Jakarta (ANTARA News) - Depatemen Kehutanan mengeluarkan 14 izin industri baru pengolahan kayu dan empat izin lainnya untuk perluasan atau penambahan kapasitas produksi di tengah perekonomian global yang sedang mengkerut akibat krisis finansial gobal.

Pada periode Januari-Mei 2009, kata Dirjen Bina Produksi Kehutanan, Hadi Daryanto, di Jakarta, Minggu, investasi industri kehutanan ini mencapai Rp1,2 triliun.

"Investasi sebesar itu dibenamkan di 14 industri baru, sedangkan empat industri lainnya melakukan perluasan atau penambahan kapasitas produksi." Menurut dia, investasi tersebut mampu membuka lapangan pekerjaan bagi 6.509 orang tenaga kerja.

Investasi yang ditanam tersebut melesat jauh dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Tahun lalu, investasi industri kehutanan hanya terdiri dari dua unit industri, masing-masing untuk pembangunan industri baru dan perluas industri dengan nilai investasi Rp21,2 miliar.

Hadi menyatakan, langkah Dephut untuk melakukan relaksasi peraturan yang terkait investasi telah membuat investasi bisa mengalir cepat.

"Relaksasi peraturan membuat tidak ada lagi aturan yang menghambat masuknya investasi ke sektor kehutanan," katanya.

Awal tahun ini, Dephut memang meluncurkan kebijakan relaksasi peraturan kehutanan untuk mendorong investasi dan meningkatkan daya saing. Beberapa ketentuan yang dinilai memperlambat laju bisnis dihilangkan, seperti dihilangkannya kewajiban mengajukan izin perluasan industri sepanjang bahan bakunya dari hutan tanaman. Selain itu, Dephut juga menghilangkan kewajiban mengajukan izin untuk yang melakukan inovasi produk.

Menurut Hadi, izin baru yang ditanam sepanjang 2009 adalah izin yang memanfaatkan kayu hutan tanaman. Langkah ini juga untuk mendorong pemanfaatkan kayu dari hutan tanaman, sehingga menjadi insentif bagi mereka yang melakukan penanaman, katanya.

"Jika selama ini kayu dari hutan tanaman harganya rendah karena pasarnya sempit, maka dengan kebijakan ini kayu dari hutan tanaman bisa punya pasar yang lebih luas," katanya.

Hadi mengatakan Dephut mendorong investor untuk berlomba-lomba menanam investasinya meski saat ini sedang krisis. Kondisi krisis, katanya, justru menjadi saat yang tepat untuk investasi sebab industri akan siap ketika perekonomian pulih.

Investor yang menanamkan modalnya di Industri pengolahan kayu baru berkapasitas di atas 6.000 meter kubik per tahun adalah PT Moranaga di Humbang Hasundutan, Sumut, di industri penggergajian kayu dengan nilai investasi Rp4,3 miliar, PT Medcopapua Industri Lestari (Merauke, Papua, untuk "Wood Chips", kapasitas 2 juta meter kubik senilai Rp409,5 miliar), PT Selemoi Timber Indonesia (Sorong, Papua Barat, Penggergajian kayu 60.000 meter kubik, Rp20 miliar).

Selain itu, PT Elbana Abdi Jaya Unit Kasiau (Tabalong, Kalsel, "Veneer" 25.000 meter kubik, Rp17,5 miliar), PT Wahana Lestari makmur Inderalaya (Ogan Ilir, Sumsel, Plywood 50.000 meter kubik dan LVL 50.000 meter kubik, Rp32,2 miliar), PT Cipta Wijaya Mandiri (Demak, Jawa tengah, Plywood 20.000 meter kubik dan Vener 40.000 meter kubik, Rp32 miliar), PT Sejahtera Usaha Bersama (Jember, Jatim, "Veneer" 40.000 meter kubik, Rp16 miliar), PT Rimbawana Agung Pratama (Demak, Jateng, penggergajian kayu 25.000 meter kubik dan "Veneer" 10.000 meter kubik, Rp10 miliar).

PT Elbana Abdi Jaya, Unit Lano, (Tabalong, Kalsel, Penggergajian 15.000 meter kubik dan "Veneer" 40.000 meter kubik, Rp23 miliar), PT Kutai Timber Indonesia (Lumajang, Jatim, penggergaian 6.000 meter kubik dan "Veneer" 15.600 meter kubik, Rp695,8 juta), PT Lestarindo Utama Karya, Unit Pemenang, (Merangin, Jambi, "Veneer" 40.000 meter kubik, Rp10 miliar), PT Sarana Bina Semesta Alam (Kutai Kertanegara, Kaltim, "Wood Chips" 1 juta meter kubik, Rp214 miliar), PT Belinto Monda Wahan, (Pakpak Barat, Sumut, penggergajian 36.000 meter kubik, Rp2 miliar).

Sementara izin Perluasan atau penambahan kapasitas dilakukan PT Uniraya Timber (Sorong, papua Barat, pnggergajian 20.000 meter kubik, Rp28,1 miliar), PT Siang Cahaya Makmur (Penajam Paser Utara, Kaltim, "Veneer" 16.000 meter kubik, Rp9,4 miliar), PT Inne Dongwha Development (Penajam Paser Utara, Kaltim, Plywood 100.000 meter kubik, Rp287,4 miliar), PT Rante Mario (Makasar, Sulsel, penggergajian 45.000 meter kubik, Rp45,2 miliar).(*)