London (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Norwegia bekerja sama dengan Implementation Support Unit-Biological Weapons Convention (BWC)  selama dua hari menggelar lokakarya internasional tentang Peranan Konvensi Senjata Biologi dalam Mendukung Kesehatan Publik,  di Oslo.

"Lokakarya yang dibuka Menteri Luar Negeri Norwegia, Jonas Gahr Store, dan Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Oslo, Mansyur Pangeran, itu diikuti delegasi dari 25 negara dan organisasi internasional/regional seperti WHO, OIE dan Uni Eropa serta wakil dari kalangan swasta," kata Counsellor Political Affairs KBRI Oslo, Agung Kurniadi, kepada koresponden ANTARA London, Sabtu.

Ia mengatakan lokakarya menghadirkan 14 pembicara, termasuk dari Indonesia yakni Dr. Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekul Eijkman dan Prof. Dr. Agus Purwadianto (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI).

Fokus pembahasan Lokakarya adalah ketentuan Konvensi BWC yang mengatur secara tegas kewajiban negara pihak untuk tidak memproduksi dan mengembangkan material biologi dan biopatogen untuk tujuan militer atau yang dilarang oleh Konvensi BWC.

Sementara itu, masyarakat internasional juga berkepentingan agar material biologi dan biopatogen dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk peningkatan kesehatan umat manusia melalui berbagai fora kerja sama.

"Hal itu dimuat dalam Konvensi BWC yang mendorong para negara pihak untuk memajukan kerjasama untuk keperluan kesehatan publik," katanya.

Lokakarya telah menggali lebih jauh tentang bagaimana mengupayakan implementasi Artikel 10 Konvensi BWC untuk mendukung upaya global di bidang kesehatan publik.

Menurut Agung Kurniadi, pokok-pokok hasil pembahasan dalam lokakarya menjadi masukan bagi pertemuan BWC Expert Meeting di Jenewa pada Agustus.

Pertemuan juga menjadi forum tukar pengalaman di antara para ahli dalam memanfaatkan material biologi untuk maksud damai serta mencegah penyalahgunaannya.

Bagi Indonesia, pembahasan dalam lokakarya juga dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam upaya menyiapkan legislasi nasional dalam mengatur penggunaan materi biologi dan larangan penggunaan materi biologi dan biopatogen sebagai senjata biologi.

"Sebagai negara pihak, Indonesia secara aktif berupaya memajukan dan menerapkan mandat Konvensi BWC tidak hanya di tingkat nasional, namun juga pada tataran kawasan dan internasional," katanya.

Tahun 2006, Indonesia bersama Norwegia dan lima negara lainnya meluncurkan inisiatif  Global Health and Foreign Policy yang memberikan perhatian pada keterkaitan masalah kesehatan dengan aspek internasional dan kebijakan luar negeri.

Penyelenggaraan lokakarya kali ini juga sebagai tindak lanjut dari Seminar Regional tentang Manajemen Biosafety dan Biosecurity, yang diadakan oleh Indonesia dan Norwegia di Jakarta pada Juni 2008.

Selain kesehatan global, kerja sama kedua negara dalam konteks multilateral berlangsung dalam berbagai isu menjadi kepentingan bersama, seperti kerja sama antarmedia (Global Inter-media Dialogue), kerja sama dalam memajukan non-proliferadesi dan perlucutan senjata (Seven Nations Initiatives), maupun kerja sama dalam isu-isu Millenium Development Goals (Sherpa Group of Network Global Leaders).

Berbagai kolaborasi pada tingkatan multilateral tersebut telah semakin mempererat kualitas hubungan bilateral kedua negara, demikian Agung Kurniadi. (*)