Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah warga dari kalangan ibu rumah tangga di Jakarta Pusat menilai munculnya fenomena wanita menceraikan suami karena sulit menerima kehadiran orang ketiga dalam ikatan perkawinan.

"Kalau masalah ekonomi itu kita bisa cari solusi bersama, tetapi kehadiran pihak ketiga itu sama sekali tidak bisa kita terima apalagi isteri `simpanan`," ujar Santy (45) ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu.

Menurut dia, semakin tinggi jabatan suami dalam karir bekerja maka potensi untuk melakukan perselingkuhan dengan wanita lain atau mempunyai isteri "simpanan" semakin besar pula.

Sebab jika suami telah memiliki harta yang lebih dan merasa telah mencukupi semua kebutuhan keluarga maka egoisme sebagai seorang lelaki mulai muncul.

"Karena itu sebagai isteri saya harus memberikan perhatian penuh kepada suami dalam kondisi apapun, agar dia tidak `bertingkah`," ujarnya.

Di tempat terpisah, Theresia (35) seorang ibu rumah tangga mengatakan selain memberikan perhatian penuh terhadap suami, seorang isteri juga harus bisa mengendalikan keuangan keluarga secara penuh.

"Kuncinya kita sebagai isteri yang memegang penuh kendali gaji suami dan harus tahu berapa besar pendapatannya. Sebab dengan kondisi saat ini, kalau suami pegang uang banyak maka godaan semakin besar," ujar dia.

Sebelumnya Pengadilan Agama Jakarta Pusat menyatakan dalam empat bulan terakhir atau periode Januari-April 2009 sedikitnya 185 wanita menceraikan suaminya, sedangkan jumlah lelaki yang menceraikan isterinya berjumlah 83 orang.

Para isteri itu memutuskan ikatan perkawinannya antara lain karena suami mereka tidak bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi, selain ada yang karena kasus perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, murtad dan sebagainya.

"Sebagian besar kasus gugat cerai yang diajukan isteri karena perselingkuhan dan persoalan ekonomi," kata Juru Bicara Pengadilan Agama Jakarta Pusat, Nuheri SH.(*)