Namtee, Myanmar (ANTARA News) - Pemimpin pendukung demokrasi Aung San Suu-kyi, Kamis, menyerukan persatuan di antara kelompok suku berbeda Myanmar ketika berkampanye di wilayah terlanda kemelut di bagian pedalaman utara negara itu.

Ribuan orang menyambut penerima Nobel Perdamaian itu di negara bagian paling utara, Kachin, tempat pertempuran berdarah pasukan pemerintah dengan gerilyawan suku kecil membuat puluhanribu orang mengungsi sejak pertengahan 2011.

"Kita tidak bisa melupakan bahwa negara kita adalah persatuan," kata Suu-kyi dalam pidato di kota Namtee untuk menggalang dukungan bagi partainya, Liga Bangsa untuk Demokrasi (NLD), menjelang pemilihan umum sela pada 1 April.

"Kita merebut kemerdekaan karena kelompok suku bersatu untuk bekerja sama. Untuk mencapai demokrasi, semua suku harus bekerja dalam kesatuan," katanya.

Pemilihan umum itu, tempat Suu-kyi untuk pertama kali berusaha merebut kursi parlemen untuk daerah pemilihan dekat Yangon, dipandang sebagai kunci ujian tekad pemerintah dukunagn tentara bagi perubahan baru lahir.

Suu-kyi -kadangkala tidak dipercaya suku kecil- menyeru pengakhiran segera kekerasan di Kachin.

Suu-kyi mencoba untuk memupuk citra sebagai pemimpin Bamar pertama dan terutama, kata pakar Myanmar, Renaud Egreteau, pembantu mahaguru di Universitas Hongkong, merujuk pada kelompok suku utamma di negara itu.

"Wacana selalu digunakannya adalah pemimpin bangsa, yang menggambarkannya sebagai pemersatu seluruh rakyat," katanya kepada kantor berita Prancis AFP.

"Tapi, pada dasarnya, kedudukan Suu-kyi sangat sulit melampaui pesan sederhana menyeru pembicaraan dan rujuk bangsa," katanya.

Perang saudara melanda sebagian Myanmar sejak merdeka pada 1948. Pengakhiran sengketa dan dugaan pelanggaran hak asasi melibatkan pasukan pemerintah adalah kunci tuntutan negara Barat, yang menjatuhkan hukuman kepada penguasa itu.

Pemerintah Myanmar mengadakan pembicaraan perdamaian dengan perwakilan Kelompok Kemerdekaan Kachin pada bulan lalu di Cina, dengan kedua pihak setuju mengadakan perundingan lebih lanjut untuk mengakhiri sengketa itu.

Terjadi kemarahan atas pembangunan pembangkit daya tenaga air dukungan Cina di Kachin, dengan pemerintah pada September memerintahkan penghentian pembangunan bendungan raksasa senilai 3,6 miliar dolar Amerika Serikat sesudah penentangan langka warga.

Ranting zaitun bagi Kachin dan pemberontak lain adalah satu dari sejumlah langkah perubahan oleh pemerintah baru, yang berkuasa pada tahun lalu, meskipun ketidakpercayaan mendalam tentang ketulusan mereka tetap hidup di daerah sengketa suku.

Kedatangan Suu-kyi di Kachin disambut pendukung dengan melambaikan bendera partai merak tarung dan mengenakan kaos oblong bergambar dirinya.

Tapi, kerumunan itu tampak lebih kecil daripada yang menyambut Suu-kyi dalam perjalanan kampanye sebelumnya dalam beberapa pekan belakangan.

Keputusan Suu Kyi merebut kursi parlemen adalah tanda terkini dari perubahan tajam di negara sebelumnya dikenal sebagai Birma itu setelah hampir setengah abad kekuasaan langsung tentara berakhir pada tahun lalu.

Pemerintah itu mengejutkan pengamat dengan serangkaian perubahan, menyambut partai Suu-kyi kembali ke arus utama politik dan membebaskan ratusan tahanan politik.

Meskipun demikian, lawan tidak dapat mengancam partai besar berkuasa, bahkan jika merebut semua 48 kursi tersedia dalam pemilihan umum sela pada April itu.

(SYS/B002)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar