Sudan-Indonesia tingkatkan hubungan bilateral
Jumat, 24 Februari 2012 20:37 WIB | 1714 Views
Menlu Marty M. Natalegawa (FOTO ANTARA/Dit. Infomed-Kemenlu RI)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Sudan dan Indonesia sepakat untuk meningkatkan hubungan bilateral baik di bidang politik, pengetahuan, maupun perekonomian.
"Selain membicarakan mengenai situasi di Sudan, kami juga berdiskusi bagaimana cara meningkatkan hubungan kedua negara. Dan juga kerja sama ekonomi dan pendidikan yang saling menguntungkan," kata Menteri Luar Negeri Sudan Ahmed Ali Karti di Jakarta, Jumat.
Ali Karti berkunjung ke Indonesia mulai 23 Februari hingga 25 Februari mendatang. Sebelumnya, Ali Karti bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membicarakan berbagai isu termasuk bagaimana cara membina hubungan dengan negara pecahan.
"Kami sangat terbuka dengan investor-investor yang mau masuk ke Sudan. Kami yakin bisa bekerja sama dan saling mendukung untuk membangun daerah itu," tambah Ali Karti.
Ali Karti mengatakan hubungan Indonesia dan Sudan sudah terjalin sejak lama. Bahkan pada Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, Sudan mengirimkan utusannya meskipun pada saat itu Sudan belum merdeka.
"Meskipun saat ini hubungan antara Sudan dan Sudan Selatan belum normal, kami berharap Indonesia tetap melanjutkan kerja sama yang sudah terjalin sejak lama," harap Ali Karti.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan Indonesia bertekad untuk tetap melanjutkan kerja sama yang sudah terjalin antara kedua negara.
"Indonesia bertekad untuk terus melanjutkan kerja sama antara kedua negara," tegas Marty.
Sudan adalah negara yang terletak di timur laut benua Afrika. Sudan terpecah menjadi pada Juli tahun lalu menjadi dua negara yakni Sudan dan Sudan Selatan.
Sebelum referendum yang memisahkan Sudan menjadi dua bagian, Sudan merupakan negara terluas di Afrika dan di daerah Arab.
Sudan Selatan memilih untuk berpisah dari utara pada 2011, menyusul perjanjian perdamaian pada 2005 yang mengakhiri puluhan tahun perang saudara.
Namun kedua negara tidak pernah menemui kesepakatan terkait biaya transit yang harus dibayarkan oleh pemerintah Sudan Selatan di Juba untuk memompa minyak melalui pipa dan menggunakan infrastruktur ekspor minyak Sudan.
Sudan merupakan negara yang kaya sumber daya alam seperti minyak, uranium, dan tembaga.
(T.I025/N002)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com