Jakarta (ANTARA News) - Suara peluit tanda kereta akan diberangkatkan melengking hingga sudut ruangan.  Dua pria paruh baya berseragam duduk di belakang kemudi lokomotif hitam legam, siap memberangkatkan kereta.

Beberapa lama kemudian, lokomotif bergerak, tetapi tidak maju, melainkan berputar.

Ini adalah salah satu pertunjukan yang paling dinanti orang di Railway Museum, Saitama, Jepang.  Museum ini didirikan untuk merekam sejarah perkeretaapian Jepang.

Lokomotif tua hitam legam bernomor C57 135 itu diproduksi pada 1940 dan ditempatkan di atas lantai museum yang didesain khusus bisa memutar 360 derajat.

Pertunjukan ini bisa dinikmati pada pukul 12.00 dan 15.00 waktu setempat. Durasinya sekitar sepuluh menit. 

Lokomotif berputar perlahan.  Selama ini pula kedua pria paruh baya yang memerankan masinis itu melambaikan tangan kepada pengunjung.

Dalam bangunan museum seluas 19.800 meter persegi ini, ada 37 lokomotif dan gerbong kereta yang pernah dimiliki Jepang, termasuk yang pertama dibeli dari Inggris.

Di lantai dasar museum yang dibangun pada 2007 itu, pengunjung dapat menyaksikan lokomotif kereta uap berwarna hitam bernomor satu. Inilah lokomotif pertama Jepang yang diproduksi Inggris pada 1871 itu.

Lalu, ada kereta nomor dua. Ini adalah kereta api kedua yang pertama dimiliki Jepang.

Melompat puluhan tahun ke depan sejak lokomotif uap pertama dimiliki, pengunjung museum dapat menyaksikan lokomotif dan gerbong kereta listrik buatan Jepang.

Negeri ini terus mengembangkan kereta listrik seiring dengan kian bertambahnya kebutuhan sarana transportasi untuk mengakomodasi mobilisasi warga. 

Salah satu kereta listrik pengangkut penumpang dalam kota yang menjadi andalan pada sekitar tahun 1960 adalah Class Kumoha 101.

Sepintas kereta ini mirip dengan kereta yang sekarang mengangkut penduduk Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang dan Depok.  Memasuki gerbong kereta ini, kemiripan semakin lekat.

Tak berhenti sampai di sini, memasuki babak baru pada 1960-an, Jepang memproduksi kereta super cepat generasi pertama Shinkansen pada 1964.

Salah satu gerbong Shinkansen juga diabadikan di museum ini. Para pengunjung bisa merasakan gerbong ini sambil membayangkan kereta berjalan dengan kecepatan tinggi.

Shinkansen menjadi primadona dan kebanggaan warga Jepang. Generasi terbarunya telah diproduksi dan mampu melaju hingga 300 kilometer per jam.

Selain Shinkansen, warga Jepang juga dapat mengandalkan kereta-kereta lain seperti kereta bawah tanah, monorail, dan light rail transit (LRT).

Menjadi pilihan 

Railway Museum ini menjadi jendela informasi yang menunjukkan bahwa kereta adalah transportasi yang dapat diandalkan untuk mengangkut penumpang.

Sembari mengutip laporan 2009 tentang urban transport di Jepang, Shota Utsubo dari Kementerian Pertanahan, Infastruktur, Transportsi, dan Pariwisata Jepang memaparkan bahwa jumlah penumpang kereta di tiga kota metropolitan terbesar yakni Tokyo, Osaka, dan Nagoya mencapai 20 miliar setiap tahun. 

Itu berarti, 90 persen dari total penumpang di Jepang.

Kereta telah menjadi moda transportasi utama di Tokyo, Nagoya, dan Osaka yakni sebesar 51,2 persen. Sisanya bus, taksi, dan kendaraan pribadi.

"Kereta sangat diandalkan di areal perkotaan yang sangat padat penduduk," katanya kepada wartawan Indonesia yang mengunjungi Jepang guna mengikuti program "Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS)".

Kereta di Jepang terkenal tepat waktu, aman dan serba otomatis. 

Stasiun-stasiun keretanya dilengkapi pusat perbelanjaan nan lengkap. Semua serba tertata dan rapi.

Utsubo  mengatakan, kereta adalah jawaban untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar.  Kereta lebih efektif karena mampu membawa lebih banyak penumpang, dan cepat. 

Tak heran, orang Jepang lebih memilih kereta ketimbang bus, taksi, bahkan kendaraan pribadi.

Tapi, sama seperti di Jakarta, pada jam-jam sibuk sering terjadi penumpukan penumpang di stasiun kereta.

Beberapa upaya dilakukan untuk mengatasinya, diantaranya mengatur jam masuk pegawai perusahaan swasta pada pukul 09.00 dan pegawai pemerintah pada 9.30 WIB.  Upaya lain, gerbong kereta diperluas, sementara pintu kereta diperlebar.

Dilihat dari padatnya penduduk dan kebutuhan akan tranportasi massal, kondisi Jepang tak jauh berbeda dari Indonesia, khususnya Jakarta. Bedanya, macet di Jakarta belum juga teratasi hingga kini.

Terus bertambahnya jumlah kendaraan pribadi memperparah keadaan ini, sementara angkutan massal dalam kota seperti bus, mikrolet, dan bus TransJakarta tak cukup mampu mengatasi persoalan kemacetan ini. 

Bus dan mikrolet yang berhenti dan mengangkut penumpang di sembarang tempat memperuwet jalanan ibukota, sedangkan kereta yang menghubungkan Jakarta, Depok, Bekasi, Serpong dan Bogor juga masih terus meningkatkan layanannya. 

Di Jabodetabek ini ada juga kereta buatan Jepang yang dikenal dengan komuter. Penumpang sangat meminatinya kendati kereta ini tetap punya 'penyakit tidak tepat waktu.'  Selain itu kereta ekonomi tanpa pintu juga masih beroperasi.

Pada jam sibuk, kereta ekonomi dijejali penumpang, termasuk penumpang tanpa karcis yang menantang maut dengan duduk di atap kereta.

"Jalur baru"

Untuk persoalan Jakarta yang terus saja dibelit macet ini, Utsubo punya saran, yaitu kereta. 

Namun dia menggarisbawahi, semua pihak harus bersiap dengan keluarnya biaya yang sangat besar untuk membangun sarana dan prasarananya. 

Jepang sendiri telah membantu Indonesia untuk membangun infrastruktur transportasi massal, contohnya pembangunan mass rapid transportation (MRT) di Jakarta.

"Proyek konstruksi tahun ini dilaksanakan untuk MRT di Jakarta," kata Utsubo.

Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya mengatasi masalah transportasi ini.

Wakil Presiden Boediono bahkan rutin memimpin langsung rapat untuk mengurai masalah kemacetan dan transportasi bersama Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dan pejabat-pejabat terkait lainnya.

Dalam rapat akhir Januari 2012 lalu misalnya, pemerintah mengevaluasi dan menginventarisasi langkah yang sudah dan akan berjalan. 

Ada 17 langkah yang harus diambil untuk mengurangi kemacetan Jakarta, diantaranya mensterilisasi dan menambah jalur TransJakarta, melarang parkir di badan jalan, dan menertibkan angkutan liar.

Kemudian, beberapa rencana jangka menengah yang masih berlangsung yakni membangun rel kereta ke Bandara Soekarno-Hatta, membangun MRT yang kini sedang dalam tahap pembebasan tanah, sedangkan konstruksinya akan dimulai pada akhir 2012. Masih ada lagi, yaitu pembangunan enam ruas jalan tol baru dalam kota Jakarta.

Rapat akhir Januari itu memutuskan untuk mengambil beberapa langkah solutif, diantaranya meningkatkan frekuensi bus TransJakarta, percepatan pelaksanaan konstruksi MRT, dan meningkatkan frekuensi kereta komuter loopline menjadi 531 perjalanan dengan kapasitas 155 ribu penumpang per hari.

Terkait hal teknis, rapat memutuskan untuk mengintegrasikan tiket bus TransJakarta dan tiket komuter dalam satu sistem tiket elektronik mulai Juni 2012.

Untuk meningkatkan frekuensi kereta, Wapres memerintahkan Kementerian PU berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercepat dan menambah perlintasan kereta tidak sebidang, seperti membangun jembatan layang di atas rel atau terowongan.

"Menteri PU saya minta memimpin koordinasi dan menginventarisasi perlintasan-perlintasan yang bisa segera dibangun," kata Wapres.

Sementara, PT Kereta Api Indonesia sudah berkomitmen untuk membangun lima stasiun baru di Jabodetabek dan merevitalisasi enam stasiun kereta, termasuk Manggarai dan Jatinegara.  PT KAI juga akan menambah kereta rel listrik sebanyak seribu unit, dari kapasitas saat ini 500 unit serta menambah rangkaian dari delapan menjadi sepuluh.

Upaya-upaya besar ini dilakukan pemerintah untuk memecahkan persoalan seputar transportasi massal dan kemacetan.

Seperti nama Shinkansen yang berarti "jalur baru", Indonesia juga membutuhkan "jalur baru" untuk mengatasi persoalan transportasi massal ini. 

"Jalur baru" itu adalah semangat untuk melakukan perubahan dan berinovasi sehingga masalah tranportasi massal teratasi dengan benar, tidak hanya di Jakarta tetapi juga kota-kota besar lain di Indonesia.

(H017/A025)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar