Selasa, 23 September 2014

Kapoltabes Denpasar Akui Terjadi Perusakan Ogoh-ogoh

Senin, 15 Maret 2010 06:02 WIB | 4.054 Views
Ogoh-ogoh/ilustrasi. (ANTARA/Ahmad Subaidi)
Denpasar (ANTARA News) - Kepala Kepolisian Kota Besar Denpasar Komisaris Besar Polisi Gde Alit Widana mengakui terjadinya perusakan ogoh-ogoh yang disiapkan untuk diarak saat malam "pengerupukan", Senin (15/3) atau menjelang memasuki Hari Raya Nyepi.

Perusakan ogoh-ogoh oleh pihak yang tidak bertanggung jawab itu seperti terjadi di wilayah Desa Adat Pemecutan Kaja dan Banjar Wangaya Kelod, kata Kapoltabes di Denpasar, Minggu.

Selain itu, katanya, juga sudah masuk informasi adanya pembagian uang oleh oknum kepada sekaa atau kelompok teruna untuk digunakan membeli minuman beralkolhol yang akan dikonsumsi saat mengarak ogoh-ogoh.

Malam pengerupukan saat menjelang memasuki Hari Raya Nyepi, diwarnai arak-arakan ogoh-ogoh yang umumnya berupa patung raksasa sebagai manifestasi sifat jahat, yang dikalahkan oleh kebaikan.

Menurut Kapoltabes, pembagian uang untuk tujuan mabuk-mabukan itu terindikasi terjadi di wilayah Penatih. Bila sudah ada bukti lengkap, maka pihaknya akan mengambil tindakan tegas. "Siapapun yang melakukan perusakan atau berbuat kerusuhan saat malam `pengerupukan` dan selama pelaksanaan Nyepi, akan kami tindak," ujarnya.

Agar semuanya berjalan lancar, Kombes Alit Widana mengharapkan partisipasi masyarakat, terutama penglingsir (sesepuh) banjar, untuk ikut menjaga ketertiban dan keamanan selama pelaksanaan malam pengerupukan menyambut datangnya tahun baru Saka 1932 itu.

Ia juga menekankan agar pelaksanaan malam pengerupukan berjalan dengan tertib dan aman, masing-masing pengusung ogoh-ogoh tidak mengonsumsi minuman beralkohol, termasuk arak, selain tidak menyulut petasan dan sejenisnya.

Diingatkan agar dalam mengarak ogoh-ogoh dilakukan dengan hati yang damai. "Jangan sampai ada kepentingan pribadi ataupun kelompok yang berdampak pada ternodanya pelaksanaan pengerupukan," tambahnya.

Setiap kelompok pemuda (sekaa teruna) dari masing-masing banjar pekraman atau dusun adat di Bali, hampir selalu menyiapkan dan mengarak ogoh-ogoh saat malam menjelang Nyepi. Ritual itu sekaligus sebagai kekayaan budaya yang dilestarikan.

Sementara Jero Bendesa Desa Pakraman (ketua adat) Denpasar AA Putu Suwetja meminta para penglingsir masing-masing banjar mendampingi sekaa teruna saat mengarak agoh-ogoh, sehingga pawai bisa berjalan dengan aman dan tertib.

Ogoh-ogoh, katanya, merupakan keunikan perayaan Nyepi dan mampu menjadi daya tarik wisata. "Keamanan dan ketertiban pawai ogoh-ogoh menjadi kewajiban dan tanggung jawab semua pihak," tegasnya.

AA Suwetja juga mengingatkan semua pihak agar benar-benar melaksanakan pawai ogoh-ogoh dengan baik, tanpa harus ditunggangi kepentingan politik. "Apalagi dalam waktu dekat berlangsung pemilihan kepala daerah di Denpasar dan empat kabupaten. Jangan sampai mengorbankan nilai-nilai Catur Brata Penyepian," tuturnya.

Catur Brata Penyepian adalah empat hal yang dilarang saat Nyepi, yakni tidak menyalakan api/lampu penerang, tidak bekerja, bepergian dan tidak bersenang-senang atau mengumbar hawa nafsu. (T007/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga