Selasa, 2 September 2014

Pasukan Komando Pakistan Bebaskan 39 Sandera

Senin, 12 Oktober 2009 05:36 WIB | 2.170 Views
(ANTARAGrafis/Ardika)
Rawalpindi, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Pasukan komando menyerbu markas angkatan darat Pakistan, Minggu, mengakhiri drama penyanderaan sehari dan membebaskan 39 orang yang ditahan militan yang melakukan penyerbuan yang berani ke pusat militer itu.

Tiga sandera, dua prajurit dan empat tersangka Taliban tewas dalam operasi itu, yang dipuji militer sebagai "sangat berhasil", meski 19 orang tewas sejak awal serangan tersebut.

Enam prajurit dan empat militan tewas sebelumnya selama penyanderaan hampir 24 jam itu, yang dimulai Sabtu di kota garnisun Rawalpindi dan merupakan serangan militan dramatis yang ketiga di negara bersenjatakan nuklir itu dalam sepekan ini.

Serangan yang berani itu menunjukkan kerentanan Pakistan dalam menghadapi milisi Taliban, yang menyatukan diri lagi setelah kematian pemimpin mereka dan yang telah bertekad menggagalkan serangan militer terhadap tempat persembunyian mereka di kawasan suku, kata beberapa analis.

Di London, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan, serangan itu menunjukkan besarnya ancaman yang dihadapi Pakistan, namun ia mengungkapkan keyakinan bahwa senjata nuklir negara itu tersimpan dengan aman.

Jurubicara militer Pakistan Mayjen Athar Abbas mengatakan, pasukan mulai masuk untuk melakukan penyerbuan sekitar pukul 06.00 waktu setempat (pukul 07.00 WIB) dan mendapat perlawanan dari lima militan bersenjata yang memakai rompi bom bunuh diri dan memasang barikade di bangunan di kota yang berdekatan dengan Islamabad itu.

"Tigapuluh-sembilan sandera diselamatkan dan tiga orang tewas," kata Abbas kepada AFP, dengan menambahkan bahwa para sandera itu ditembak mati oleh militan.

"Militan memiliki jaket bunuh diri, bom improvisasi, granat... Mereka ingin meledakkan semua sandera dan menimbulkan kerusakan maksimum," tambahnya.

Menurut Abbas, dua prajurit dan empat gerilyawan tewas dalam operasi penyelamatan itu. Pemimpin kelompok penyerang itu berhasil kabur dan meledakkan sejumlah bom, sebelum terluka dan ditangkap kemudian.

"Operasi itu telah berakhir. Sangat berhasil," katanya.

Penyanderaan akhir pekan itu merupakan serangan ketiga yang dilakukan militan dalam sepekan ini, setelah serangan bom mobil bunuh diri yang menewaskan sedikitnya 52 orang sipil Jumat di sebuah pasar yang ramai di kota Peshawar, Pakistan baratlaut, dan serangan terhadap sebuah kantor PBB di Islamabad pada Senin yang menewaskan lima pekerja bantuan.

Pasukan Pakistan mengklaim sejumlah kemenangan militer atas Taliban tahun ini, namun serangan-serangan terus berlangsung, sebagian besar di wilayah baratlaut.

Daerah suku Pakistan, khususnya Lembah Swat, dilanda konflik antara pasukan pemerintah dan militan Taliban dalam beberapa waktu terakhir ini.

Militer Pakistan meluncurkan ofensif setelah Taliban bergerak maju dari Swat ke Buner, ke arah selatan lagi menuju ibukota Pakistan, Islamabad, setelah Washington menyebut kelompok itu sebagai ancaman bagi keberadaan Pakistan, negara yang bersenjatakan nuklir.

Pakistan menyatakan, lebih dari 1.930 militan dan 170 personel keamanan tewas, namun jumlah kematian itu tidak bisa dikonfirmasi secara independen.

AS mendukung ofensif militer Pakistan terhadap Taliban di Lembah Swat dan daerah-daerah baratlaut sekitarnya, yang diluncurkan pada akhir April setelah serangan-serangan sebelumnya yang menelantarkan 1,9 juta orang.

Ofensif militer diluncurkan di distrik-distrik Lower Dir pada 26 April, Buner pada 28 April dan Swat pada 8 Mei. Ofensif itu mendapat dukungan dari AS, yang menempatkan Pakistan pada pusat strateginya untuk memerangi Al-Qaeda.

Swat dulu merupakan daerah dengan pemandangan indah yang menjadi tempat tujuan wisata namun kemudian menjadi markas kelompok Taliban.

Perjanjian yang kontroversial antara pemerintah dan ulama garis keras pro-Taliban untuk memberlakukan hukum Islam di sebuah kawasan di Pakistan baratlaut yang berpenduduk tiga juta orang seharusnya mengakhiri pemberontakan Taliban yang telah berlangsung hampir dua tahun.

Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani mendesak rakyat Pakistan bersatu melawan kelompok ekstrim, yang menurutnya mengancam kedaulatan negara itu dan yang melanggar perjanjian perdamaian tersebut dengan melancarkan serangan-serangan.

Para pejabat PBB mengatakan, sekitar 2,4 juta orang mengungsi akibat pertempuran itu -- sebuah eksodus yang menurut kelompok-kelompok hak asasi merupakan perpindahan terbesar penduduk di Pakistan sejak negara itu terpisah dari India pada 1947.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.(*)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2009

Komentar Pembaca
Baca Juga