Kepada polisi Mujiyanto (kepala ditutup) mengakui telah berupaya membunuh 15 teman kencan sesama gay karena cemburu dengan meracuni mereka. (ANTARA/Arief Priyono)

"Ia cemburu, merasa marah, hingga melakukan perbuatan seperti itu"
Berita Terkait
Surabaya (ANTARA News) - Ahmad Musikan (47), warga Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, Kediri, Jawa Timur, mengingat-ingat lagi kejadian tragis yang menimpanya pada 28 November 2011.

Nyawanya hampir melayang. Racun yang memasuki tubuhnya keluar bersamaan dengan sisa-sisa es buah yang dimakannya saat bersama dengan seorang pria yang diduga bernama Mujianto di satu warung di Kecamatan Loceret, Nganjuk.

Kisah maut Ahmad berawal dari perkenalannya dengan seorang pria berperawakan tinggi di Pasar Setonobetek, Kota Kediri. Pria itu mengaku bernama Hertanto.

"Ia mengaku sebagai pemilik "showroom" di Nganjuk, lalu kami saling tukar nomor telepon," katanya.

Berawal dari permintaan temannya untuk mencarikan sepeda motor bekas bernomor polisi Nganjuk, penjual jamu racik ini menghubungi Hertanto.

Lewat telepon itu mereka tawar menawar harga. Disepakatilah uang muka Rp500 ribu.

Pada 28 November 2011, mereka sepakat bertemu di Pasar Setonobetek, Kediri. Lalu diubah di Pasar Gringging.

Di Pasar Gringging, telepon Ahmad berdering. Hertanto membatalkan lagi janjinya. Ada rapat mendadak, katanya. Seorang anak buah diutusnya untuk menjemput Ahmad.

Bersepeda motor, berjaket dan berhelm tertutup, si anak buah muncul. Keduanya berkenalan singkat. Ahmad tidak terlalu perhatian.

Si penjemput yang kemudian diketahui bernama Mujianto membawa Ahmad berkeliling Nganjuk dengan dalih menagih utang, sampai akhirnya singgah di satu warung.

Si penjemput menawari buah. Ahmad tak bisa menolak. Pikirnya, tak baik menolak tawaran orang. Diambilnyalah beberapa biji buah, lalu dimakannya.

Cinta sesama jenis

Tak sampai buah itu habis, petaka datang. Ketika menunaikan salat di satu masjid di Loceret, perut Ahmad mendadak mulas.  Mujianto datang menjemput setelah sebelumnya pamit untuk membeli ayam bakar.

Ahmad tak kuat lagi menahan sakit, akhirnya diturunkan di teras rumah warga, hampir meregang nyawa. Dompetnya berisi uang Rp600 ribu (termasuk Rp500 ribu uang muka motor) dan telepon selulernya lenyap dibawa Mujianto.

Si warga lalu membawa Ahmad ke Rumah Sakit Bhayangkara, Nganjuk.

Dokter mengatakan Ahmad seperti diracun, tapi sang istri, Aniul Khotimah (35), tak percaya. Katanya, suaminya tidak punya musuh.

"Suami saya tidak suka minum es," kata Aniul.

Polisi sempat mengusut kasus ini, namun menguap begitu saja hingga akhirnya media massa memberitakan sebuah kasus pembunuhan berantai.

Apa yang menimpa suami Ainul lalu diketahui menimpa pula para korban pembunuhan berantai itu. Janjian lewat ponsel, bertemu, diajak makan atau minum, lalu mual dan muntah akibat keracunan, kemudian harta benda lenyap.

Tak seberuntung Ahmad, Subekti, warga Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tak bisa menikmati indahnya hidup. Ia tewas pertengahan September tahun lalu.

Keluarga sempat menduga tukang pijat ini mati keracunan.

Keluarga melupakan tragedi ini sampai kemudian televisi ramai mengabarkan pembunuhan berantai itu.  Di satu Ahad (19/2), mereka melapor ke Polsek Pare, Nganjuk, wilayah di mana Subekti meninggal dunia.

Dua pekan lalu, Mujianto digelandang ke Kantor Polres Nganjuk. Polisi menginterogasi pria bertinggi badan 140 cm ini.

Diketahuilah, pria itu ternyata menyimpan segudang kisah cinta sesama jenis, termasuk dengan majikannya Joko Suprianto, warga Desa Senopatik, Kabupaten Nganjuk.

Pria berusia 24 tahun asal Desa Jatikapur, Kediri itu disangka telah membunuh pria-pria yang mendekati Joko.

Cemburu berat

Tak banyak yang tahu sejak kapan Mujianto berubah orientasi seksual. Dulu dia pria normal, memiliki kekasih perempuan pula.

Karena tuntutan ekonomi, dia merantau dan putus dengan tambatan hatinya itu.

Tahun 2007, dia berkenalan dengan Joko. Dua tahun kemudian tinggal di rumah Joko sebagai pembantu rumah tangga.

Joko yang menjadi bendahara di sebuah SMPN Kabupaten Nganjuk, mengaku kasihan pada Mujianto. Gaji Joko per bulan tidaklah banyak, hanya Rp200 ribu.

Kepada polisi, Mujianto mengaku sering diberi uang dan diajak liburan oleh "sang kekasih". Mereka juga sering bersebadan.

Di rumah Joko tinggal pula Anne, seorang anggota keluarga. Anne baru mengetahui di rumahnya ada kisah cinta terlarang antara Joko dan Mujianto.

Karena Joko kemudian lebih mementingkan kenalan baru, Mujianto menjadi cemburu berat.

Rencana jahat disusun. Dia membeli racun tikus di sebuah toko pertanian di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret.

Sutarno, pelayan di toko itu menyebutkan, Mujianto membeli racun tikus itu antara November 2011 hingga Januari 2012.

Sutarno curiga, karena Mujianto kelewat sering membeli racun tikus seharga Rp500 per bungkus itu.  Mujianto berkilah, banyak tikus di rumahnya.  Sutarno pun berhenti curiga.

Satu demi satu korban Mujianto berjatuhan. Awalnya enam korban, empat diantaranya tewas.

Setelah itu, korban bertambah menjadi 15 orang, yang meninggal tetap empat orang.  Keluarga Subekti lalu datang melaporkan kematian Subekti. Korban meninggal dunia pun menjadi lima orang.

Menurut Kepala Polres Nganjuk AKBP Anggoro Sukartono, kejadian itu terjadi dalam rentang 2011-2012.

Di saat polisi terus menyeliki kasus ini jumlah korban bertambah menjadi 23 orang. Yang meninggal tetap lima orang.

Polisi kini mendalami dugaan keterlibatan Joko dalam kasus ini.

"Kami butuh bukti pendukung. Tidak bisa langsung ditetapkan tersangka," kata Anggoro.

Tiga berkas sudah dilimpahkan polisi ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Nganjuk.

Dua berkas dengan korban Muhammad Fais (28), warga Desa Kejapanan, Pasuruan dan Anton Sumartono (47) warga Desa Tegalan, Surakarta, Jawa Tengah. Keduanya selamat dari racun tikus Mujianto.

Berkas satunya lagi milik Sutrisno (33), warga Kelurahan Bago, Nganjuk. Ia adalah penadah barang-barang milik korban yang dirampas Mujianto.

Untuk kasus dengan dua korban selamat, Mujianto dijerat pasal Pencurian dengan Pemberatan, sedangkan untuk penadah, Mujianto diancam hukuman lebih dari lima tahun penjara.

Terpukul

Mengetahui ini semua, ayah Mujianto, Parni (54), terpukul, sedangkan Pinartun (50), istrinya, jatuh sakit begitu mendengar Mujiangto tersangkut kasus hukum.

Parni ingat betul masa kecil anak angkatnya ini.

Saat itu, Mujianto kecil sakit dan orangtua kandungnya yang asal Kabupaten Kediri tak sanggup mengobatinya karena begitu miskin.

"Kami kasihan dan orangtuanya menyerahkan untuk dirawat," kenang Parni.

Parni yang hanya buruh tani itu hanya bisa menyekolahkan Mujianto sampai SD.

Mujianto besar di gubuk kecil berdinding tembok, kemudian merantau dua kali ke Jakarta, mengadu nasib dengan berjualan. Gagal, lalu balik ke Kediri.

Parni memintanya berjualan bakso keliling di seputar rumah, tapi Mujianto memilih bekerja di rumah Joko.

"Dia jarang pulang setelah kerja di rumah Joko. Bahkan, ibunya sakit juga jarang menjenguk," kata Parni.

Parni meminta maaf atas kelakuan tercela Mujianto ini.

Sejumlah psikiater yang memeriksa Mujianto menyebutkan tidak ada gangguan jiwa padanya. Dia sadar melakukan semua aksinya.

"Ia cemburu, merasa marah, hingga melakukan perbuatan seperti itu," kata Psikiater Polda Jatim, dr Roni Subagia Sp.KJ.  (*)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar