Minggu, 26 Oktober 2014

Jemaah Mengalir ke Mina dan Masjidil Haram

| 1.977 Views
id jumrah, mina, masjidil haram
Mekah (ANTARA News) - Arus jutaan calon haji tidak putus-putusnya mengalir dari Masjidil Haram di Mekah menuju Mina atau sebaliknya untuk melaksanakan prosesi melontar jamrah, tawaf dan sai.

Wartawan ANTARA dari Mekah, Minggu, melaporkan, jutaan calon haji secara bergelombang menuju kedua lokasi ibadah tersebut baik secara rombongan, kelompok, keluarga maupun sendiri-sendiri.

Jemaah yang telah uzur atau sakit membawa kursi-kursi roda sendiri atau naik ojek kursi roda dengan tarif antara 50 sampai RS100 (RS1 = Rp2.500).

Jarak sekitar enam kilometer dari lokasi jembatan jamarat (tempat melontar jamrah) di Mina bisa dicapai sekitar satu jam dengan berjalan kaki, jauh lebih cepat ketimbang dengan kendaraan yang terperangkap kemacetan lalu-lintas di sana-sini.

Kendaraan omprengan mengenakan tarif jauh di atas hari-hari biasa, RS30 untuk penumpang duduk atau RS20 jika bersedia naik di atap kendaraan, padahal tarif biasa hanya RS5 per orang. Itu pun kendaraan tidak sampai ke lokasi jamarat, karena penumpang sudah diturunkan sekitar satu atau dua kilometer sebelum sampai.

Yang membedakan, jika pada hari pertama (Jumat, l0 Zulhijah), aliran jemaah berupa lautan putih karena mengenakan pakaian putih-putih, termasuk jemaah pria yang mengenakan pakaian ihram, mulai Sabtu sebagian sudah mengenakan pakaian biasa walaupun ada juga yang masih mengenakan pakaian ihram.

Di Mina jemaah melakukan ritual melempar jamrah (batu) di ketiga jembatan jamarat yakni Ula, Wusta dan Aqabah. Antara Jamarat Ula dan Wusata berjarak 150 meter dan antara Wusta dan Aqabah, 190 meter.

Untuk mereka yang melakukan ritual singkat (Nafar Awal) melontar seluruhnya 49 batu yakni tujuh batu di Jamarat Aqabah pada hari pertama (Jumat), kemudian dilanjutkan dengan melontar masing-masing tujuh batu di ketiga jamarat selama dua hari berturut-turut setelah itu (7x3x2).

Sementara itu yang melakukan ritual panjang (Nafar Sani), melontar 70 batu, masing-masing tujuh batu dilontarkan di Jamarat Aqabah pada hari pertama dan tujuh batu di ketiga jamarat selama tiga hari (7x3x3).

Melontar jamrah merupakan ritual wajib haji (harus dilakukan, jika tidak harus membayar denda atau dam), mengingatkan peristiwa ketika Nabi Ibrahim digoda setan untuk membangkang dari perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail.

Melontar jamrah dari tahun ke tahun lebih aman dan nyaman karena kini jemaah tidak perlu berdesak-desakan lagi dengan telah dibangunnya lima tingkat jembatan jamarat.

Jemaah menuju jamarat dari sejumlah jalan akses yang lebar-lebar dan searah antara yang masuk dan keluar, juga bisa melakukan jamrah dari masing-masing di kelima jembatan jamarat yang bertingkat lima.

Di tingkat lima, jemaah dengan leluasa melontar jamrah, walaupun di siang hari harus menahan sengatan matahari, karena tidak beratap, berbeda dari keempat jamarat di tingkat bawah yang terlindung sengatan matahari dari jembatan di atasnya.

Di Masjidil Haram, jemaah melakukan ritual wajib ibadah haji lainnya yakni Tawaf (mengitari Kabah tujuh kali) dan Sai (lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah).

Jemaah seusai melontar jamrah di Mina sebagian besar langsung menuju Masjidil Haram, sebaliknya jemaah yang sudah merampungkan Tawaf atau Sai di Masjidil Haram bergeser ke Mina untuk melontar jamrah.



Masjidil Haram, membludak

Kepadatan manusia di Masjidil Haram sampai saat berita ini diturunkan (Minggu pagi waktu setempat) juga luar biasa.

Hampir tidak ada ruang kosong yang tidak terisi lautan manusia di sekitar kawasan Masjidil Haram - mesjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW yang sudah direnovasi dan diperluas beberapa kali - sehingga kini mampu menampung sampai satu juta jemaah tersebut.

Diperlukan kekuatan fisik dan juga tekad untuk melakukan Tawaf, karena jangankan untuk mampu mencium Hajar Aswad atau mendekati Kabah, melakukan Tawaf di lingkar terjauh dari Kabah saja sangat sulit.

Selain karena kepadatan arus manusia, jemaah yang salat, berdoa atau berzikir di tengah lokasi tawaf juga menghalangi arus pusaran jemaah yang sedang bertawaf.

Memang ada petugas berseragam yang membubarkan kelompok jemaah yang salat atau berzikir dalam posisi bersimpuh, bersujud atau bersila, namun ketika dibubarkan, datang lagi kelompok lain yang melakukan hal sama.

Jemaah bisa juga melakukan tawaf di lantai dua Masjidil Haram yang diteduhi atap mesjid, namun jaraknya lebih jauh, yakni sekitar satu kilometer. Di lantai dua ini, relatif masih ada ruang gerak, walaupun terjadi juga desak-desakan di titik akhir dan awal perhitungan tawaf yakni di garis sejajar dengan Hajar Aswad.

Hal itu terjadi karena di titik ini jemaah berhenti untuk berdoa, baik yang akan memulai atau mengakhiri tawaf atau yang akan mengakhiri tawaf keluar dari formasi, sehingga menghalangi gerakan jemaah yang sedang bertawaf.

Masih ada juga lantai tiga yang berjarak sama untuk tawaf, tetapi ruang ini terbuka tanpa atap, sehingga di bawah sengatan matahari, akan sangat melelahkan walaupun dari sisi kepadatan, di tingkat tiga agak lebih longgar.

Begitu pula dengan ritual sai (berjalan dan lari-lari kecil tujuh kali antara Bukit Safa dan Marwah, (sekitar 400 meter), kepadatan manusia terus meningkat dai hari ke hari.

Pertengkaran sering terjadi akibat ulah para pengojek kursi roda yang berusaha "ngebut" untuk "mengejar setoran", sradak-sruduk sehingga sering terjadi pertengkaran saat ada jemaah yang terserempet.

Kota Mekah selain dipenuhi sekitar tiga juta umat Islam sedunia yang sedang menunaikan ibadah haji, juga dimeriahkan oleh warga dan pemukim yang mendirikan tenda-tenda di ruang-ruang publik di seputar kota.

Sebenarnya pemerintah Arab Saudi sebelumnya telah menyerukan agar kebiasaan buruk warga menempati ruang-ruang publik pada musim haji ditinggalkan, namun ternyata seruan itu tidak digubris.

Sampai pagi ini mereka belum beranjak dari kemah-kemah, kecuali yang hanya menggelar tikar atau karpet, karena sengatan panasnya matahari telah mulai terasa.

Di kawasan Azizia, dekat Mina, tenda-tenda kecil tersebut tampak didominasi oleh pemukim asal Madura. Tampak mereka, selain sebagian ikut melakukan ritual haji, ada juga yang sekadar memanfaatkan suasana untuk reuni antar keluarga, dengan kerabat atau kenalan.

Ada juga yang memanfaatkan kedatangan jutaan jemaah untuk menambah penghasilan mereka dengan berjualan makanan khas Indonesia seperti bakso, gado-gado atau nasi rames, bahkan ada juga yang menawarkan layanan pijat.

Tidak diketahui di mana mereka harus mandi atau buang hajat selama dua atau tiga hari berdiam di kemah-kemah, karena walaupun ada, fasilitas MCK umum sangat terbatas, itu pun cukup jauh jaraknya, bisa sampai atau atau dua kilometer dari lokasi perkemahan.
(*)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2009

Komentar Pembaca
Baca Juga