Minggu, 21 September 2014

Efek Domino Krisis Utang Yunani

Jumat, 19 Februari 2010 17:22 WIB | 9.929 Views
krisis yunani (reuters)
Jakarta (ANTARA News) - Berapa jauh Athena ke Amerika, dan negara-negara mana saja yang ada di rute ini? Kedengaran seperti pertanyaan geografis saja, tapi itulah yang ditanyakan para investor manakala krisis utang Yunani memercikkan kekhawatiran global mengenai keamanan utang negara atau pemerintah (sovereign debt).

Sejauh ini Portugal, Irlandia dan Spanyol, serta sejumlah negara berdefisit tinggi di zona Euro, dianggap berada di jajaran korban berikutnya.

Di negara-negara superkaya, "yield" obligasi pemerintah itu tergolong stabil dan jauh di bawah rata-rata obligasi bertenor jangka panjang.

Tetapi hebohnya sudah kemana-mana. Biaya penjaminan surat utang negara yang gagal bayar, telah naik tajam di 47 dari 50 negara di mana instrumen utang jenis ini digunakan.

Selisih (spread) swap surat utang negara yang gagal bayar milik Dubai saja melesat ke tingkat tertingginya, tepat setahun terakhir di pekan ini, di tengah keprihatinan terhadap mengetatnya syarat-syarat restrukturisasi utang oleh konglomerasi yang dikuasai negara itu.

"Ada komentar yang semakin melengking terdengar bahwa Yunani adalah awal dari sebuah masalah yang jauh lebih besar. Krisis Yunani sedang menuju Amerika," begitu judul berita utama Financial Times yang juga artikel tulisan Niall Ferguson, sejarawan ekonomi keuangan.

Taruhannya besar. Kepercayaan yang tiba-tiba hilang terhadap semua surat utang negara, terutama obligasi Treasury milik Amerika, yang menjadi benchmark (patokan) dunia untuk asset bebas risiko, akan menciptakan malapetaka di negara yang masih rentan dan perlu lebih pulih lagi ini.

Sejurusan dengan itu, ketakutan berlebihan terhadap risiko obligasi pemerintah akan mendorong pemerintah-pemerintah seluruh dunia untuk mencermati kebijakan fiskalnya, yang lalu bakal menekan ekonomi dunia ke resesi lagi.

Dalam soal ini, baik argumen yang pesimistis maupun yang optimistis tidak boleh diabaikan.

Para pesimis fiskal menunjuk pengalaman masa lalu dan aritmetika utang pemerintah untuk membuktikan bahwa krisis surat utang negara akan meluber jauh ke luar Yunani.

Dari pengalaman sejarah, seperti didokumentasikan oleh studi magisterial mengenai krisis keuangan dari Carmen Reinhart dan Ken Rogoff, utang pemerintah cenderung membludak setelah krisis keuangan terjadi, naik rata-rata 86 persen dari angka rilnya. Kemudian, gagal bayar surat-surat utang acap mengikuti kecenderungan itu.

Argumentasi aritmetis dari kaum pesimis sama menekannya.

Prinsipnya tidak ada negara kaya yang posisi utangnya "kokoh", dalam pengertian sempit bahwa tidak ada satupun negara yang benar-benar mengetatkan anggarannya atau dengan cukup cepat menghentikan peningkatan beban utangnya.

Pihak yang paling rentan mengalami hal ini adalah negara-negara zona euro yang kekuatan ekonominya pinggiran, tetapi Inggris dan Amerika juga bakal kena.

Yunani menonjol dalam hal skala utang sahamnya, skala defisit anggarannya dan suramnya prospek pertumbuhan ekonominya, karena tingginya beban ekonomi domestiknya dan ketidakmampuannya mendevaluasi mata uang.

Kekhawatiran mengenai di mana pertumbuhan itu akan bermula, adalah alasan utama dibalik ketakutan-ketakutan itu dan sejauh ini terfokus ke anggota zona euro lainnya yang lemah (kendati Spanyol memberi penawaran menarik dengan menjual obligasi bertenor 15 tahun pada 17 Februari).

Amerika dan Inggris, yang memiliki mata uangnya sendiri, berada di posisi lain, tetapi kedua negara itu tidak kebal dari kekhawatiran terhadap dinamika pertumbuhan dan utang.

Pada 18 Februari, Inggris melaporkan defisit perdagangannya selama Januari. Kaum pesimis juga kecewa pada curamnya skala utang pemerintah Amerika, dan terutama, peran China dalam pendanaannya.

Berita bahwa permintaan asing terhadap "Treasury Bond" (surat utang pemerintah AS) jatuh tajam pada Desember 2009 dan bahwa Beijinglah yang menjadi pelego besarnya, telah membangkitkan keprihatian para pesimis.

Omong kosong!, sergah kubu optimis, yang diantara anggotanya adalah Paul Krugman, kolumnis terkemuka New York Times.

Menurut pandangan mereka, sesiapa yang takut pada kenaikan tiba-tiba risiko surat utang negara, khususnya Amerika, telah salah mengartikan kokohnya obligasi negara dan menyepelekan peran Treasury Bond sebagai tempat paling aman menyimpan modal.

"Yield" obligasi pemerintah itu rendah, karena permintaan modal dari swasta lagi lemah. Ini karena warga Anglo-Saxon (Inggris dan Amerika) sedang memperbaiki posisi tabungannya dan menarik investasinya.

Dari pandangan ini, Amerika dan Inggris terlihat lebih layak dibandingkan dengan Jepang, daripada dengan Yunani.

Utang pemerintah Jepang hampir mencapai 200 persen dari PDB-nya, dengan acuan nilai kotor meningkat perlahan dalam dua dekade ini semenjak krisis ledakan asset.

Itu jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan Amerika dan Inggris sendiri. Kendati beberapa kali skalanya menurun, Jepang tidak pernah didera krisis utang.

Adalah benar bahwa Jepang, sebagai negara kreditor besar, bisa mengandalkan tabungan domestiknya, sementara AS menggantungkan diri pada investasi asing.

Tetapi skala krisis keuangan di dunia kaya di mana posisi tabungan lebih besar dibandingkan investasi, berarti perbedaan itu terlalu mencolok.

Lebih dari itu, para investor tetap bisa terbang ke --bukan dari-- asset Amerika manakala mereka mengkhawatirkan risiko.

Kurs dolar AS naik sampai 4,8 persen terhadap euro sejak awal tahun ini.

Investor-investor yang ada di utang Amerika, seperti China, tak memiliki alasan untuk menurunkan nilai bunga utangnya jika mereka melego asset-assetnya.

Jika Yunani menularkan sentimen kepada investor untuk secepatnya berubah dan sejarah ekonomi Jepang justru memperlihatkan negeri ini tidak menghendakinya, di manakah surat utang pemerintah lainnya berpijak?

Sebegitu jauh, "yield" rendah telah menguatkan semua pandangan optimistis, kecuali negara-negara yang berada di tepi zona euro.

Tetapi ada tiga alasan untuk percaya bahwa hal itu bakal berubah.

Pertama, tergantung pada kekuatan perekonomian berkembang. Reorientasi berkala dari perekonomian mereka ke belanja domestik akan secara perlahan megurangi suplai tabungan global, sekalipun pertumbuhan ekonomi negara kaya tetap lemah. Hal-hal lain bakal seimbang dan menekan beban modal. Di saat sama, pertumbuhan yang cepat, berarti rasio surat utang milik negara-negara berperekonomian bertumbuh yang jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan negara kaya, bakal jatuh. Benar, negara-negara kaya bisa mengandalkan posisi pembayaran yang jauh lebih tinggi. Selama 50 tahun terakhir gagal bayarnya obligasi pemerintah, hanya terbatas di dunia berkembang. Namun definisi simpanan yang aman, akan bergeser ke Brazil, dan pasti itu melukai Amerika dan Inggris.

Kedua, masalah utang di negara-negara ekonomi kaya terkendali baik dari dampak-dampak temporer krisis. Ini berkat populasi penduduk tua dan melonjaknya beban kesehatan dan pensiun yang membuat rasio utang Amerika akan tetap meningkat di sedekade ini. Para investor telah dirugikan oleh kerusakan struktural ini. Ketidakpedulian tersembul manakala titik awalnya adalah utang yang jauh lebih besar.

Ketiga, naiknya suku bunga yang mestinya bersambungan secara alami dengan pemulihan ekonomi dan permintaan investasi yang meningkat, akan dengan sendirinya mendorong naiknya risiko premium obligasi pemerintah, khususnya di Amerika. Rata-rata kestabilan utang pemerintah adalah kurang dari lima tahun, sehingga "yield" yang lebih tinggi dialihkan secara relatif dan cepat ke pembayaran bunga yang lebih besar, sehingga memprihatinkan posisi fiskal. Richard Berner dari Morgan Stanley memperkirakan "yield" obligasi bertenor 10 tahun akan mencapai 5,5 persen sampai Desember nanti, naik dari posisi sekarang 3,7 persen.

Tak satupun dari kemungkinan-kemungkinan ini menunjukkan bahwa Amerika atau Inggris berada dalam risiko terkena krisis utang, dalam arti "yield" obligasi melonjak, begitu investor tiba-tiba hengkang.

Namun itu semua juga menunjukkan bahwa kenaikan "yield" yang lebih besar dibandingkan perkiraan semula dan kekhawatiran berikutnya terhadap posisi utang negara-negara itu, adalah mungkin terjadi.

Hal itu semua menuntut perencanaan jangka menengah yang kredibel dalam bagaimana defisit dipangkas. Dalam kata lain, masalah Yunani bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. (*)

Sumber: The Economist/Jafar Sidik

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga