Beberapa jenis kain itu maupun setelah dirancang menjadi pakaian mampu menembus pasaran luar negeri.
Berita Terkait
Denpasar (ANTARA News) - Bali memperoleh devisa dari ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) senilai 125,54 juta dolar AS selama 2011, meningkat 14,10 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 110,03 juta dolar AS.

Devisa selama 2011 itu diperoleh dari pengiriman matadagangan TPT sebanyak 14,18 juta potong (psc), meningkat cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 42,89 juta potong, kata Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali, I Ketut Teneng di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan, selain pakaian jadi (busana) dalam berbagai jenis rancang bangun (desain), Bali juga mengapalkan 7,37 juta meter TPT senilai 12,24 juta dolar AS selama 2011.

Hal itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni mencapai 39,45 persen dibanding tahun sebelumnya tercatat 6,60 juta meter seharga 8,78 juta dolar AS.

Ketut Teneng menambahkan, ekspor matadagangan TPT mempunyai peran yang sangat strategis karena mampu memberikan andil yang cukup besar dalam menopang perolehan ekspor non migas Bali secara keseluruhan.

TPT mampu memberikan andil sebesar 27,68 persen dari total ekspor Bali secara keseluruhan sebesar 497,86 juta dolar AS selama 2011, turun 4,24 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat 519,91 juta dolar AS.

Matadagangan hasil sentuhan perajin dan seniman dalam berbagai rancang bangun (desain) yang unik, khas dan menarik itu mampu bersaing di pasaran ekspor, sehingga perolehan devisa mengalami peningkatan yang signifikan.

Tekstil dan produk tekstil diekspor dalam berbagai jenis mulai dari kain biasa, pakaian untuk semua umur dan berbentuk cindera mata yang menarik lainnya, tutur Ketut Teneng.

Matadagangan tersebut diproduksi dengan ciri khas yang unik, memiliki daya tarik tersendiri, sehingga tidak pernah menjemukan, sekaligus menarik perhatian konsumen di mancanegara untuk membelinya.

Di balik ketertarikan konsumen itu, proses pengerjaannya terutama kain tenun tradisional Bali cukup rumit, yakni produksi secara manual dengan menggunakan alat tenun bukan mesin.

Perajin terutama wanita dan ibu rumah tangga di daerah pedesaan dengan menggunakan peralatan yang cukup sederhana itu mampu menghasilkan berbagai jenis kain tenun, antara lain kain endek, kain Bebali, songket, cepuk, kain poleng dan kain keling.

"Beberapa jenis kain itu maupun setelah dirancang menjadi pakaian mampu menembus pasaran luar negeri, " tutur Ketut Teneng.

Ia menambahkan, sejumlah perusahaan yang mempekerjakan belasan hingga ratusan tenaga kerja memproduksi pakaian jadi (garmen) dengan sasaran khusus pasaran ekspor.

Berbagai jenis pakaian untuk pria dan wanita dalam segala umur dirancang sedemikian rupa dikombinasikan dengan manik-manik (mote) sehingga lebih unik dan menarik konsumen, ujar Ketut Teneng.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar