Senin, 20 Oktober 2014

NTB Budayakan Masyarakat Bervisi Wisata

| 1.841 Views
id ntb,visi wisata,masyarakat ntb, wisata ntb
NTB Budayakan Masyarakat Bervisi Wisata
Gubernur NTB, KH. M. Zainul Majdi. (ANTARA)
Mataram (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus berupaya membudayakan masyarakat bervisi wisata agar dapat menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB Lalu Gita Aryadi, di Mataram, Jumat, mengatakan, untuk membudayakan masyarakat bervisi visata diperlukan kerjasama berbagai pihak.

Karena itu, Gubernur NTB KH. M. Zainul Majdi, beserta jajarannya terus meningkatkan koordinasi dengan berbagai kabupaten/kota untuk mengimplementasikan pola pengembangan pariwisata berbasis masyarakat bervisi wisata itu.

"Harus ada kesamaan pandangan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta pelaku wisata dan masyarakat pendukungnya jika ingin meraih kesuksesan dalam pengembangan potensi wisata," ujarnya.

Aryadi mengatakan, masyarakat bervisi wisata sangat diperlukan untuk mengembangkan potensi pariwisata karena akan terkesan mubazir jika berbagai komponen masyarakat tidak mendukungnya.

Potensi wisata di wilayah NTB tidak berbeda jauh dengan potensi yang dimiliki daerah yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan, seperti Provinsi Bali.

Namun, kemajuan wisata di Pulau Dewata itu jauh melebihi NTB yang antara lain disebabkan oleh perilaku masyarakat yang belum bervisi wisata.

"Insan pers juga harus membantu membudayakan masyarakat bervisi wisata. Bali bisa sangat maju di bidang pariwisata karena masyarakatnya sangat mendukung, itu yang harus kita lakukan di NTB," ujarnya.

Bahkan, Aryadi berniat mengajak pengelola media massa, terutama televisi untuk berinvestasi di bidang pariwisata NTB agar ikut "mengamankan" berbagai kebijakan pengembangan sektor pariwisata.

Selain itu, tambah Aryadi, pemerintah dan masyarakat di wilayah NTB juga harus gencar mempromosikan potensi wisata yang dimiliki baik berbentuk obyek wisata maupun wisata budaya.

Khusus untuk wisata budaya, dia mengakui, sejauh ini belum terpromosi secara optimal sehingga harus makin gencar agar dapat menggugah para wisatawan.


Kalender Pariwisata

Aryadi mengatakan, NTB sudah memiliki kalender pariwisata tahunan sejak Januari hingga Desember, yang dimulai dengan Festival Kesenian Tradisional Mbojo di Bima, Pulau Sumbawa, yang biasanya digelar akhir Januari atau awal Pebruari.

Kegiatan pariwisata tahunan di bulan Pebruari hingga Maret yakni Bau Nyale di Desa Kuta dan Seger di Kabupaten Lombok Tengah dan Desa Kaliantan dan Jerowaru di Kabupaten Lombok Timur. Bau Nyale adalah kejadian alam yakni pemunculan cacing laut yang dikaitkan dengan budaya.

Kegiatan pariwisata lainnya di bulan Maret yakni Pawai Ogoh-ogoh menyongsong Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu di NTB, Barapan Kerbau di Sumbawa Besar menyambut datangnya musim tanam padi dan Rebo Bontong (mandi Sapar) di Desa Keranji, Labuapi, Lombok Barat, oleh masyarakat desa pada sumur yang dikeramatkan.

Kalender pariwisata di bulan April berupa Malean Sampi (kesenian parade sapi berlari) setelah musim panen dan menjelang musim tanam berikutnya di Lombok Barat, Festival Gendang Beleq untuk menyambut tamu yang datang ke Pulau Lombok dan Pacuan Kuda Tradisional di Pulau Sumbawa.

Kegiatan pariwisata di bulan Mei yakni peringatan Maulid Nabi yang biasanya digelar selama sebulan secara berpindah-pindah dari masjid ke masjid.

Kegiatan di bulan Juni berupa Berampok atau tradisi masyarakat Sumbawa Barat yang saling memukul menggunakan ikatan padi sebagai ungkapan rasa kegembiraan atas hasil panen, dan Lomba Dansa Internasional yang dilaksanakan di pulau Lombok untuk menggaet wisatawan.

Kalender pariwisata di bulan Juli berupa Festival Senggigi (atraksi seni dan budaya tradisional suku Sasak), NTB Expo untuk promosikan hasil bumi ndan Festival Seni Pelajar untuk melestarikan seni budaya di kalangan pelajar.

Kegiatan di bulan Agustus berupa Apresiasi Budaya tradisional Sasak (Lombok) dan Mbojo (Sumbawa), Lomba Surfing (Surfing Competition) di Dompu dan Sumbawa, Pacuan Kuda Tradisional di Bima, Paresean (atraksi kejantanan lelaki Sasak dalam sebuah pertarungan dengan senjata tradisional), lomba Cidomo tradisional dan Begangsingan (permainan rakyat saat panen di sawah).

Kegiatan pariwisata Sail Indonesia di bulan September, Lebaran Topat dan Lombok Triathlon (lari maraton).

"Di bulan Oktober beru Mulang Pakelem (pemberian sesaji kepada para dewan oleh umat Hindu) dan Perang Topat (lempar ketupat), sementara Pacuan Kuda Tradisional di Bima dan U`a Pua (upacara penghormatan kesultanan Bima kepada guru ngajinya) digelar di bulan Desember," ujar Aryadi. (Ant/K004)

COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga