Kamis, 18 Desember 2014

Kejadian Kanker Payudara Masih Tertinggi

| 12.081 Views
id kanker payudara
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan jenis penyakit kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia masih kanker payudara dan kanker leher rahim.

"Berdasar data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2007, kejadian kanker payudara sebanyak 8.227 kasus atau 16,85 persen dan kanker leher rahim 5.786 kasus atau 11,78 persen," katanya di Jakarta, Kamis.

Menurut Tjandra, angka kejadian kanker payudara cenderung menurun. Tahun 2006 , kejadian kanker payudara sebanyak 8.327 kasus atau 19,64 persen dari seluruh kejadian kanker.

Namun kejadian kanker leher rahim sebaliknya, meningkat dari jumlah kasus pada 2006 yang hanya sebanyak 4.696 kasus atau 11,07 persen.

Sedangkan kasus kanker tertinggi pada laki-laki, kata dia, kanker bronkus dan paru dengan jumlah kasus menurut SIRS 2007 sebanyak 2.847 kasus (5,8 persen).

Prevalensi kejadian tumor/kanker di Indonesia sendiri, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007, sebesar 4,3 per 1000 penduduk.

Tjandra menjelaskan, sejak Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Kementerian Kesehatan dibentuk pada 2006, pengendalian kanker dilaksanakan secara terpadu.

Upaya pengendalian kanker, menurut dia, dilakukan melalui pencegahan faktor risiko, deteksi dini, surveilans epidemilogi, dan penyebaran informasi.

"Saat ini program pengendalian kanker diutamakan pada kanker tertinggi yaitu kanker leher rahim dan payudara dengan pembentukan pilot proyek(proyek percontohan, red) deteksi dini," katanya.

Proyek percontohan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim, kata dia, antara lain dibentuk di kabupaten Kebumen, Pekalongan, dan Wonoosbo di Jawa Tengah.

Di Jawa Timur, lanjut dia, proyek percontohan deteksi dini kanker payudara dan leher rahim ada di Gresik, Trenggalek, Kota Malang, dan Kota Kediri.

Proyek serupa juga ada di Kabupaten Karawang di Jawa Barat, Kabupaten Gunung Kidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan dan Kabupaten Deli Serdang di Sumatera Utara.

"Dalam proyek yang tengah berjalan di 11 kabupaten/kota itu deteksi dini kanker dilakukan menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat atau IVA dan `Clinical Breast Examination` atau CBE," katanya.

Ia menambahkan, beberapa lembaga swadaya masyarakat juga melakukan kegiatan serupa di Tasikmalaya (Jawa Barat), Bali, DKI Jakarta, Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Manado (Sulawesi Utara), Medan (Sumatera Utara), dan Jawa Timur.

Kementerian Kesehatan, kata dia, menargetkan 25 persen kabupaten/kota di Indonesia sudah melaksanakan deteksi dini kanker leher rahim dengan IVA dan kanker payudara dengan CBE tahun 2014.

"Program deteksi dini kanker leher rahim dan payudara ditargetkan dapat menjangkau 80 persen perempuan usia 30-50 tahun," katanya.

Selain mengembangkan program deteksi dini, kata dia, pemerintah juga melakukan upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

Upaya pencegahan primer dilakukan dengan promosi, edukasi pola hidup sehat dan pencegahan faktor risiko kanker serta pengkajian dan pengembangan vaksin.

"Pencegahan sekunder dilakukan dengan deteksi dini dan pengobatan segera. Pencegahan tersier dengan pengobatan komprehensif dan perawatan paliatif," katanya.

Menurut dia, upaya pengendalian penyakit kanker saat ini masih terkendala beberapa hal termasuk persepsi masyarakat yang tidak benar tentang kanker dan kurangnya komitmen pemerintah daerah untuk menanggulangi penyakit tersebut.

Pemerintah, kata dia, berusaha menghilangkan kendala itu dengan meningkatkan kampanye dan advokasi sambil terus mengupayakan penurunan kasus melalui deteksi dini kanker.
(M035/B010)

Editor: Bambang

COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga