Jakarta,(ANTARA News) - Mabes TNI menyatakan, perbatasan RI-Papua Nugini hingga kini masih ditutup menyusul berbagai aksi penembakan di area PT Freeport Indonesia, di Timika, Papua.

Juru bicara TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa, mengatakan, hingga kini kedua negara sepakat untuk tetap menutup pintu perbatasan RI-Papua Nugini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terkait insiden di area PT Freeport Indonesia.

"Penutupan itu untuk mengantisipasi dampak insiden tersebut, termasuk kemungkinan adanya kepentingan asing terhadap insiden itu," katanya.

Penutupan perbatasan RI-Papua Nugini berlangsung sejak pelaksanaan Pilpres 2009, mengingat banyak insiden pula yang berlangsung menjelang dan setelah pemilu presiden.

Sementara rangkaian gangguan keamanan di Freeport dimulai saat pembakaran bus karyawan dan pos keamanan perusahaan di Mile 71 pada 8 Juli dini hari.

Tiga hari kemudian terjadi penembakan di Mile 53 yang menewaskan Drew Nicholas Grant (38), pekerja Freeport asal Australia.

Esok harinya, petugas satuan keamanan (sekuriti) Freeport, Markus Rante Allo, juga tewas ditembak di Mile 51. Peristiwa terakhir, 13 Juli, jenazah provos Polda Papua, Brigadir Dua Marson Fredy Pettipelohi, ditemukan dengan luka parah di bagian leher di Mile 64.

Sagom menegaskan, semua insiden tersebut kini tengah diselidiki dan ditangani oleh aparat keamanan gabungan TNI/Polri. "Bahkan kami TNI/Polri juga terus melakukan patroli siaga di daerah-daerah rawan seperti Timika, agar situasi keamanan di Papua tetap kondusif," ujarnya.(*)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009