Sabtu, 1 November 2014

Panser Jerman, Agresivitas dan Cinta

| 2.153 Views
id timnas jerman
Panser Jerman, Agresivitas dan Cinta
Jakarta (ANTARA News) - Empat gol tanpa balas yang dijaringkan para serdadu Jerman ke jantung jala gawang punggawa Australia kontan diamini oleh penggila bola di kolong langit dengan kredo "menyeramkan, mengerikan bahkan menciutkan nyali setiap lawan". Satu kata: serang!

Panser Jerman siap merangsek dengan melontarkan satu demi satu amunisi untuk membombardir siapa pun seteru. Sampai lawan bertekuk lutut, sampai lawan berujar, "Ya, kami menyerah kalah". Kalau tugas serdadu melumatkan seteru, maka skuad Jerman meruntuhkan keberadaan skuad nasional mana pun.

"Aku berpikir, maka aku ada," kata filsuf Descartes. "Aku mencinta dan membenci, maka aku ada," kata filsuf Empedokles "Aku mencinta, maka aku ada," kata Dewi Amor. "Aku melumatkan lawan, maka aku ada," kata Die Nationalmannschaft.

Dari antara mereka, siapa yang dapat mewujudkan cinta sampai sepenuh-penuhnya? Jawabnya, "aku mencinta dengan segenap hati dan segenap jiwa dan segenap akal budi." Dan skuad Jerman di bawah pelatih Joachim Loew mengusung dua kata: agresivitas dan cinta.

Saksikan bagaimana kapten Philipp Lahm bersama sohib satu tim membuat pontang-panting Socceroos. Kerjasama antar lini dari Mesut Oezil, Thomas Mueller, serta Lukas Podolski begitu mengalir untuk meneror lawan. Yang ada di sanubari pasukan Loew tekad membaja untuk terus maju dan maju.

Apa rahasianya sampai Der Panzer begitu digdaya? Jawabnya, tinta emas sukses memantik semangat dan menaikkan adrenalin pasukan muda Jerman. Tiga kali menyabet trofi Piala Dunia pada 1954, 1974, 1990, dan tampil tujuh kali di laga final - lima di antaranya saat masih Jerman Barat- dan sejak Piala Dunia 1982 tidak pernah luput melaju hingga babak perempat final. Skuad Loew hidup pada masa sekarang, bertumpu pada masa lampau dan menuju masa depan.

Ramai-ramai juru taktik sepak bola berskala global merumuskan formula bahwa tim besutan Panser Jerman menggenggam kultur disiplin kokoh, mencermati rincian setiap permainan dan menyuburkan percaya diri. Nilai-nilai ini bersumber dari agresivitas. Ya, agresivitas.

Podolski, Miroslav Klose, Thomas Mueller dan Cacau menanam, menyemai dan memanen dua kata dasar dari setiap laga, siapa kawan, siapa lawan. Belum lagi dinamisme lapangan tengah yang dimotori Sami Khedira dan Mesut Ozil. Keempatnya mengingat betul kehebatan Franz Beckenbauer, Gerd Mueller, Andreas Brehme, dan Lothar Matthaeus untuk meraih cinta dan memerankan agresivitas.

Pasukan muda Jerman mencetak gol karena keempatnya menerapkan agresivitas. Bukankah dalam cinta dan persahabatan tersimpan agresivitas? Yang muda, punya agresivitas dan punya cinta. Alhasil, serang secara beruntun, alirkan bola secara cepat, dan kurunglah lawan agar tidak berkutik.

"Dengan Ballack absen, saya harus mencari dan menemukan solusi. Untungnya, saya punya segudang pemain muda sarat talenta," kata Loew. "Dengan keberadaan Sami Khedira, kami berharap posisi Ballack tergantikan. Ballack berperan penting dan punya segudang pengalaman," katanya.

Dengan berbekal agresivitas dan cinta, Loew merumuskan bahwa masa depan Panser Jerman meletak kepada tenaga muda sarat semangat. Ini lantaran, dibutuhkan serangan balik cepat dengan daya jelajah ekstra tinggi ke semua lini pertahanan lawan.

"Ozil tak pernah lamban, selalu ingin bergegas. Kerapkali ia menginspirasi kami untuk masuk membuka pertahanan lawan. Sepak bola offensif menuntut penguasaan lapangan. Ini memerlukan latihan terus menerus," katanya. Loew mengirim sinyal bahaya kepada Serbia yang lebih dulu dikalahkan 0-1 oleh Ghana. Jerman akan meladeni Serbia di Port Elizabeth pada Jumat (18/6).

Agresivitas plus cinta menyinari Klose yang telah mencetak 49 gol dalam 97 penampilan. "Saya tidak akan pernah ragu. Saya paham betul kekuatan diri sendiri," katanya.

Menghadapi Serbia, Loew akan menerapkan pola berbeda saat mereka bertemu Australia. "Laga pertama membuat kami relatif tertekan. Saya berharap penampilan kami berkembang ketika berhadapan dengan Serbia. Tentunya setiap laga punya denyut drama sendiri-sendiri. Kami akan menyambutnya dengan kegembiraan dan kepercayaan diri penuh untuk menopang setiap langkah," kata Loew.

Formula skuad Panser mengombinasikan agresivitas dan cinta dengan menghidupi kegembiraan dan kepercayaan diri terus menerus. Meski ada komentar miring dari media Inggris, The Sun yang mewartakan bahwa skuad Jerman diuntungkan oleh Jabulani, bola resmi Piala Dunia (PD) 2010. Skuad asuhan Loew telah lebih dulu berlatih dengan Jabulani selama lima bulan.

Bahkan Jabulani yang dibuat oleh Adidas yang berbasis di Jerman, sudah digunakan di Bundesliga sejak Februari. Pemain belakang Inggris menganggap Jerman mendapat keuntungan karena mereka sudah menggunakan Jabulani. Sementara tim lain hanya mampu menang dengan 1-0 atau 2-0.

Sebelum PD berlangsung Jabulani sudah menuai kritikan dari para pemain seperti kiper Spanyol Iker Casillas dan gelandang Inggris Joe Cole. Setelah menyaksikan kemenangan besar Jerman atas Australia, Carragher berpendapat Jerman mendapat keuntungan karena terbiasa menggunakan Jabulani.

"Itu memberi keuntungan bagi mereka, itu benar. Bola itu tidak konsisten anda tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Semua tim merasa kesulitan kecuali Jerman," kata pemain Liverpool itu.

Para pengkritik skuad Panser mengabaikan agresivitas plus cinta sebagai kekhasan manusia. Tanpa agresivitas tidak ada cinta, tidak ada persahabatan. Baik agresivitas maupun cinta dalam diri manusia tampil sebagai kekuatan menyeramkan bahkan menakutkan (kekuatan demonik), meminjam istilah pemikir sosial Ignacio Ellacuria.

Kredo Skuad Panser: agresivitas plus cinta. Ada kawan, ada lawan. Siapa korban berikutnya?
(A024/A020)

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga