Jumat, 24 Oktober 2014

Din: Peredaran Video Mesum Konsekuensi Logis Modernisasi

| 3.301 Views
id video mesum, muhammadiyah, din syamsuddin
Din: Peredaran Video Mesum Konsekuensi Logis Modernisasi
Surabaya (ANTARA News) - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin berpendapat bahwa maraknya peredaran video mesum merupakan bagian dari konsekuensi logis dari modernisasi.

"Kejadian itu sudah menjadi konsekuensi logis dari globalisasi, modernisasi, dan liberalisasi budaya di Indonesia," katanya di Surabaya, Selasa.

Menurut dia, fenomena itu dipastikan akan terus- menerus bermunculan di Indonesia. Bahkan, tidak hanya menimpa artis dan tokoh terkenal lainnya, melainkan juga masyarakat umum.

Dia mendesak pemerintah tidak tinggal diam atas maraknya rekaman adegan mesum yang beredar di masyarakat luas.

"Ini menjadi tanggung jawab penuh negara melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk melakukan pengawasan," katanya usai menjadi pembicara dalam acara Harlah Ke-50 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu.

Namun dia menyayangkan negara selama ini merasa tidak cukup punya kewenangan dengan dalih diserahkan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Ia juga mengimbau seluruh umat Islam di Indonesia untuk membentengi diri dari budaya barat yang menganut perilaku seks bebas.

"Sehingga budaya apa pun yang akan datang tidak akan mempan untuk menggoyahkan iman seseorang," kata Din menambahkan.

Terkait maraknya peredaran adegan mesum yang dilakukan kalangan selebriti, dia mengaku prihatin. Bahkan, dia melarang anak-anaknya menonton adegan tersebut.

"Silahkan saja film mesum itu dimunculkan, tetapi saya tidak tertarik melihatnya. Daya tahan dengan membentengi iman harus dibentuk sebagai watak generasi bangsa," imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menambahkan, masyarakat bisa memilah informasi apa pun yang beredar saat ini.

"Ini era keterbukaan, kalau semuanya dimakan mentah-mentah tentu akan berbahaya," kata mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor.(*)
(T.M038/R009))

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga