeri.

Gambaran kemakmuran sebagian warga India tersebut sejalan dengan tumbuhnya warga kelas menengah di negara berpenduduk 1,2 miliar orang atau terbanyak kedua di dunia setelah China.

Pertumbuhan ekonomi India yang pesat dan membaiknya pendapatan per kapita penduduk menyebabkan jumlah kelas menengah meningkat hingga mencapai sekitar 300 juta orang. Bagusnya lagi, hasil survei Central Statistic Office (CSO) India itu menyebutkan pula bahwa tiga pertiga diantaranya merupakan usia muda produktif.

Pandangan global terhadap India pun sekarang bergeser. Ketika pemandangan kota-kota India masih diwarnai dengan kekumuhan, kotor dan kemiskinan, India diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru Asia dengan potensi pasar dan daya tarik investasi yang menggiurkan pemodal asing.

Perubahan wajah ekonomi India memang berlangsung cukup cepat. Sebagaimana diketahui, India baru menerapkan ekonomi pasar dalam dua dasawarsa terakhir. Sebelumnya pemerintah mengontrol secara ketat sistem perekonomiannya.

Baru sekitar tahun 1990-an pemerintah India mulai membuka pasarnya. Kemudian belakangan diikuti dengan peluncuran rangkaian kebijakan deregulasi sektor keuangan, liberalisasi perdagangan dan membuka kran investasi asing langsung.

Peran serta swasta dan modal asing dibuka lebar terutama untuk proyek-proyek infrastruktur seperti jalan, jembatan, pembangkitan listrik, bandara, pelabuhan dan jaringan kereta.

"Pemerintah India akan terus mendorong pola kemitraan swasta publik atau public private partnership (PPP) untuk pembangunan infrastruktur itu," tegas Deputi Komisi Perencanaan India, Dr. Montek Singh Ahluwalia saat berdiskusi dengan delegasi 20 wartawan ASEAN yang berkunjung ke kantornya, pekan lalu atas undangan kementerian luar negeri India.

Tokoh kunci di balik keberhasilan reformasi ekonomi India ini mengakui bahwa infrastruktur masih menjadi prioritas dalam Repelita berjalan maupun berikutnya, di samping pembangunan pedesaan, pendidikan dan kesehatan.

Pengembangan sektor infrastruktur tetap diyakini menjadi tulang punggung kesinambungan pertumbuhan ekonomi India yang dalam lima tahun terakhir rata-rata mencapai di atas 7 persen per tahun.

Pembangunan jalan, bandara, pelabuhan dan transportasi publik terus dikebut. New Delhi, sebagai ibukota negara kini memiliki jaringan transportasi rel kereta layang. Pembuatan rel layang itu menghindari terjadinya persimpangan dengan jalan raya yang bisa menimbulkan kemacetan.

Bandara Gandhi International New Delhi terlihat megah dan modern setelah tahun lalu direnovasi total dan kini pengelolaannya dipegang swasta.

Bandara Bangalore juga terus dipercantik agar menunjang sebagai pintu gerbang dari kota yang dijuluki Lembah Silikon India ini.

Bangalore yang populer dengan sebutan Garden City, menjadi basis sebagian besar industri Information Technology (IT) kelas dunia, seperti Microsoft, IBM dan Wipro.

Perusahaan IT terbesar India, Infosys juga membangun kantor pusatnya di Bangalore. Para jurnalis ASEAN yang mengunjungi kantor pusat (kampus) Infosys, Kamis (16/2), takjub dengan luas dan kemegahan unit-unit bangunannya.

Menurut Manager Facilities Infosys, Balakrishnan Palaniappan jumlah bangunan kampus ada 50 unit yang berdiri di areal seluas 40 hektar. Sebagian besar bangunan kampus Infosys mempunyai desain futuristik.

Kampus Infosys yang berada di kawasan Electronics City, Bangalore dipenuhi dengan taman dan dilengkapi dengan berbagai restoran dan fasilitas olahraga seperti lapangan golf, tenis, bola basket dan biliar.

Lingkungan kampus steril dari emisi kendaraan bermotor. Para karyawan dilarang untuk membawa masuk kendaraannya ke dalam areal kampus.

Mereka yang membawa mobil atau motor harus memarkirkan kendaraan di luar kampus. Dari pintu masuk ke gedung tempat mereka bekerja, karyawan diberi alternatif naik mobil bertenaga baterai, sepeda atau berjalan kaki.

Pemimpin Infosys, Narayan Murthy adalah salah satu contoh dari banyaknya wirausahawan (entrepeneur) India yang sukses berjuang dari bawah hingga menjadi pengusaha global.

Sejumlah wirausahawan India lainnya juga banyak yang berhasil mengembangkan usahanya hingga mendunia. Sebut saja diantaranya pemilik Tata Group, Ratan Tata dan Chairman industri bioteknologi Biocon, Kiran Mazumdar-Shaw.

Nama terakhir merupakan wanita pengusaha farmasi asal Bangalore yang mengawali bisnisnya hanya dari garasi rumah pada 1978. "Saat itu belum ada bank maupun lembaga keuangan yang mau membiayai bisnis ini. Apalagi saya seorang wanita," katanya.

Namun dengan keuletan, Kiran mampu mengembangkan Biocon hingga menjadi salah satu produsen insulin bagi penderita diabetes dan obat-obatan kanker, terbesar di Asia.

Penghasilan Biocon dari ekspor produknya ke Amerika Serikat, Eropa dan Jepang kini mencapai 625 juta dolar AS (sekitar Rp6 triliun) per tahun. Dalam waktu dekat industri farmasi yang memperkerjakan 5.500 pegawai ini akan membangun pabrik barunya di Malaysia.


SDM Unggulan

Muncul pertanyaan mengapa India yang lama terbelenggu dengan sistem ekonomi tertutup, kemiskinan dan infrastruktur yang tidak memadai mampu melahirkan para wirausahawan global semacam Ratan Tata, Narayan Murthy maupun Kiran Mazumdar-Shaw?

Jawabnya mungkin bisa karena berbagai faktor. Namun kebanyakan orang yakin kesuksesan mereka terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) unggulan yang berlimpah di negara ini.

India memang memiliki sistem dan kualitas pendidikan standar dunia dengan biaya relatif murah. Sebagai contoh, Indian Institute of Technologi (ITT) yang reputasinya di dunia hanya kalah dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kemudian ada pula Indian Institute of Science (IIS) di Bangalore yang masuk dalam jajaran perguruan tinggi terbaik di dunia.

Kampus IIS yang mirip kebun raya karena dinaungi pepohonan rimbun didirikan pada 1909. Salah seorang direkturnya, CV Raman, berhasil meraih penghargaan Nobel.

"Setiap tahunnya IIS rata-rata bisa mencetak 250 lukusan strata tiga atau doktor bidang sains dan teknologi," kata Public Relation Officer IIS, V Thilagam.

Ia mengatakan bahwa biaya kuliah mahasiswa yang diterima di IIS semuanya ditanggung oleh pemerintah. Meski begitu tidak ada kewajiban  lulusan IIS untuk memenuhi ikatan dinas di instansi pemerintah, tambah Thilagam.

Duta Besar RI untuk India, Letjen (Purn) Andi Ghalib setuju bahwa sistem pendidikan di India yang berstandar tinggi mampu menghasilkan para pelaku bisnis ulung dan mencetak calon pemimpin kelas dunia.

Indonesia diharapkan bisa mengambil manfaat dari keberhasilan India dalam menerapkan sistem pendidikannya. "Caranya adalah dengan menjadikan India sebagai tujuan menuntut ilmu bagi para anak muda Indonesia," kata Dubes.

Andi Ghalib mengatakan bahwa pola pengajaran di perguruan tinggi India banyak berorientasi pada riset sains dan teknologi yang terkoneksi dengan kebutuhan dunia industri. Maka tidak heran jika mereka bisa menghasilkan 75-80 ribu jurnal ilmiah dalam setahun.

Walaupun India sukses mencetak SDM andal dan berdaya saing tinggi, sebagian penduduk negara anak benua Asia Selatan ini sampai sekarang masih terbelenggu kemiskinan dan sulitnya mengakses layanan kesehatan.

Dari catatan resmi pemerintah India sampai tahun 2009-2010, sebagaimana disampaikan Dr. Montek Singh Ahluwaila, sekitar 32 persen dari total penduduk India masih berada di bawah garis kemiskinan dan tingkat putus sekolah dasar sekitar 40 persen.

Sementara warga yang belum mendapatkan layanan dasar kesehatan juga masih cukup tinggi. Fakta ini terlihat paradoks dengan kesuksesan perusahaan-perusahaan farmasi India dalam meriset dan memasarkan produk obatnya ke mancanegara.

Kiran Mazumdar-Shaw mengakui bahwa pemerintah belum menyediakan healthcare system bagi warganya. Sehingga 85 persen biaya kesehatan harus dari kantong masyarakat sendiri. Persoalan kemiskinan dan akses kesehatan tersebut memang masih menjadi tantangan terbesar bagi bangsa India.
(F004/A011))

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar