Jumat, 22 Agustus 2014

Sunda Wiwitan Cireundeu, Kepercayaan Baduy Versi Lain

Jumat, 26 Juni 2009 14:42 WIB | 2.619 Views
Warga Baduy (ANTARA/Asep Fathulrahman)
Jatinangor (ANTARA News) - Kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianut masyarakat Cireundeu di Cimahi, Jawa Barat merupakan pengembangan dari Sunda Wiwitan yang dianut masyarakat Baduy di wilayah Banten, walaupun ada perbedaan cukup besar yang ditemukan diantara kedua kepercayaan tersebut.

Perbedaan yang mendasar antara Sunda Wiwitan Cireundeu dan Baduy adalah dari kebiasaan mereka dimana orang Baduy sangat menghargai dan menyembah beras sebagai Dewa Sri, sedangkan di Cireundeu malah menghindari beras, kata Undang Ahmad Darsa, seorang Filolog terkemuka Indonesia kepada ANTARA News, Jumat.

Undang yang juga dosen Jurusan Sastra Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu menyebut masyarakat Baduy juga tidak mau mengekspos kepercayaan mereka karena hal itu adalah sakral.

Berbeda dengan di Cireundeu dimana siapapun boleh keluar masuk desa tersebut, dan pemuka adat memperbolehkan siapapun ikut menganut kepercayaan ini jika telah yakin.

Selain itu masyarakat Cireundeu menyebut diri mereka penganut Sunda Wiwitan, sedangkan orang Baduy mengaku jika sebutan Sunda Wiwitan datang dari orang di luar Baduy yang menilai kepercayaan mereka.

Orang Baduy sendiri menyebut kepercayaan mereka "Slam Wiwitan" atau Islam Wiwitan dimana mereka menganut Islam secara tarekat (konsep) saja bukan dari segi sya`riat, namun mereka tidak shalat dan tidak berpuasa, tetapi mempercayai Adam sebagai nabi pertama.

Sunda Wiwitan sendiri mengandung arti Sunda yang paling awal dan bagi mereka agama bukan sarna penyembahan namun sarana aplikasi dalam kehidupan, karena itu mereka memegang teguh tradisi dan jarang sekali ditemukan situs-situs penyembahan.

Pangeran Haji Ali Madrais yang diakui sebagai nenek moyang masyarakat Cireundeu mungkin mendapat gelar Haji bukan karena dia benar-benar pergi memenuhi rukun Islam tetapi mendapat sebutan Haji karena dianggap sebagai pemimpin atau imam, kata Undang Ahmad Darsa yang juga banyak menulis buku tentang sejarah dan perkembangan Sunda.

Eksis di Cimahi

Aliran kepercayaan Sunda Wiwitan masih eksis bertahan dan memiliki penganut setia di wilayah Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat seperti di lokasi pemukiman komunitas Sunda Wiwitan di Kampung Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi.

Namun dari segi keunikannya, warga kampung ini masih mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok dan mayoritas masih menjalankan ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan itu.

Tradisi yang masih berlangsung di kalangan komunitas Sunda Wiwitan yaitu menggelar upacara Saka 1 Sura secara rutin.

Secara fisik Cireundeu memang kampung biasa, namun karena ketatnya menjalankan tradisi karuhun, kampung ini akhirnya dikukuhkan secara de fakta sebagai kampung adat.

Sebagian besar warga Cireundeu masih memegang teguh ajaran yang juga dikenal agama Jawa Sunda yang dibawa Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan.

Satu hal yang mencolok dari kegiatan adat masyarakat Cireundeu adalah rutinitas menggelar hajat peringatan tahun baru Saka 1 Sura.

Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Mereka percaya pada Tuhan, dan teguh menjaga kepercayaan serta menjaga jatidiri Sunda mereka agar tidak berubah.

Falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak puluhan tahun lalu, dan mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana membawa diri dalam hidup ini.

Menurut Abah Emen, Ketua Kampung Adat Cireundeu, ritual 1 Sura yang rutin digelar sejak kala, merupakan salah satu simbol dari falsafah tersebut. Upacara suraan, demikian warga Cireundeu menyebutnya, memiliki makna yang dalam. Bahwa manusia itu harus memahami bila ia hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya.

Baik dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit.

"Karena itulah manusia harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan," katanya.

Selain itu masyarakat Cireundeu menghormati leluhur mereka dengan tidak memakan nasi melainkan singkong.

Pangeran Madrais pernah berkata, jika orang Cireundeu tidak mau terkena bencana maka pantang makan nasi, ujar Abah Emen.

Sekarang terbukti, dimana orang lain bingung memikirkan harga beras yang makin naik, warga sini adem ayem saja karena singkongnya pun hasil kebun sendiri.

Sunda punya tahun, bahasa, aksara, adat, budaya dan kepercayaan. Jika seorang yang mengaku orang Sunda tidak menonjolkan jatidiri Sundanya dan malah menjalankan tradisi orang lain, maka dia tak pantas disebut orang Sunda.

Tradisi penjajah didalami, ditekuni tapi kepercayaan yang asli dari kebudayaan kita sendiri bahkan tidak dikenali. Kalau kata peribahasa seperti "moro julang ngaleupaskeun peusing", kata Abah Emen. (*)

Editor: Bambang

COPYRIGHT © 2009

Komentar Pembaca
Baca Juga